PONTIANAK POST - Hujan yang turun beberapa hari ini membuat senang sejumlah warga. Terutama mereka yang menggeluti tanaman di lahan pekarangan. Pasalnya saat cuaca panas karena hujan tak ada, diantaranya alami gagal tanam.
Seperti disampaikan Solihin, warga Rambi yang sempat menanam semangka. Namun apa yang dilakukannya alami kegagalan, lantaran cuaca panas ditambah lagi air tak mencukupi untuk menyiram tanamannya. “Sempat menanam semangka, mati semua, kepanasan, daunnya keriting, menghitam dan mati,’ katanya.
Gagalnya tanaman semangka, disebutkan Solihin, lantaran cuaca yang begitu panas. Kemudian untuk pengairan sangat sulit, sehingga ketika berumur sekitar dua minggu, tanaman yang sudah tumbuh layu dan mati. “Kekurangan air, ditambah cuaca panas yang terjadi, jadi semangka gagal,” katanya.
Meski alami kerugian yang lumayan, karena sudah membeli biji dan sejumlah pupuk untuk penanaman, dirinya mencoba lag yakni kali ini menanam cabai. “Sekarang karena hujan sudah turun, kami beralih ke tanaman cabai, mudah-mudahan berhasil,” katanya.
Dirinya berharap, dilahan yang sudah disiapkan, bisa memberikan dampak ekonomi. “Mudah-mudahan abai berhasil, karena semangka sudah gagal, dan kalau memang laku dijual, lumayan nanti untuk menambah pendapatan keluarga,” katanya.
Cuaca panas yang diakibatkan curah hujan berkurang beberapa waktu lalu juga memberikan dampak pada penurunan produksi buah naga sejumlah warga di Kecamatan Jawai.
Hal tersebut disampaikan Koordinator Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Kecamatan Jawai, Darma. Dimana saat curah hujan kurang dan cuaca panas yang terjadi, produksi buah naga di wilayah kerjanya mengalami penurunan.
Cuaca yang panas, terjadi saat tanaman buah naga sedang musim berbunga. Sehingga kondisi yang ada menyebabkan bunga berguguran yang dampaknya mengurangi jumlah buah naga yang dihasilkan. “Cuaca yang terjadi mengganggu buah naga yang sedang berbunga,” katanya.
Tak hanya itu, suhu panas terjadi menyebabkan tanaman buah naga menguning, sehingga berpengaruh pada pertumbuhan bunga.
Atas kondisi yang terjadi, dipastikan akan mempengaruhi jumlah pendapatan warga maupun petani buah naga. Lantaran, hasil produksi yang dijual jumlahnya berkurang.
Namun demikian, adanya kondisi tersebut tak mempengaruhi penjualan buah naga dari Kecamatan Jawai. Lantaran kebutuhan pasar lumayan masih tinggi. “Di sekitar dua mingguan yang lalu, buah naga grade A seharga Rp8.000 per kilogram, dan Alhamdulillah pemasaran buah naga masih tinggi permintaannya,” katanya.
Tak hanya di Kabupaten Sambas maupun Kalimantan Barat, permintaan buah naga terutama petani di Kecamatan Jawai juga ke Pulau Natuna dan Kepulauan Riau. Bahkan belum lama ini, ada permintaan sebanyak 10 ton ke daerah tersebut. (fah)
Editor : Hanif