SAMBAS – Di tengah pesatnya digitalisasi, permainan tradisional semakin terpinggirkan di kalangan generasi muda. Banyak dari mereka lebih memilih menghabiskan waktu dengan gadget, sehingga permainan rakyat kian terlupakan. Kondisi ini menjadi latar belakang SMP Negeri 1 Tebas dalam pelaksanaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dengan tema Kearifan Lokal dan fokus pada Permainan Rakyat.
Kegiatan ini mengajak pelajar untuk mengenal dan memainkan kembali berbagai permainan tradisional di lingkungan sekolah. “Sebagai bagian dari Kurikulum Merdeka kami menyelenggarakan kegiatan P5 dengan tema Kearifan Lokal mengenai ‘Permainan Rakyat.’ Kegiatan ini bertujuan untuk menanamkan semangat gotong-royong, toleransi, dan cinta tanah air melalui permainan tradisional,” ungkap Anida, Koordinator P5 di SMP Negeri 1 Tebas, Jumat (25/10).
Selama kegiatan, siswa dari berbagai kelas diperkenalkan dengan permainan rakyat khas Sambas, seperti lambose, cangkelelet, dan selimban. Selain berkesempatan bermain, mereka juga diberikan pemahaman tentang nilai-nilai Pancasila yang terkandung dalam permainan tersebut, seperti persatuan, kerja sama, dan saling menghormati. “Selain bermain, mereka juga mendapatkan penjelasan mengenai makna di balik setiap permainan,” tambah Anida.
Anida menekankan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menghidupkan kembali permainan tradisional sekaligus menanamkan nilai gotong-royong, kerja sama, dan kejujuran di kalangan anak-anak. “Sejalan dengan tujuan P5, kegiatan ini diharapkan dapat membentuk generasi yang berkarakter kuat dan mencintai tanah air,” jelasnya.
Muziati, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMP Negeri 1 Tebas, menambahkan bahwa siswa juga diajarkan cara membuat alat-alat permainan tradisional agar mereka bisa mempraktikkannya di rumah tanpa perlu membeli. “Selain bermain, siswa juga membuat sendiri alat-alat permainan seperti kayu cangkelelet dan alat permainan lainnya. Ini dapat mengasah kreativitas dan kerja sama mereka,” ujarnya.
Dengan metode pembelajaran ini, Muziati berharap anak-anak dapat tumbuh menjadi generasi yang unggul, mandiri, dan memiliki jiwa sosial yang tinggi. “Sekolah berharap kegiatan ini tidak hanya meningkatkan kemampuan akademik siswa tetapi juga menanamkan jiwa sosial, rasa persatuan, dan kecintaan pada budaya daerah. Nilai-nilai Pancasila tidak hanya dihafalkan, tetapi harus terinternalisasi dalam tindakan sehari-hari siswa melalui P5,” katanya.
Selain itu, siswa juga diberikan materi tentang asal-usul dan sejarah permainan rakyat untuk mengenal keragaman budaya Sambas dan menumbuhkan rasa bangga terhadap warisan budaya bangsa. Salah seorang siswa, Keysa Nurahayu, mengungkapkan bahwa ia kini mengenal permainan tradisional seperti selimban dan lambose, serta cara membuat peralatannya. “Permainan tradisional ternyata sangat seru, kami bisa bermain sekaligus belajar,” ungkapnya. (fah)
Editor : Miftahul Khair