Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Ketika Sinyal Jadi Barang Langka, Warga Sinjan Kabupaten Sambas Menjadikan Bukit Tempat "Nongkrong"

Aristono Edi Kiswantoro • Minggu, 23 Februari 2025 | 16:01 WIB
Warga Sinjan harus mendaki bukit dan berkumpul di kegelapan demi mendapatkan sinyal seluler.
Warga Sinjan harus mendaki bukit dan berkumpul di kegelapan demi mendapatkan sinyal seluler.

SAMBAS – Di era digital seperti sekarang, akses internet dan sinyal seluler seharusnya menjadi kebutuhan dasar bagi setiap orang. Namun, bagi warga Dusun Sinjan, Desa Sebubus, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, kenyataan berkata lain.

Demi sekadar mengirim pesan atau mengakses media sosial, mereka terpaksa berkumpul di tepian jalan atau naik ke bukit mencari sinyal.

Sinjan, yang berbatasan langsung dengan Desa Asuansang, Kecamatan Sajingan Besar, merupakan kawasan yang mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani dan pekebun. Meski listrik PLN telah tersedia, sinyal telekomunikasi masih menjadi tantangan besar di desa ini.

Berburu Sinyal di Bukit Sinjan


Menurut salah satu warga, Nasrullah, beberapa titik di Sinjan masih memiliki sinyal, salah satunya di Bukit Sinjan. Tempat ini menjadi "oasis digital" bagi warga yang mengandalkan internet seluler untuk berkomunikasi atau berselancar di dunia maya.

"Susah sinyal di sini. Ada beberapa titik yang bisa menangkap sinyal, salah satunya di bukit Sinjan. Jadi, kalau mau internetan atau sekadar mengirim pesan, ya harus ke sana," ujar Nasrullah, Minggu (23/2).

Menariknya, bukit ini bukan tempat wisata atau area komersial. Tidak ada kafe, tidak ada warung kopi, hanya hamparan tanah kosong dan jalanan gelap di malam hari. Namun, setiap malam, warga terutama anak muda, rela berkumpul di sana demi mendapatkan sinyal.

"Kalau malam, pasti ada saja yang ke sana. Gelap, tapi tetap ramai karena itu satu-satunya tempat yang bisa dapat sinyal dengan stabil," tambahnya.

Tradisi Baru: Nongkrong Demi Sinyal
Bagi warga Sinjan yang tidak memiliki Wi-Fi di rumah, naik ke bukit sudah menjadi tradisi baru. Fenomena ini bukan hanya terjadi pada anak muda, tetapi juga pada warga dewasa yang perlu berkomunikasi dengan keluarga atau rekan kerja.

"Kalau di rumah tak ada Wi-Fi, pasti ke bukit. Mau tidak mau, hanya di situ bisa internetan," kata Pomo, warga lainnya.

Ia berharap pihak provider telekomunikasi bisa segera memperluas jaringan mereka di kawasan perbatasan ini. Menurutnya, kemudahan akses komunikasi sangat penting, terutama bagi warga yang memiliki keluarga di luar daerah.

"Kami butuh sinyal yang stabil, biar lebih mudah komunikasi dengan keluarga tanpa harus keluar rumah atau naik ke bukit," harapnya.

Menanti Solusi dari Penyedia Jaringan
Fenomena "berburu sinyal" seperti yang terjadi di Sinjan bukanlah kasus pertama di daerah perbatasan. Kondisi ini mencerminkan ketimpangan akses digital yang masih menjadi tantangan bagi banyak daerah terpencil di Indonesia.

Kini, warga hanya bisa berharap ada perhatian dari pihak penyedia layanan seluler maupun pemerintah daerah untuk segera menghadirkan solusi. Hingga saat itu tiba, bukit Sinjan akan tetap menjadi tempat "nongkrong wajib" bagi mereka yang ingin terhubung dengan dunia luar. (fah)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#sinyal #paloh #internet #sambas #bukit