Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Ramadhan Bulan Kemenangan Dalam Tinjauan Sejarah

Misbahul Munir S • Rabu, 19 April 2023 | 12:52 WIB
Patmawati
Patmawati
Oleh: Patmawati

MEMASUKI usia yang keempat puluh, di saat Nabi Muhammad Saw. berkontemplasi di gua Hira, tanggal 17 Ramadhan tahun 611 M. malaikat Jibril muncul di hadapannya, menyampaikan wahyu Allah yang pertama surat al-Alaq ayat 1-5 yang artinya sebagai berikut:

“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah mencipta. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu itu Maha Mulia. Dia telah mengajar dengan qalam. Dia telah mengajar manusia apa yang tidak mereka ketahui.”

Pada bulan Ramadhan itulah turunnya petunjuk Ilahi yang bersifat abadi, seperti dinyatakan dalam al-Quran surat al-Baqarah ayat 185, yang artinya:

“(Puasa itu) pada bulan Ramadhan yang diturunkan Quran pada bulan itu untuk petunjuk bagi manusia dan beberapa keterangan dari petunjuk dan memperbedakan antara yang hak dengan yang batil.”

Bulan Ramadhan termasuk bulan penuh kemenangan dalam sejarah perjalanan umat Islam karena pada bulan Ramadhan beberapa kemenangan dicapai oleh Rasulullah Saw. terutama peristiwa yang mengandung ruhul-jihad, semangat juang, yang menempatkan kaum muslimin pada posisi yang menentukan.  di antaranya:

  1. Perang Badar


Perang Badar merupakan peperangan pertama melawan musuh dalam riwayat Islam yang terjadi pada bulan Ramadhan. Dengan pasukan yang sedikit dan alat persenjataan yang tidak lengkap, pasukan Islam dapat mengalahkan tentara Quraisy yang kekuatan orangnya tiga kali lipat jumlahnya, lengkap dengan senjata-senjata mutakhir pada zaman itu berikut dengan barisan kudanya (cavaleri).

Allah SWT mengabadikan riwayat gemilang itu dalam al-Quran surat Ali Imran ayat 123, yang artinya:

“Sesungguhnya Allah telah menolongmu ketika (peperangan) di Badar, sedangkan kamu lemah; maka takutlah kamu kepada Allah, mudah-mudahan kamu berterima kasih (kepada-Nya).”

  1. Perjanjian Hudaibiyah


Setelah enam tahun Nabi Muhammad Saw dan para sahabat meninggalkan Mekah dan menetap di Madianh, mereka ingin kembali mengunjungi kampung halamannya untuk bertemu dengan kerabat, dan menziarahi Ka’bah. Namun keinginan mereka tak dapat terpenuhi, sehingga terjadilah Perjanjian Hudaibiah. Perjanjian Hudaibiah ini memperlihatkan bahwa suku Quraisy yang ada di Mekah sudah mengakui nabi Muhammad sebagai pemimpin negara Madinah. Sebuah perjanjian baru terjadi apabila ada pengakuan setara dengan kedua belah pihak.

  1. Fathul Mekah


Peperangan menaklukkan kota Mekah, peristiwa ini disebabkan pengkhianatan Quraisy terhadap Perjanjian Hudaibiyah yang telah dibuat antara Quraisy dengan kaum Muslimin. Pada kejadian ini umat Islam menang tanpa terjadi pertumpahan darah, bahkan Abbas paman Rasulullah dan Abu Sufyan musuh bubuyutan Islam dari klan Bani Umayyah sekaligus pemimpin suku Quraisy menyatakan keislamannya. Takluknya kota Mekah membuat delegasi dari berbagai penjuru di Jazirah Arab mendatangi nabi sehingga tahun ke-9 H dianggap sebagai tahun delegasi. Agama Islam telah meratai seluruh Jazirah Arab, nabi Muhammad telah merasakan kenikmatan yang tak terhingga, beliau telah menyaksikan sendiri dakwah yang dilaksanakan telah berbuah. Bahkan ini dianggap sebagai asbabun nuzulnya Surat an Nashr, yang artinya:

“Apabila datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan engkau lihat manusia masuk ke dalam agama Allah dengan berbondong-bondong. Maka tasbihlah engkau serta memuji Tuhanmu dan meminta ampunlah engkau Kepadanya, sesungguhnya Dia Penerima taubat.”

  1. Perang Hunain


Perang Hunain adalah perang yang terjadi pada tahun 8 H. yaitu kira-kira sepuluh hari atau dua puluh hari menurut riwayat yang lain, dari menyerahnya kota Mekah. Perang berkecamuk di Wadi Hunain dan kota Thaif. Dari pihak lawan, perang ini dipimpin oleh Malik ibnu Auf (dari Bani Nashr cabang dari Hawazin).

Dalam perang ini, pasukan Islam meraih kemenangan gilang gemilang. Diabadikan dalam al-Quran surat at-Taubah ayat 25, yang artinya:

“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu pada beberapa tempat yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain.”

  1. Perang Mu’tah


Memasuki tahun ke-8 H terjadi perang Mu’tah yang disebabkan utusan (Al-Harits ibnu Umar al-Azdi) yang dikirim nabi kepada Ghasasinah (Bani Ghassan) dibunuh oleh mereka. perang Mu’tah merupakan cikal bakal perluasan Islam keluar Jazirah Arab.pada peristiwa ini, nabi berkata “ suatu saat negaramu akan dicabik-cabik oleh umatku. Hal ini terbukti pada masa kepemimipinan Umar bin Khattab wilayah Ghasa ditaklukkan oleh pasukan Islam.

Semua peristiwa di atas, terjadi pada bulan Ramadhan, yang memberikan kesan bahwa efek puasa itu meningkatkan semangat juang untuk merebut kemenangan. Jihad di atas adalah jihad dalam bentuk fisik. Sehabis menghadapi seluruh peristiwa peperangan, rasulullah berkata “kita kembali dari jihad kecil menuju jihad besar.” Mereka bertanya: “Apakah jihad paling besar itu?” Beliau bersabda “jihad hati”. Untuk kekinian, jihad yang dimaksud adalah jihad dalam menghadapi tantangan-tantangan dan faktor-faktor yang merangsang dan mendorong manusia untuk melakukan kejahatan. Oleh karena itu mujahid adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya dari perbuatan mungkar. Sehingga musuh utama dalam jihad besar adalah potensi yang terdapat dalam diri yang mengarahkan untuk melakukan perbuatan yang tercela, mengakibatkan manusia melupakan kemanusiaannya karena dikendalikan oleh hawa nafsu, dan menjadi makhluk asfala syafilin.

Jihad hawa nafsu dibagi menjadi empat yakni: jihad melawan syetan, jihad mengamalkan ilmu, jihad mendakwahkan dan mengajarkan ilmu serta jigad bersabar ketika mendapatkan tantangan dalam berdakwah, terutama saat mengutarakan kebenaran dihadapan penguasa yang zalim. (*) Editor : Misbahul Munir S
#Petunjuk Ilahi #ramadhan #Bulan Kemenangan