Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Dari Sambas ke Istana: Petani Berharap Air, Pemerintah Janji Irigasi untuk Swasembada Pangan

Deny Hamdani • Selasa, 5 Agustus 2025 | 16:23 WIB

 

Kunjungan kerja Herzaky Mahendra Putra, Staf Khusus Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), bersama M. Tahid, Kepala Balai Wilayah Sungai Kalimantan I (BWSK I).
Kunjungan kerja Herzaky Mahendra Putra, Staf Khusus Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), bersama M. Tahid, Kepala Balai Wilayah Sungai Kalimantan I (BWSK I).

PONTIANAK POST — Di tengah hamparan sawah yang membentang luas di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, para petani menyimpan harapan besar. Harapan itu bukan hanya soal panen yang melimpah, tapi juga soal keberlanjutan hidup dan kemandirian pangan nasional. Namun, satu kendala besar terus menghambat yakni saluran air.

Ketika musim kemarau tiba, sawah-sawah di Desa Mekar Jaya dan Desa Teluk Pandan mengering. Meski dikelilingi sungai, saluran irigasi yang rusak atau tidak berfungsi membuat petani kesulitan mengairi lahan. Padahal, potensi lahan pertanian di wilayah ini sangat besar. “Dulu kami hanya bisa tanam sekali dalam setahun. Sekarang sudah dua kali, tapi kalau irigasinya bagus, kami yakin bisa tiga kali,” kata Junaidi, Kepala Gapoktan Tunas Muda dari Desa Mekar Jaya, saat menerima kunjungan tim dari Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Sabtu-Minggu (2-3 Agustus 2025).

Pemerintah Pusat Turun Langsung, Dengar Aspirasi Petani

Kunjungan kerja ini dipimpin oleh Herzaky Mahendra Putra, Staf Khusus Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), bersama M. Tahid, Kepala Balai Wilayah Sungai Kalimantan I (BWSK I). Mereka menyusuri desa-desa pertanian di Sambas, termasuk Desa Penakalan, Tri Kembang, Lumbang, Mekar Jaya, hingga Teluk Pandan, untuk melihat langsung kondisi lapangan dan mendengar langsung keluhan petani.

Di Desa Mekar Jaya, lahan pertanian seluas 48 hektare dikelola oleh enam kelompok tani. Meski pernah menerima bantuan benih, mesin, dan pupuk dari pemerintah, produktivitas masih terbatas karena minimnya akses air. Saat ini, hasil panen hanya mencapai 1,8 ton padi per hektare. "Kami butuh saluran irigasi yang bagus, bahkan kalau bisa ada pompa air. Kalau irigasi lancar, sawah bisa terus hijau, bukan kering saat kemarau,” tambah Junaidi.

Tidak hanya sawah, perbaikan irigasi juga akan menguntungkan perkebunan rakyat seperti jeruk dan cabai. “Dampaknya luas. Bukan cuma petani padi, tapi semua petani di sini,” ujar Ajim, Kepala Desa Mekar Jaya.

Potensi Besar, Tapi Infrastruktur Belum Menyusul

Di Desa Teluk Pandan, potensi pertanian bahkan lebih besar. Ada lebih dari 140 hektare lahan sawah yang tersebar di Dusun Sekilah dan Parut Kongsi. Namun, ironisnya, meski daerah ini dikelilingi banyak sungai, tidak ada saluran irigasi sekunder yang berfungsi baik. "Padahal, kalau irigasinya bagus, kita bisa tingkatkan produksi dan perluas lahan. Ini peluang besar untuk swasembada pangan,” kata Junaidi, Kepala Desa Teluk Pandan.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa Kecamatan Galing, tempat Teluk Pandan berada, sebenarnya sudah surplus beras. Dari total produksi 7.711 ton padi (setara 4.626 ton beras), kebutuhan warga hanya sekitar 2.622 ton per tahun. Artinya, ada sisa lebih dari 2.000 ton beras yang bisa dipasarkan. "Ini bukti bahwa petani Sambas mampu. Tapi kalau infrastruktur tidak dibenahi, potensi ini tidak akan maksimal,” kata Suriawan, Camat Galing.

Setelah mendengar langsung keluhan dan harapan petani, Herzaky Mahendra Putra menyatakan bahwa seluruh masukan akan langsung disampaikan kepada Menko AHY dan Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo. "Bapak Menko AHY dan Menteri PUPR sangat peduli terhadap program swasembada pangan yang menjadi prioritas Presiden Prabowo Subianto. Perbaikan irigasi bukan sekadar proyek, tapi bagian dari komitmen nasional,” tegas Herzaky.

Ia menambahkan, perbaikan irigasi bukan hanya soal membangun saluran, tapi juga meningkatkan frekuensi tanam, dari satu kali menjadi dua atau bahkan tiga kali setahun. “Kalau irigasi lancar, petani bisa panen lebih sering, pendapatan naik, dan kemandirian pangan semakin kuat," ucapnya.

Herzaky juga mengajak masyarakat untuk menjaga dan merawat infrastruktur yang nantinya dibangun. “Pemerintah akan bantu, tapi keberhasilan juga tergantung pada kita semua," ucapnya.

Kepala BWSK I, M. Tahid, menegaskan bahwa masih banyak saluran irigasi di Kalimantan Barat yang perlu direhabilitasi. “Kami akan pastikan pembangunan tepat sasaran, benar-benar meningkatkan produktivitas, bukan malah mubazir.”

Kunjungan ini bukan sekadar seremoni. Ini adalah bagian dari Inpres Nomor 2 Tahun 2025 yang digagas Presiden Prabowo untuk mempercepat pembangunan infrastruktur pertanian dan mewujudkan swasembada pangan nasional. Bagi para petani di Sambas, kunjungan ini membawa angin segar. Mereka kini tak hanya bermimpi panen melimpah, tapi juga percaya bahwa suara mereka didengar dari ibu kota.

“Kami siap kerja keras. Yang kami butuhkan cuma satu, air yang bisa mengalir ke sawah kami, kapan pun kami butuhkan,” kata Junaidi, sambil menatap hamparan sawah yang mulai menguning menjelang panen.(den)

Editor : Hanif
#musim kemarau #staf khusus #petani #Swasembada Pangan #Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan #sambas #ketahanan pangan #desa mekar jaya #Tanam Padi #irigasi #Herzaky Mahendra Putra