Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Ramadan Fair Singkawang 2025, Wujud Kota Toleransi se-Indonesia

A'an • Selasa, 11 Maret 2025 | 10:56 WIB

 

RAMAI: Suasana Ramadan Fair di Kota Singkawang.
RAMAI: Suasana Ramadan Fair di Kota Singkawang.

 

PONTIANAK POST — Singkawang dikenal sebagai kota dengan keberagaman etnisnya hingga toleransi. Kota yang yang kini dipimpin Tjhai Chui Mie-Muhammadin ini memiliki wisata alam seperti Pantai hingga banyaknya kuliner di dalamnya.

Khusus bulan Ramadan ini, Singkawang menggelar Ramadan Fair 2025. Sebuah event yang digelar setiap tahunnya. Sebuah event khas, wujud Singkawang sebagai kota toleransi se-Indonesia.

Ramadan Fair kali ini digelar dipusat kota hingga taman burung. Konsepnye masih sama pasar juadah. Hanya dikemas dengan jargon pusat jajanan dan takjil bagi mereka berpuasa.

Even ini membuat suasana Ramadan di jalan ini dipenuhi dengan aroma masakan khas yang memikat selera. Di setiap sudut, ada penjual makanan dan minuman tradisional yang menawarkan hidangan lezat seperti bubur padas, choi pan, sotong pangkong, dan berbagai hidangan khas Ramadan lainnya. Tentu saja puluhan pedagang takjil mendapat berkah kedatangan bulan suci Ramadan.

Kuliner banyak dijual. Ragamnya banyak. Ada kue klepon, kue putu, kue pasung dan kue tradisional lainnya. Sedangkan kue khas Singkawang seperti putu mayang memang sudah agak langka.

Heni, satu diantara pedagang takjil mengaku bahwa di pasar juadah yang laris diantaranya gorengan yang laris. “Kalau yang manis-manis memang agak kurang yang banyak dicari diantaranya risoles, bakwan, kue pasung, klepon,” ungkapnya.

Untuk harga takjil, kata Heni, memang ada kenaikan yang dulunya Rp 1000 sekarang ada yang Rp1.500 dan Rp2 ribu.

Salah satu pengunjung Ramadan Fair, Ridwan (27) warga Kecamatan Singkawang Tengah, mengungkapkan untuk makanan minuman, jajanan di Ramadan Fair ini bervariasi.

"Soal jajanan ini tergantung selera. Ada suka manis, ada suka gorengan, kalau yang khas saya lihat hampir semua khas sesuai lidah," ungkapnya.

Baca Juga: Rabu Abu Awal Puasa Katolik

Sebagai orang yang hobi makan. Ia sangat antusias adanya Ramadan Fair. Pecinta gorengan ini tak lupa kalau membeli pasti ada resoles, bakwan, dan dadar gulung.

Ramadan Fair ini sekaligus memperkuat status Singkawang yang memang layak disebut kota yang tak hanya beragam, namun mampu menjadikan keberagaman itu sebagai kekuatan untuk mewujudkan pembangunan.

Kehadiran Pasar Juadah disebut Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie memberikan dampak positif bagi perkembangan dan promosi UMKM.

“Pasar juadah inilah menjadi pusat pengembangan UMKM kita, kita harap mereka bisa sajikan makanan yang lezat dan menarik. Kan mereka bisa sekalian promosi produk mereka di sana (pasar juadah),” ujarnya.

Menurutnya, sajian berbuka puasa tidak hanya dimintai oleh umat muslim saja, warga nonmuslim pun turut menikmati jajanan khas yang selalu hadir di bulan penuh berkah tersebut.

“Karena bukan hanya orang muslim saja yang beli dan juga bukan hanya orang Singkawang, tapi banyak juga tu orang non muslim dan dari luar Singkawang yang kita lihat beramai-ramai membeli makanan di pasar juadah,” ujarnya.

Mengenai hias kota, pihaknya telah mendapatkan dukungan dari donatur yang ingin perayaan bulan suci Ramadan semakin terasa menemani umat muslim dalam melawan hawa nafsu.

“Untuk hias kota, selain dari pemerintah, kita juga dapat dukungan dari donatur yang kemeriahan Ramadan terasa di Singkawang,” ungkapnya.

“Nanti juga pas menjelang Idulfitri, saya mengajak seluruh masyarakat khususnya umat muslim menghias rumahnya masing-masing, dan menghias gang-gang melalui koordinasi dengan lurah setempat,” serunya. (har)

Editor : A'an
#kota toleransi #Ramadan Fair Singkawang