Oleh: Syamsul Kurniawan
(Ketua Divisi Pengembangan Kaderisasi dan Cendekiawan Muda, ICMI Orda Kota Pontianak)
SAAT ini, saya sedang menjalani ibadah puasa. Setiap tahun, saat bulan Ramadan tiba, saya teringat tentang makna mendalam dari ibadah ini, khususnya tentang konsep “menahan”. Menahan diri dari makan, minum, bahkan hal-hal kecil seperti menghindari perasaan marah atau kecewa, yang semuanya merupakan latihan untuk meningkatkan kedisiplinan diri dan kesadaran spiritual. Puasa mengajarkan saya untuk menahan hawa nafsu, yang sering kali mendorong kita melakukan hal-hal yang tidak kita butuhkan. Ini adalah pengingat untuk hidup lebih sederhana dan lebih sadar. Namun, saya juga mulai bertanya-tanya, mengapa sebenarnya kita begitu sulit untuk menahan diri? Tidak hanya dalam ibadah, tetapi dalam kehidupan sehari-hari, dalam setiap aspek keputusan yang kita buat.
Kita sering kali dihadapkan pada godaan-godaan yang tampaknya tidak dapat kita hindari. Di dunia yang penuh dengan konsumsi dan eksploitasi ini, bagaimana kita bisa menahan diri dari hal-hal yang merusak lingkungan? Mengapa, meskipun kita tahu bahwa membuang sampah sembarangan itu salah, kita tetap melakukannya? Mengapa kita tetap merokok di tempat umum meski sudah banyak kampanye anti-rokok? Mengapa kita terus mengeksploitasi alam dengan gila-gilaan, meski sudah ada banyak bukti dampaknya terhadap bumi? Pertanyaan ini menggugah saya untuk lebih merenungkan makna "menahan" dalam konteks kehidupan yang lebih luas, terutama terkait dengan krisis ekologi yang sedang kita hadapi saat ini.
Saya menyadari bahwa banyak dari kita yang sangat sulit untuk menahan diri dalam hal-hal yang berkaitan dengan konsumsi dan pengelolaan sumber daya alam. Di balik kemudahan akses terhadap barang-barang, makanan, dan kenyamanan hidup, ada dorongan kuat untuk terus mengonsumsi dan memenuhi nafsu kita, tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan dan planet ini. Dalam banyak kasus, kita bahkan tidak memikirkan seberapa besar dampak yang kita timbulkan, baik itu dalam bentuk sampah yang tidak terkelola dengan baik, polusi udara, atau bahkan pemusnahan habitat alam. Semuanya tampak seperti bagian dari rutinitas sehari-hari, yang tidak pernah kita pertanyakan atau refleksikan.
Baca Juga: Ifan Seventeen Dikabarkan Diangkat Jadi Dirut PT Produksi Film Negara
Krisis Ekologi dan Ketidakmampuan Menahan Diri
Masalah yang kita hadapi dalam kaitannya dengan ekologi tidak bisa lepas dari kenyataan bahwa kita hidup dalam masyarakat yang terus mendorong kita untuk mengonsumsi lebih banyak. Kita terus dibombardir oleh iklan dan tawaran untuk membeli barang-barang baru, makanan cepat saji, kendaraan, dan teknologi terbaru. Semua ini memicu hasrat manusia untuk mendapatkan lebih banyak, tanpa memperhatikan keterbatasan sumber daya alam yang ada. Konsumerisme telah menjadi bagian dari budaya kita, hingga kita lupa bahwa segala sesuatu yang kita konsumsi itu pada akhirnya memiliki dampak besar terhadap lingkungan.
Di sinilah konsep menahan diri yang diajarkan dalam puasa bisa memberikan wawasan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita diajarkan untuk menahan keinginan untuk terus mengonsumsi lebih banyak, untuk tidak menjadi serakah, dan untuk menghargai apa yang sudah kita miliki. Tapi kenyataannya, meskipun kita tahu bahwa tindakan kita dapat merusak lingkungan, kita sering merasa tidak mampu untuk menahan diri. Mengapa kita begitu sulit untuk berubah?
