PONTIANAK POST - Saat berbuka puasa, banyak orang tergoda menyantap makanan yang gurih dan renyah, salah satunya gorengan.
Rasanya yang lezat dan teksturnya yang crispy membuatnya menjadi pilihan favorit saat berbuka. Namun, mengonsumsi gorengan setiap hari dapat berdampak buruk bagi kesehatan.
Gorengan umumnya mengandung tepung dan minyak dalam jumlah besar, yang minim nutrisi tetapi kaya kalori dan lemak jenuh.
Satu potong bakwan, misalnya, mengandung sekitar 137 kalori dan didominasi oleh lemak, sebagaimana dikutip dari laman Fat Secret.
Meskipun sesekali mengonsumsi gorengan masih bisa ditoleransi, jika dikonsumsi setiap hari, risiko gangguan kesehatan meningkat.
Mengutip laman Universitas Muhammadiyah Surabaya, berikut 10 bahaya mengonsumsi gorengan setiap hari saat berbuka puasa.
- Gangguan Pencernaan
Gorengan diolah menggunakan minyak dalam jumlah besar, bahkan sering kali minyak yang digunakan adalah jelantah atau minyak yang dipakai berulang kali.
Ini berpotensi mengandung lemak trans, yang bisa meningkatkan kolesterol jahat (LDL) dan memicu penyakit jantung koroner.
Tingginya kandungan lemak pada gorengan juga membuat lambung bekerja lebih keras untuk mencernanya, menyebabkan perut kembung, begah, atau bahkan diare.
- Berat Badan Cepat Naik
Gorengan kaya kalori tetapi rendah nutrisi, sehingga jika dikonsumsi berlebihan, asupan kalori harian meningkat drastis.
Akibatnya, berat badan bisa naik dengan cepat dan meningkatkan risiko obesitas.
- Lonjakan Gula Darah
Gorengan mengandung karbohidrat sederhana yang mudah diubah menjadi glukosa, menyebabkan lonjakan gula darah secara cepat.
Jika terus-menerus terjadi, ini dapat menyebabkan resistensi insulin dan meningkatkan risiko diabetes tipe 2.
- Pembentukan Zat Berbahaya
Gorengan, terutama yang terbuat dari tepung, dapat menghasilkan zat akrilamida ketika dimasak pada suhu tinggi.
Akrilamida adalah senyawa yang berpotensi bersifat karsinogenik, yang berarti dapat meningkatkan risiko kanker.
- Iritasi Lambung dan Tenggorokan
Bagi penderita maag atau asam lambung, mengonsumsi gorengan saat berbuka puasa dapat memicu iritasi lambung.
Selain itu, minyak jelantah yang dipakai berulang kali juga bisa mengiritasi tenggorokan, menyebabkan rasa tidak nyaman atau sakit.
- Memperparah Dehidrasi
Gorengan memiliki sifat diuretik, yang artinya dapat meningkatkan produksi urine.
Hal ini bisa memperburuk kondisi dehidrasi setelah seharian berpuasa.
Oleh karena itu, lebih baik perbanyak konsumsi air putih saat berbuka.
- Mengurangi Energi dan Produktivitas
Meskipun gorengan bisa mengenyangkan, kandungan lemak jenuhnya bisa membuat tubuh lebih cepat lelah.
Akibatnya, rasa kantuk dan kurang semangat muncul, sehingga produktivitas menurun.
- Gangguan Penyerapan Nutrisi
Lemak jenuh dalam gorengan dapat menghambat penyerapan nutrisi penting dari makanan lain, seperti vitamin, mineral, dan protein.
Ini bisa menyebabkan tubuh kekurangan nutrisi meskipun makan dalam jumlah cukup.
Baca Juga: Ternyata Kunyit Bisa Mengatasi Penyakit Lambung, Simak Cara Mengolahnya di Rumah
- Kerusakan Gigi dan Mulut
Gorengan yang berminyak dan lengket dapat menempel pada gigi dan gusi, memicu perkembangan bakteri yang berisiko menyebabkan plak dan gigi berlubang.
- Menurunkan Nafsu Makan
Gorengan yang kaya lemak membuat lambung terasa penuh, sehingga nafsu makan berkurang untuk mengonsumsi makanan sehat lainnya yang lebih bergizi.
Batasi Konsumsi Gorengan untuk Kesehatan yang Lebih Baik
Meskipun gorengan menjadi makanan favorit saat berbuka puasa, mengonsumsinya setiap hari dapat berdampak buruk bagi kesehatan.
Untuk menjaga stamina selama Ramadan, lebih baik mengganti gorengan dengan makanan sehat yang lebih bergizi, seperti buah kurma, kacang-kacangan, atau sup hangat.
Ingat, puasa bukan hanya sekadar menahan lapar, tetapi juga kesempatan untuk menerapkan pola makan yang lebih sehat.
Yuk, batasi konsumsi gorengan agar tubuh tetap bugar selama Ramadan! (mif)
Editor : Miftahul Khair