Poltesa Bantu Peternak Sambas Olah Limbah Kambing Jadi Pupuk Organik Bernilai Ekonomi

Fahrozi PP • Dipublikasikan Kamis, 18 September 2025 | 15:39 WIB
Tim PKM Poltesa saat serahkan bantuan mesin pengolah limbah ternak untuk dijadikan pupuk organik.
Tim PKM Poltesa saat serahkan bantuan mesin pengolah limbah ternak untuk dijadikan pupuk organik.

PONTIANAK POST - Peternak Kambing di Dusun Solor Medan, Desa Sumber Harapan  Kecamatan Sambas. Saat ini sudah bisa mengolah limbah ternaknya menjadi pupuk untuk selanjutnya dijual sehingga ada tambahan ekonomi bagi mereka.

Hal ini menjadi salah satu keberhasilan atas dukungan dari Dosen Politeknik Negeri Sambas, yang memberikan bantuan mesin penghancur kotoran ternak untuk diolah menjadi pupuk organik. Mereka juga mendapatkan pelatihan cara pengoperasiannya.

Bantuan yang diberikan Poltesa, melalui program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang dilaksanakan tim dosen Jurusan Teknik Mesin Poltesa yang terdiri dari Feby Nopriandy S.T., M.Si dan Suhendra, S.T., M.Sc. 

“Bantuan teknologi pengolahan kotoran ternak berupa mesin penghancur kotoran ternak didukung anggaran DIPA Politeknik Negeri Sambas tahun 2025. Dalam kegiatan, juga melibatkan berbagai pihak seperti mahasiswa Jurusan Teknik Mesin, Teknisi, P3M, institusi dan mitra,” kata Feby Nopriandy.

Mitra dalam kegiatan Penerapan Iptek Bagi Masyarakat (PIM) ini adalah kelompok ternak Kambing Sekajau Mandiri di Dusun Solor Medan, Desa Sumber Harapan Kecamatan Sambas. “Kelompok ternak ini menjalankan usaha pembesaran ternak dan biasanya menjual kotoran kambing sebagai pupuk organik kepada petani. Dimana selama ini dalam bentuk butiran kasar,” katanya.

Sehingga, atas kondisi yang ada. Melalui PKM, bagaimana memberikan sentuhan teknologi, agar kotoran ternak bisa diolah terlebih dahulu menjadi pupuk organik dengan harga yang lebih tinggi. Sehingga kotoran kambing yang dijual bukan hanya dikeringkan, tanpa melakukan proses penghalusan. Selain itu, peternak juga menggunakan cairan EM4 untuk mempercepat proses penguraian kotoran kambing. Walaupun sudah menggunakan EM4, kotoran dalam bentuk butiran memerlukan waktu yang relatif lama untuk terurai.

Ditambahkan Suhendra, bantuan mesin ini diharapkan mempermudah proses dekomposisi, sehingga pupuk kotoran ternak mereka, bisa dijual dengan produk yang lebih baik dengan harapan menambah ekonomi.

“Upaya untuk mengatasi permasalah ini adalah dengan penerapan teknologi mesin penghancur kotoran kambing. Mesin ini dapat menjadi alternatif dalam pengolahan limbah ternak. Teknologi ini tidak hanya berfungsi mempermudah proses dekomposisi, tetapi juga mampu meningkatkan homogenitas bahan baku pupuk, sehingga menghasilkan produk yang lebih seragam dan berkualitas tinggi,” kata Suhendra.

Mesin ini juga berperan penting dalam mempercepat waktu pengomposan, menurunkan kadar air, serta mengurangi volume kotoran yang semula berukuran besar menjadi lebih kecil dan mudah diolah. “Melalui bantuan mesin penghancur kotoran ternak ini diharapkan dapat membantu mitra memperkuat nilai produk peternakan melalui peningkatan daya jual pupuk organik lokal, yang semakin diminati seiring meningkatnya tren pertanian organik dan kesadaran konsumen akan keberlanjutan,” katanya.(fah/*)

Editor : Hanif
mesin Pupuk Organik kambing peternak kotoran sambas limbah penghancur poltesa