Oleh: Hermanto
(Kepala LP Al-Islam dan Kemuhammadiyahan UM Pontianak)
ALQURAN menjelaskan bahwa manusia itu terdiri dari unsur fisik yang berasal dari saripati tanah dan kemudian anak keturunannya dari sari pati air yang hina (mani) (Q.S As-Sajdah; 7-8). Setelah menyempurnakan ciptaan-Nya, Allah SWT meniupkan roh ciptaan-Nya ke dalam tubuhnya maka jadilah ia ciptaan Allah yang terbaik (ahsanu taqwim). Berdasarkan keterangan hadits dari baginda Rasulullah SAW, ruh pertama kali ditiupkan ke tubuh anak cucu Adam as (manusia) ketika masih dalam kandungan ibunya, dan ruh akan tetap menyatu dengan tubuh manusia setelah dilahirkan, dan akan terus menyatu selama hidupnya di dunia.
Hakikat ruh itu tidak dikatahui secara ilmiah. Peradaban manusia dari zaman dulu sampai sekarang belum mampu membuktikan bagaimana hakikat ruh itu sebenarnya. “Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah, roh itu urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit. (Q.S Al-Isra' : 85).
Sementara ulama mengatakan bahwa pertemuan antara jasad dan ruh itulah menghasilkan nafs (jiwa). dan nafs serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada nafs itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya (Q.S Asy-Syam; 7-8). Dengan pengilhaman dua jalan tersebut (kefasikan dan ketakwaan) manusia memiliki kebebasan (mukhayyar) memilih. Namun, Allah memberikan petunjuk dan peringatan bahwa setiap pilihan itu akan ada konsekuensinya. Sungguh beruntung sesiapa yang menyucikan jiwanya dan sungguh merugi sesiapa yang menodainya (Q.S Asy-Syam; 9-10). Kata “tadsiyah” (penodaan) adalah mengurangi, mengempaskan, dan menyembunyikannya dengan kekotoran, kerendahan, dan mendekatkannya dengan berbagai aib serta dosa. Tadsiyah itu merupakan lawan kata “tazkiyah” (penyucian).
Jiwa mempunyai peran yang sangat sentral dalam membentuk perilaku manusia. Jiwa manusia laksana wadah bagi nilai-nilai yang diembannya. Jiwa bisa menjadi baik atau buruk tergantung potensi mana yang manusia pilih dan aktualisasikan. Potensi yang mendominasi manusia yang melahirkan perbuatan inilah oleh ulama suluk disebut dengan “akhlaq”.
raBaca Juga: Puasa Bukan Penghalang! 7 Cara Tetap Semangat dan Produktif Selama Ramadan
Ibn Maskwayh mengatakan: “Akhlak ialah kondisi yang dimiliki jiwa yang dapat mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa ada pemikiran dan pertimbangan (Muhammad Yusuf Musa, hal. 81).
Alquran menerangkan bahwa sumber segala derita manusia adalah ketika ia mengotori dan mengempaskan jiwanya dalam kekotoran dosa dan kerendahan akhlaq. Istilah yang sering disebut dikalangan kita dengan istilah memperturutkan hawa nafsu. Sedangkan hawa nafsu dalam pandangan para sufi adalah unsur kebinatangan dalam diri manusia yang perlu dijinakkan agar tidak menjadi buas dan menguasai seseorang.
Baca Juga: Bazar Ramadan di Masjid Raya Mujahidin, Ratusan UMKM Ramaikan Pasar Juadah
Jiwa yang selalu dikotori dengan akhlak tercela dan dosa akan sulit dikendalikan dan mengakibatkan hilangnya kesadaran ber-Tuhan dalam diri seseorang. Aktivitas hawa nafsu selalu menyeret ke bawah untuk jatuh dan menjadi beban bagi seseorang untuk naik mencapai kesadaran akan wujud Tuhan karena sifatnya yang selalu menarik ke bawah alam kegelapan.Hawa nafsu yang seperti ini berperan sebagai tuhan bagi orang tersebut. “Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya” (QS. Al-Furqan/25: 43).
Alquran sebagai hidayah (guidance of live) bagi orang yang bertakwa (QS. Al-Baqarah:2), telah menjelaskan tujuan utama seorang muslim berpuasa agar meraih ketakwaan (ketinggian dan kesucian jiwa). Takwa ini sesungguhnya merupakan ghoyah (tujuan akhir) dari seluruh ibadah yang dilakukan manusia (Q.S. Albaqarah: 28).
Puasa yang menjadikan insan bertakwa itu tidak sekadar mempuasakan fisik yang waktunya terbatas dari mulai terbit fajar hingga terbenam matahari, tetapi juga mempuasakan hawa nafsu. Berbeda dengan mempuasakan fisik, mempuasakan hawa nafsu durasinyasepanjang waktu, siang dan malam, selama bulan Ramadhan dan pasca Ramadhan. Mampuasakan nafsu tidak terbatas oleh ruang dan waktu karena hawa nafsu akan terus mengintai dan memerintahkan manusia untuk melakukan kefasikan dan ke-fahisyah-an, tidak terkecuali di hotel, di bar, di kantor bahkan di rumah ibadah sekalipun. Tidak terkecuali di keramaian apatah lagi di kesunyian. Tidak terkecuali orang biasa, bahkan penguasa dan ratu dari kerajaan sekalipun. Kecuali nafsu yang dirahmati tuhannya. Dan aku tidak membebaskan nafsku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku (Q.S. Yusuf Ayat 53).