Baca Juga: Astra Motor Kalbar Rayakan Idulfitri 1446 H dengan Promo Semarak Ramadan
Salah satu alasan utama mengapa kita kesulitan menahan diri adalah karena kita sering merasa terperangkap dalam lingkaran konsumsi. Kita terjebak dalam pola pikir bahwa kebahagiaan datang dari memiliki lebih banyak barang, lebih banyak pengalaman, dan lebih banyak kenyamanan. Padahal, ketika kita terus-menerus menginginkan lebih, kita semakin jauh dari pemahaman bahwa kebahagiaan sejati terletak pada kedamaian batin dan hubungan kita yang harmonis dengan alam. Alam, yang selama ini kita anggap sebagai sumber daya yang tak terbatas, sebenarnya sedang terancam oleh perilaku konsumtif kita.
Kearifan Sufisme dalam Menjaga Alam
Dalam pandangan Sachiko Murata, konsep sufisme memberikan pendekatan yang kaya dalam memahami hubungan antara manusia dan alam. Dalam bukunya The Tao of Islam (1992), Murata menyarankan bahwa kebijaksanaan sufisme dapat membimbing kita untuk memahami keterkaitan antara alam dan jiwa. Sufisme mengajarkan bahwa seluruh alam semesta, baik itu bumi, udara, air, maupun kehidupan lainnya, adalah refleksi dari kesatuan Tuhan yang harus dihormati dan dijaga.
Kearifan sufistik ini mengajak kita untuk menahan diri dari pengrusakan terhadap alam, karena setiap tindakan kita terhadap bumi adalah cermin dari hubungan kita dengan Tuhan. Puasa, sebagai latihan spiritual, mengingatkan kita bahwa pengendalian diri juga harus meluas ke tindakan kita terhadap alam. Dengan mengembangkan rasa syukur dan kesadaran terhadap keindahan alam, kita belajar untuk tidak serakah dan merusak bumi, tetapi sebaliknya, merawat dan melestarikannya sebagai amanah.
Namun, meskipun ajaran sufisme dan konsep pengendalian diri sudah sangat jelas, dalam kenyataannya, kita sering kali menemui hambatan besar dalam mewujudkan perilaku yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan. Neil Postman, dalam bukunya The End of Education (1995), menggugat ketidakmampuan lembaga pendidikan untuk mengajarkan nilai-nilai prinsip yang membentuk karakter.
Postman berpendapat bahwa pendidikan modern, dengan segala fokusnya pada penguasaan keterampilan teknis dan kompetensi semata, telah gagal mengajarkan hal-hal yang lebih mendalam, seperti kebijaksanaan, moralitas, dan tanggung jawab terhadap lingkungan.
Fenomena "matinya pendidikan" yang dikritik oleh Postman ini dapat terlihat jelas dalam krisis lingkungan yang terus memburuk setiap tahun. Pendidikan yang tidak cukup memberi ruang untuk pemahaman ekologis dan pembangunan karakter yang mendalam, turut berkontribusi pada ketidakpedulian terhadap kondisi lingkungan. Di banyak tempat, lulusan-lulusan sekolah sering kali tidak memiliki kesadaran atau keterampilan untuk turut serta dalam upaya perbaikan lingkungan. Pendidikan yang tidak membentuk karakter yang peduli terhadap keberlanjutan ekologi ini pada akhirnya menciptakan generasi yang lebih fokus pada konsumsi, tanpa memperhatikan konsekuensi jangka panjang terhadap bumi.
Baca Juga: Dari Papua Hingga Medan, BNI Gelar Safari Ramadan 2025 di 14 Kota Seluruh Indonesia
Puasa Sebagai Refleksi atas Perilaku Konsumtif
Kembali pada ibadah puasa, saya mulai berpikir bahwa puasa bukan hanya soal menahan diri dari makan dan minum. Puasa sebenarnya adalah latihan untuk menahan segala bentuk keinginan yang berlebihan, termasuk keinginan untuk mengonsumsi barang-barang yang tidak kita butuhkan. Dalam konteks ini, puasa bisa menjadi pengingat bagi kita untuk hidup lebih sederhana, lebih sadar, dan lebih bijaksana dalam mengelola sumber daya alam. Jika kita bisa menahan diri untuk tidak makan dan minum selama beberapa jam dalam sehari, mengapa kita tidak bisa menahan diri dari konsumsi berlebihan di luar bulan puasa?
