Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Kuota Solar Bersubsidi Tak Cukup, Nelayan Jawai Minta Penambahan untuk Keberlanjutan Aktivitas Laut

Fahrozi PP • Kamis, 22 Januari 2026 | 13:46 WIB
BERSANDAR: Kapal kapal nelayan yang bersandar. Sejumlah nelayan di Kecamatan Jawai, Kabupaten Sambas, meminta adanya penambahan kuota solar bersubsidi
BERSANDAR: Kapal kapal nelayan yang bersandar. Sejumlah nelayan di Kecamatan Jawai, Kabupaten Sambas, meminta adanya penambahan kuota solar bersubsidi

PONTIANAK POST - Sejumlah nelayan di Kecamatan Jawai, Kabupaten Sambas, meminta adanya penambahan kuota solar bersubsidi untuk nelayan. Pasalnya, jatah yang ada saat ini belum mencukupi untuk turun ke laut.

Salah satu nelayan Kecamatan Jawai Iskandar menyebutkan kebutuhan untuk sekali melaut rata-rata 10 liter solar. Sementara ini, jatah yang diterima hanya berkisar delapan hingga 11 liter per Minggu.

“Saat ini jatah yang kami terima hanya sekitar 8 sampai 11 liter per minggu. Jumlah itu jelas sangat kurang dari kebutuhan untuk melaut. Bahkan, tidak jarang nelayan sudah mengantre di SPBU namun sudah kehabisan solar,” kata Iskandar.

Kondisi ini bukan kali ini terjadi, namun sudah kerap dihadapi para nelayan termasuk dirinya Bahkan, apa yang dialami sudah disampaikan ke pihak atau instansi terkait, namun belum juga ada tindak lanjut.

“Kami para nelayan sudah sampaikan masalah ini ke instansi terkait, termasuk ke pihak SPBU. Namun memang belum ada solusi nyata yang ada hanya karena alasan keterbatasan kuota,” katanya.

Sebagai nelayan, sangat berharap adanya penambahan kuota solar, setidaknya ditambah 16.000 liter lagi per bulan. “Kami juga bertanya ke daerah lain, ternyata kebutuhan solar nelayan bisa mencapai lebih dari 200.000 liter per bulan, sementara kami hanya mengandalkan satu kuota yang dibagi untuk dua kecamatan,” katanya.

Jika permasalahan susahnya mendapatkan solar, dikhawatirkan akan mengancam kehidupan para nelayan. Lantaran, sebagai nelayan solar menjadi penting dan diperlukan untuk turun ke laut. “Sulit dan kecilnya kuota mendapatkan solar bersubsidi, akan  berdampak langsung pada aktivitas melaut,” katanya.

Kuota solar nelayan yang tersedia saat ini sekitar 16.000 liter per bulan. Jumlah tersebut, harus dibagi untuk dua kecamatan, yakni Jawai dan Jawai Selatan, dengan jumlah kapal yang mengambil solar tercatat sekitar 325 unit. Padahal, total kapal nelayan di dua kecamatan tersebut diperkirakan mencapai 520 unit.

Sehingga jumlah kuota dibandingkan jumlah kapal nelayan, yang belum sebanding. Nelayan hanya menerima dengan jumlah kecil. “Jumlah yang kami terima jelas tidak mencukupi untuk melaut,” katanya.

Keterbatasan solar, akan berdampak pada aktivitas melaut yang nantinya berimbas pada jumlah tangkapan yang berpengaruh pada tingkat pendapatan nelayan.

“Keterbatasan solar yang diterima nelayan, membatasi aktivitas melaut. Pernah juga nelayan yang kehabisan solar di tengah laut karena membawa bahan bakar pas-pasan. Jadi kami berharap nasib nelayan Jawai diperhatikan, terutama terkait ketersediaan solar bersubsidi agar kami bisa melaut dengan aman dan layak,” katanya. (fah)

Editor : Hanif
#spbu #KETERBATASAN SOLAR #Jawai #kalimantan barat #nelayan #sambas #KEBUTUHAN NELAYAN #PERTANIAN LAUT