Nafsu yang dirahmati Allah itu adalah nafsu yang bertakwa yang kembali kepada tuhannya dipanggil dengan sapaan nafsu al-muthmainnah. Puasa yang mencetak pribadi takwa adalah puasa yang mampu mentazkiyah nafsunya dari penyakit qalbu. Penyakit qalbu itu adalah kondisi batin yang buruk (al-akhlaq madzmumah) yang mendorong seseorang berbuat dosa dan dosa adalah nuktah (bintik hitam) yang menempel di hati. Lambat laun bintik hitam itu semakin banyak dan akhirnya membuat hati menjadi khatam (hati terkunci) sehingga tidak memiliki cahaya untuk melihat kebenaran dan membenci kebenaran bahkan menyenangi serta menikmati kebathilan.
Ketidakmampuan seseorang menahan lapar dan haus baik karena fisiknya lemah atau sakit, maka boleh diganti di hari lain atau membayar fidyah. Akan tetapi, kelalaian dalam mempuasakan nafsu tidak bisa diganti. Ketika puasa hawa nafsu di bulan Ramadhan dilanggar, maka yang bersangkutan dapat menggantikan puasa pada hari yang lain akan tetapi substansi puasanya rusak, karena tidak berhasil mempuasakan hawa nafsunya itu. Itulah sebabnya Nabi SAW pernah mengatakan: banyak orang berpuasa tetapi tidak memperoleh apa-apa dari puasanya itu kecuali lapar dan dahaga.
Usaha mempuasakan nafsu ini bukanlah hal yang mudah, apatah lagi bagi orang yang telah memiliki perangai (habit) buruk. Sebagai contoh, seseorang yang terbiasa menggunjing (Humazah wa Lumazah), ketika bertemu teman dan berbincang tentang suatu topik, seringkali percakapan tersebut berakhir dengan membicarakan aib orang lain, meskipun perut dan farji sedang berpuasa.
Contoh lainnya, ketika menjelang waktu berbuka, seseorang tiba-tiba marah saat mengantre untuk membeli makanan berbuka atau saat berada di lampu merah, lalu terlibat dalam perdebatan mulut dengan melontarkan kata-kata yang tidak mencerminkan dirinya sebagai orang yang sedang berpuasa. Bahkan yang lebih miris lagi, seseorang yang baru saja selesai mengikuti kajian di masjid atau tempat lainnya, dengan sengaja atau tidak, menjelek-jelekkan orang atau kelompok lain. Mereka mengira bahwa apa yang dilakukan itu adalah bagian dari memperjuangkan Islam, padahal Islam tidak perlu dibela dengan cara seperti itu.
Beratnya mempuasakan hawa nafsu tidak hanya dialami oleh orang awam pada umumnya, tetapi juga oleh para tokoh, pemuka, pemimpin masyarakat, dan bahkan juga para elite agama sekalipun. Inilah yang membedakan kualitas puasa seseorang dengan yang lainnya. Ini pula yang menentukan apakah puasanya menjadikan ia bertakwa atau tidak. Imam Abu Hamid al-Ghazali pernah mengatakan:
"Ketahuilah bahwa puasa ada tiga tingkatan: puasa umum, puasa khusus, dan puasa khusus dari khusus. Adapun puasa umum adalah menahan perut dan kemaluan dari menuruti nafsu. Adapun puasa khusus: yaitu menahan pendengaran, penglihatan, lidah, tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh dari dosa-dosa. Adapun puasa khusus dari khusus, yaitu puasa hati dari sifat-sifat duniawi, dan pikiran-pikiran duniawi, serta menahan hati dari selain Allah SWT secara keseluruhan (dikutip dari Ihya' Ulumuddin (1/234).
Puasa ini batal jika seseorang berpikir tentang selain Allah SWT dan hari akhir, serta memikirkan dunia, kecuali dunia yang diperuntukkan untuk agama, karena itu adalah bekal untuk akhirat dan bukan dunia. Bahkan para pemilik hati berkata: 'Barang siapa yang niatnya bergerak untuk mengurus hal-hal yang ia akan makan saat berbuka, maka dosanya akan dituliskan baginya, karena itu menunjukkan kurangnya kepercayaan kepada karunia Allah SWT, dan kurangnya keyakinan terhadap rejeki yang dijanjikan-Nya.' Ini adalah derajat para nabi, orang-orang shiddiq, dan orang-orang yang dekat dengan Allah. Inilah yang kami maksud dengan; puasa lahir bathin. *
Editor : A'an