Selama Ramadan, kita diajarkan untuk mengurangi ketergantungan kita pada kenikmatan duniawi. Puasa membantu kita menyadari bahwa banyak dari apa yang kita anggap sebagai kebutuhan sesungguhnya adalah keinginan semata. Dengan menahan diri dari makan dan minum, kita belajar untuk mengenali batas-batas kita, dan ini bisa diterapkan dalam cara kita mengelola sumber daya alam. Dengan cara yang sama, kita harus belajar menahan diri dari tindakan-tindakan konsumtif yang merusak lingkungan. Ini adalah ajaran yang sangat relevan dalam menghadapi krisis ekologi yang semakin mendalam.
Namun, tantangan terbesar bagi kita adalah bagaimana mengubah pola pikir kita setelah bulan puasa berakhir. Jika kita benar-benar memahami esensi dari ibadah puasa, kita seharusnya bisa membawa prinsip kesederhanaan dan pengendalian diri ini ke dalam kehidupan sehari-hari. Kita bisa mulai dengan mengurangi konsumsi barang-barang yang tidak perlu, memilih produk yang lebih ramah lingkungan, dan membuang sampah pada tempatnya. Jika setiap individu mulai menahan diri dalam hal-hal kecil, dampaknya bisa sangat besar bagi kelestarian alam.
Lebih dari itu, ibadah puasa dapat menjadi sarana untuk merefleksikan perilaku konsumtif kita yang selama ini tidak kita sadari. Berpuasa mengajarkan kita bahwa kita tidak harus terus-menerus mengejar kepuasan duniawi. Sebagaimana kita menahan diri untuk tidak makan, kita juga harus belajar menahan diri dari keinginan untuk terus-menerus mengekspolitasi alam untuk memenuhi kebutuhan yang sebenarnya bisa kita kurangi. Dalam berpuasa, kita juga belajar bahwa kebahagiaan sejati tidak datang dari memenuhi setiap keinginan kita, tetapi dari kesederhanaan dan kepuasan batin.
Jika kita mampu menahan diri dari nafsu makan dan minum, mengapa kita tidak bisa menahan diri dari konsumsi berlebihan yang merusak alam? Itulah pelajaran yang bisa kita ambil dari ibadah puasa, yang merupakan latihan spiritual yang juga relevan dalam konteks krisis ekologi yang kita hadapi saat ini. Kita perlu kembali kepada nilai-nilai yang mengajarkan kesederhanaan, penghormatan terhadap alam, dan pengendalian diri, sebagaimana yang diajarkan dalam ibadah puasa.
Sebagai masyarakat, kita harus bersama-sama berkomitmen untuk memperbaiki cara kita berinteraksi dengan lingkungan, dengan mengubah kebiasaan buruk yang merusak bumi dan mulai berperan aktif dalam pelestarian alam. Puasa, sebagai salah satu cara untuk menahan diri dan memperkuat kontrol atas keinginan duniawi, bisa menjadi simbol bagi kita untuk menahan konsumsi yang berlebihan, dan dengan demikian, ikut serta dalam upaya menyelamatkan bumi.
Kesimpulannya, puasa bukan hanya tentang menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga merupakan ajakan untuk menahan diri dari perilaku konsumtif yang merusak lingkungan. Jika kita dapat menginternalisasi pelajaran ini, kita akan memiliki kemampuan untuk lebih bijaksana dalam menggunakan sumber daya alam dan menjaga keseimbangan ekosistem. Semoga dengan refleksi ini, kita bisa membangun kesadaran kolektif untuk menjaga bumi, melestarikan alam, dan menciptakan dunia yang lebih berkelanjutan bagi generasi yang akan datang.*
Editor : A'an