Ketua Komisi IV DPRD Kalimantan Barat H Subhan Nur mengatakan, Kabupaten Sambas selain memiliki daerah yang berbatasan langsung dengan Negara Malaysia juga masih terdapat sejumlah kecamatan yang terhubung dengan jalur sungai. Sehingga feri penyeberangan ataupun sarana lain, masih sangat diharapkan. “Masih banyak kecamatan, desa atau wilayah di Kabupaten Sambas yang bisa diakses dengan menyeberangi sungai,” kata Subhan Nur.
Atas kondisi tersebut, jika feri atau sarana penyeberangan lain tak beroperasi, dampaknya akan dirasakan masyarakat. Seperti halnya yang terjadi di Dermaga Penyeberangan Kuala Kecamatan Tebas – Perigi Piai, Kecamatan Tekarang. Dermaga penyeberangan Prigi Piai ini termasuk paling padat di Kabupaten Sambas. Dengan adanya musibah kecelakaan feri yakni KMP Bili yang karam, masyarakat terutama di Kecamatan Jawai, Jawai Selatan, Tekarang dan sekitarnya merasakan dampaknya.
“Tenggelamnya feri KMP Bili, memengaruhi sektor ekonomi yang itu langsung dirasakan masyarakat, terutama di Kecamatan Jawai, Jawai Selatan, Tekarang. Karena akses ke daerah tersebut terputus, sementara ada jalur alternatif yakni jalan kabupaten tapi kondisinya rusak, sehingga memerlukan waktu yang cukup lama,” katanya.
Hal inilah yang mendasari perlunya sesegera mungkin dibangun jembatan Sungai Sambas Besar yang akan menghubungkan kecamatan-kecamatan tersebut. “Kami berharap, pembangunan Jembatan Sungai Sambas Besar, bisa dipercepat pelaksanaannya,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Politisi Nasdem Kalbar mengapresiasi tim yang sudah melakukan evakuasi KMP Bili yang tenggelam. Sehingga terhitung sejak Kamis (18/3), feri pengganti, yakni Kapal Motor Penumpang (KMP) Kerapu sudah bisa beroperasi. “Sudah dievakuasinya KMP Bili yang tenggelam, jalur penyeberangan sudah aman, sehingga KMP Kerapu bisa dioperasikan agar jalur penyeberangan Kuala- Perigi Piai normal,” katanya.
Sejumlah pengguna feri juga merasa senang sudah ada kapal pengganti, sehingga jalur penyeberangan mulai normal. “Kami sebagai pengguna jasa feri penyeberangan merasa senang, karena kapal pengganti sudah beroperasi, sehingga akses bisa lebih cepat,” kata Long Junai, salah satu pengguna.
Iwan, sopir truk juga mengakui hal sama. Dengan sudah beroperasinya kapal penyeberangan pengganti, aktivitas di dermaga mulai menggeliat kembali. “Tentunya senang, karena jalur penyeberangan mulai normal, setelah KMP Kerapu bisa beroperasi setelah KMP Bili yang tenggelam bisa dievakuasi,” katanya. (fah) Editor : Administrator