Pengalaman Pertama Menjalani Ramadan di Amerika Serikat
Mungkin, kalau saya tidak mendapatkan kesempatan ini, saya tidak akan pernah tahu rasanya menikmati sahur dan berbuka puasa belasan ribu kilometer jauhnya dari keluarga. Ramadan tanpa suara ibu ataupun gema takbir yang membangunkan di subuh hari, atau sesederhana berbuka dengan nasi dan es teh manis yang kini menjadi menu istimewa.
Oleh: Adinda Aisyah Nindyani, Westfield-Indiana
NAMA saya Adinda Aisyah Nindyani, dan biasa dipanggil Adinda. Saya berasal dari daerah perbatasan antara Indonesia-Malaysia, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Belum genap 16 tahun usia saya saat dinyatakan lolos menjadi awardee Kennedy-Lugar Youth Exchange Study, sebuah program pertukaran pelajar ke Amerika selama 10 bulan untuk siswa/i SMA/sederajat yang dibiayai penuh oleh Departemen Luar Negeri AS.
Selama program berlangsung, saya tinggal bersama host family (keluarga angkat) yang merupakan orang lokal. Saya juga bersekolah di American public school sebagai senior (kelas 12 SMA) di Westfield High School, Westfield, negara bagian Indiana.
Saya dan host family memiliki agama dan kepercayaan yang berbeda. Hampir seluruh teman-teman sekolah juga demikian. Mereka tidak pernah tahu apa itu ‘Ramadan’ sebelumnya dan inilah yang membuat saya menyadari betul akan indahnya toleransi. Perlahan-lahan saya menjelaskan tentang Ramadan, apa saja yang perlu dilakukan dan mengapa sebagai seorang muslim saya harus melakukannya, yang kemudian disambut dengan penuh antusias oleh mereka.
Host family selalu berusaha memastikan saya mendapatkan asupan energi yang cukup untuk sahur dan berbuka dengan membantu mempersiapkan makanan, vitamin, dan lain sebagainya. Sebab, seperti yang kita semua tahu, sebagai minoritas, semarak Ramadan tentu tidak begitu terasa di Amerika.
Saya tetap bersekolah dari pukul 8.35 di pagi hari hingga pukul 4.00 di sore hari, dilanjutkan dengan latihan olahraga sepulang sekolah. Praktis saya baru pulang ke rumah kurang lebih pukul 09.00 malam.
Seringkali saya harus berbuka puasa di tengah latihan dan saya sangat bersyukur karena para pelatih sangat menghargai hal tersebut. Mereka bahkan menyalakan timer sehingga jika saya masih bermain di lapangan dan sudah waktunya untuk berbuka, mereka akan memanggil untuk ke tepi lapangan dan rehat sejenak untuk berbuka puasa.
Saya bisa bilang bahwa saya cukup beruntung sebab puasa tahun ini jatuh di awal musim semi, sehingga rentang durasinya hanya sekitar 14 jam setengah. Puasa dimulai dengan imsak sekitar pukul 06.00 di pagi hari dan maghrib pukul 08.30 di malam hari. Walaupun tetap saja lebih lama dari Indonesia, namun jika puasa jatuh di musim panas seperti tahun-tahun sebelumnya, durasi berpuasa bisa sampai 15-16 jam atau bahkan lebih.
Di sekolah, saya memiliki beberapa teman muslim lainnya yang tergabung di dalam Muslim Student Alliance. Kami berusaha untuk mengedukasi orang-orang di sekolah seputar hal-hal yang berkaitan dengan muslim dan Islam melalui ragam macam kegiatan seru dan menarik seperti perayaan hari hijab sedunia, sosialisasi seputar Ramadan, games, dan masih banyak lagi. Memiliki teman-teman yang berjuang di jalan yang sama akan selalu sangat membantu dan saya bersyukur akan hal tersebut.
Hal baik lainnya yang saya syukuri adalah bertemu dengan sesama orang Indonesia di perantauan. Namanya Shinta. Saya secara tidak sengaja bertemu dengannya ketika mengikuti speech competition. Dia tinggal dengan jarak 30 menit berkendara dari tempat saya. Sekolah kami juga berbeda. Namun begitu, keluarganya sering menjemput saya dan kami banyak menghabiskan waktu bersama.
Saya cukup dapat mengobati rasa kangen dengan makanan-makanan Indonesia sebab Shinta dan keluarga sering memasak menu rendang, gulai, opor, bakso dan masih banyak lagi. Mereka memperkenalkan saya dengan komunitas Indonesia yang ternyata cukup banyak di Indiana. Saya juga sudah beberapa kali berbuka puasa dan sahur bersama dengan mereka. Saya juga berencana mengikuti perayaan Idul Fitri bersama mereka.
Memang, tinggal di Amerika terasa menantang di awal, tapi saya justru sangat bersyukur karena ini akan menjadi cerita dan pengalaman yang luar biasa di masa depan. (*) Editor : Misbahul Munir S