SAMBAS – Potensi buah rambutan di Kabupaten Sambas, terutama di Kecamatan Sajad, sangat menjanjikan. Namun, saat musim panen raya tiba dan buah rambutan melimpah, harga jualnya sering kali anjlok, bahkan tidak sebanding dengan biaya operasional panen di kebun. "Kalau sekarang paling tinggi harga Rp3.000,- per ikat dari kebun. Awalnya sempat mencapai belasan ribu per ikat," ujar Bulyan, warga Tengguli yang memiliki kebun rambutan.
Ia menjelaskan, proses panen membutuhkan usaha ekstra. Dari rumah, ia harus menggunakan perahu untuk menyusuri sungai, yang kadang terhambat oleh pasang surut air. "Kalau mau nyaman, kita harus tahu jadwal pasang surut air supaya perahu tidak kandas," katanya. Setelah perjalanan dengan perahu, ia harus berjalan kaki menuju kebun. "Kalau musim hujan, jalanan licin. Perjalanan ke kebun memakan waktu sekitar 15 menit sebelum mulai memetik rambutan," tambahnya.
Buah rambutan yang sudah dipetik kemudian diikat sesuai ukuran standar. Ikatan tersebut dibawa menggunakan gerobak ke perahu, lalu diangkut ke tepi jalan besar untuk dijemput pembeli menggunakan mobil. "Bagian tersulit adalah membawa rambutan yang sudah diikat, terutama saat musim hujan. Kadang terpeleset, tapi harus tetap dilakukan," tuturnya.
Kondisi ini membuat banyak pemilik kebun mengeluh saat harga beli anjlok. Pendapatan sering kali hanya cukup untuk menutupi biaya bahan bakar perahu, bekal ke kebun, dan tenaga kerja. Bulyan bahkan sering bermalam di kebun untuk menghemat biaya operasional. "Dengan harga Rp3.000,- per ikat, hasilnya hanya cukup untuk biaya operasional, belum bisa disebut untung. Tapi kami tetap bersyukur, karena ini adalah rezeki," ujarnya.
Hal serupa diungkapkan oleh Aci, warga lainnya. Ia mengatakan harga beli rambutan di kebun saat ini jauh lebih rendah dibandingkan sebelumnya. "Tapi mau bagaimana lagi, daripada rambutan di pohon busuk, lebih baik dipanen meskipun harga jual rendah," katanya.
Keduanya berharap pemerintah atau pihak terkait dapat mengambil langkah strategis untuk mengelola potensi buah rambutan di wilayah Kecamatan Sajad. Dengan demikian, di masa mendatang, harga rambutan saat panen melimpah tidak lagi anjlok. (fah)
Editor : A'an