Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Tuhan Dalam Diam

Misbahul Munir S • Senin, 3 April 2023 | 10:44 WIB
Moch. Riza Fahmi, Penulis adalah Dewan Pembina Dompet Ummat Kalbar dan Dosen IAIN Pontianak.
Moch. Riza Fahmi, Penulis adalah Dewan Pembina Dompet Ummat Kalbar dan Dosen IAIN Pontianak.
Oleh: Moch. Riza Fahmi*

MEISTER Eckhart berkata, ”Tak ada sesuatu yang lebih menyerupai Tuhan selain diam”. Puasa Ramadhan mengajarkan kita tidak sekadar menahan makan dan minum namun juga menahan diri dari berkata kasar yang menyakitkan perasaan orang lain. Diam adalah cara terbaik untuk menghentikan perkataan-perkataan yang buruk seperti ghibah, menjelekkan dan membuka aib orang lain. Diam dalam berpuasa juga mengajak kita agar merasakan kehadiran-Nya atau dalam istilah Arabnya tafakkur.

Kita biasa mendengar ungkapan ‘tafakkaru fii kholqillah walaa tafakkaru fii dzatillah’ (pikirkanlah pada karya dan ciptaan-Nya dan jangan pikirkan pada diri atau zat-Nya). Dalam berpikir, kita perlu mendiamkan mulut, imajinasi kotor, dan yang paling berat bagi kita adalah mendiamkan keinginan nafsu syahwat yang terbiasa selama sebelas bulan kita layani sehingga kita menjadi budak hawa nafsu.

Bulan Ramadhan memberikan kesempatan terbaik buat kita guna memahami tujuan hidup kita, memahami rahasia-rahasia diri dan penciptaan. Melalui berpuasa, mulut yang terbiasa makan dan minum semaunya, terhenti sejenak untuk menjalankan perintah-Nya. Tak ada seorang pun yang akan makrifat pada-Nya dalam kondisi perut kenyang dan mulut yang dipenuhi dengan makanan yang diperoleh dengan jalan yang tidak benar.

Rasulullah SAW bersabda, “Tak ada wadah bagi manusia yang lebih buruk seperti perut”. Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa berfirman, “Dan berpuasalah kamu agar mendapatkan kebahagiaan, jika kamu mengetahuinya” (QS. Al-Baqarah: 185). Bagaimana puasa bisa membuat kita bahagia? Apa hubungannya puasa dengan kebahagiaan sehingga Allah SWT berkata demikian? Puasa dalam kelas syariat ialah menahan diri untuk tidak makan, minum, dan berhubungan suami istri (menjaga kemaluan). Puasa dalam kelas tarikat ialah suatu usaha yang dilakukan oleh jiwa agar lisan, tangan, pikiran, imajinasi dan hati menahan diri agar tidak berbuat sesuatu yang akan membuat jiwa jatuh pada kenistaan. Adapun puasa dalam kelas hakikat ialah tidak men’Tuhan’kan hawa nafsu pada diri kecuali Allah SWT.

Kebahagiaan fisik bisa didapatkan seseorang ketika badan atau tubuhnya sehat. Puasa dapat membersihkan tubuh dari racun dan zat-zat yang tidak diperlukan sehingga tubuh menjadi lebih sehat. Ini sesuai dengan perkataan Rasulullah SAW, “puasalah, maka kalian akan sehat”.

Kebahagiaan rohani bisa kita peroleh ketika kita merasa merdeka dan bebas dari tekanan hawa nafsu yang selalu mendorong pada kesenangan sementara.

Rasulullah SAW berkata, “Bagi orang yang berpuasa, ada dua kebahagiaan yang dia rasakan kegembiraannya. Pertama, kebahagiaan ketika berbuka puasa. Kedua, kebahagiaan ketika bertemu dengan Tuhannya.”

Dengan berpuasa, jika kita mau merenung sejenak adalah perjalanan sunyi menuju Ilahi, baik disadari atau tidak disadari, sebab yang menjadi hijab antara Tuhan dan Hambanya adalah hawa nafsu yang ada pada diri ini. Sifat egois, sombong, dan angkuh pada diri kita inilah yang membuat kita takkan pernah merasakan pertemuan dengan Tuhan.

Kebahagiaan pertemuan dengan Tuhan jika kita ibaratkan adalah pertemuan antara dua kekasih yang lama tidak bertemu, terpisah antara jarak dan waktu. Tak cukup kata menggambarkan rasa kerinduan pada sang kekasih karena Dia terlalu indah untuk diwakili kata-kata hingga akhirnya kita terdiam. Inilah kebahagiaan sejati bagi para pesuluk rohani.

Tidak ada seorang manusia pun yang mengetahui kita berpuasa atau tidak kecuali Allah SWT, Tuhan yang maha pengasih. Berbeda dengan salat yang bisa terlihat ketika kita memulai takbir dan mengakhirinya dengan salam, baik secara berjemaah atau sendiri.

“Amalan puasa adalah untukKu dan Aku sendiri yang akan membalasnya,” kata Allah SWT. Hal ini juga menerangkan hikmah pengkhususan, bahwa orang yang berpuasa ketika meninggalkan semua yang disukai oleh hawa nafsunya yang memiliki tabiat (watak, kebiasaan) menyenangi sesuatu yang menjauhkan dirinya dari Allah SWT, bahkan cenderung mendahulukannya dari apapun juga, namun dia justru mengedepankan kecintaannya kepada Rabb-nya di atas kesenangan tersebut. Oleh sebab itulah, Allah ‘Azza wa Jalla mengkhususkan amalan ini untuk diri-Nya dan Dia sendiri yang memberi pahala orang-orang yang berpuasa.

Mengapa kita hidup didunia ini dan apa tujuan Allah SWT menciptakan manusia, akan kita temukan maknanya setelah kita merasakan haus dan lapar di siang hari tak berdaya sehingga kita menyerahkan diri (pasrah atau Islam secara bahasa) pada Zat yang menciptakan kita karena menjalankan perintah-Nya. Dalam puasa kita belajar mendahulukan perintah Allah SWT daripada mengikuti keinginan hawa nafsu yang bersifat temporal (sementara). “Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi  (mengenal akanKu)” firman Allah SWT.

Inilah yang akan membuat kita bisa memaknai puasa dalam kehidupan sehari-hari agar tahu tujuan hidup kita bukan untuk berlama-lama di dunia yang fana ini. Harta tidak akan kita bawa mati. Pangkat/jabatan tidak berarti di hadapan Allah SWT pemilik alam semesta ini. Hawa nafsu yang ada pada diri kita serahkan pada Allah SWT agar dengan hidayahNya kita mampu mengendalikan diri dan menjauhi sifat-sifat keburukan yang menjerumuskan kita dalam kenistaan di dunia dan di akhirat kelak.

Penulis adalah Dewan Pembina Dompet Ummat Kalbar dan Dosen IAIN Pontianak Editor : Misbahul Munir S
#Tuhan #Dalam Diam #hawa nafsu #ghibah