PONTIANAK POST - Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, umat Islam perlu memahami berbagai ketentuan terkait ibadah puasa. Salah satunya adalah dalil, niat, dan tata cara pelaksanaannya.
Istilah "Ramadhan" berasal dari kata الرَّمْضَاءُ (al-ramdhâ’) yang berarti "sangat panas." Menurut Syekh Hasan bin Ahmad al-Kaff, nama ini diberikan karena pada saat penamaannya, bulan Ramadhan bertepatan dengan musim panas yang sangat terik.
Ada pula pendapat yang mengatakan bahwa kata "panas" melambangkan pengampunan dosa, karena di bulan ini Allah SWT membuka pintu ampunan-Nya dengan sangat luas.
Dalil Puasa Ramadhan
Puasa Ramadhan merupakan salah satu rukun Islam yang diwajibkan kepada umat Muslim.
Perintah ini tercantum dalam Al-Qur’an:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS Al-Baqarah: 183)
Rasulullah SAW juga bersabda:
بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ
(HR. Al-Bukhari & Muslim)
Artinya: Islam dibangun di atas lima perkara: (1) bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya, (2) menunaikan shalat, (3) membayar zakat, (4) menunaikan haji, dan (5) berpuasa Ramadhan.
Waktu Puasa Ramadhan
Puasa Ramadhan berlangsung satu bulan penuh, dimulai sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.
Pemerintah menetapkan awal dan akhir Ramadhan melalui rukyat hilal (pengamatan bulan) dan hisab (perhitungan astronomi).
Bacaan Niat Puasa Ramadhan
Niat merupakan salah satu syarat sah dalam puasa Ramadhan. Waktu niat dimulai sejak terbenam matahari hingga sebelum fajar.
Lafal Niat Puasa Harian
Arab:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانِ هٰذِهِ السَّنَةِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Latin:
Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i fardli syahri Ramadlâni hâdzihis sanati lillâhi ta‘âlâ.
Artinya:
"Aku berniat puasa esok hari demi menunaikan kewajiban bulan Ramadhan tahun ini karena Allah Ta'ala."
Keutamaan Puasa Ramadhan
Sebagai bulan yang penuh kemuliaan, Ramadhan memiliki banyak keutamaan, di antaranya:
- Derajat Ditinggikan di Sisi Allah
Salah satu keistimewaan puasa adalah diangkatnya derajat seorang Muslim. Rasulullah SAW bersabda:
إِذَا جَاءَ رَمَضَانَ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِيْنَ
(HR. Muslim)
Artinya: Ketika Ramadhan tiba, dibukalah pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, dan setan pun dibelenggu.
Menurut Syekh ‘Izzuddin, maksud dari pintu surga dibuka adalah karena banyaknya amalan yang mengantarkan seseorang ke surga di bulan ini. Sementara pintu neraka dikunci karena lebih sedikitnya maksiat yang dilakukan.
- Pahala Dilipatgandakan
Setiap amalan kebaikan yang dilakukan di bulan Ramadhan akan dilipatgandakan lebih dari biasanya. Rasulullah SAW bersabda:
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ
(HR. Muslim)
Artinya: Setiap amalan kebaikan manusia dilipatgandakan 10 hingga 700 kali lipat. Kecuali puasa, itu adalah untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya.
Bahkan, menurut ulama, pahala tertinggi bagi orang yang berpuasa adalah berjumpa langsung dengan Allah di akhirat nanti, tanpa ada hijab (penghalang).
- Menjadi Kontrol Diri dan Syahwat
Puasa dapat menjadi cara untuk mengendalikan hawa nafsu. Rasulullah SAW bersabda:
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
(HR. Al-Bukhari & Muslim)
Artinya: Wahai para pemuda, barang siapa yang mampu menikah, maka menikahlah. Jika belum mampu, maka berpuasalah, karena puasa adalah cara terbaik untuk mengendalikan syahwat.
Menurut Imam al-Ghazali, hawa nafsu merupakan sumber utama maksiat. Sedangkan makanan adalah bahan bakarnya.
Dengan mengurangi konsumsi makanan melalui puasa, seseorang dapat mengontrol nafsu dan menghindari perbuatan maksiat. (mif)
Editor : Miftahul Khair