PONTIANAK POST - Abrasi pantai di Desa Matang Danau, Kecamatan Paloh, dikhawatirkan warga. Pasalnya berdasarkan Surat Keterangan Tanah (SKT) milik warga di 1970, berjarak 400 meter namun ditahun ini tersisa hanya dua meter jarak bibir pantai dengan daratan atau badan jalan.
Atas kondisi tersebut, masyarakat menyambut baik pembangunan sarana penahan ombak yang saat ini ada. Hanya saja, kedepannya proyek tersebut harus terus ada agar abrasi bisa dicegah di beberapa titik lainnya.
Kepala Desa Matang Danau Halipi menyampaikan abrasi yang terjadi di wilayahnya, cukup berat. Pasalnya, jika dilihat berdasarkan data Surat Keterangan Tanah (SKT) warga di 1970-an, jarak dari daratan ke bibir laut dulunya mencapai sekitar 400 meter. Tapi sekarang tinggal dua meter.
“Ada daratan yang hilang karena abrasi dan jumlahnya luar biasa, karena sekarang ini tinggal dua meter dari badan jalan. Artinya ada penyusutan drastis selama kurun waktu tersebut,” kata Halipi.
Baca Juga: Perumdam Tirta Melawi Gelar Bimtek Keterbukaan Informasi Publik, Perkuat Peran PPID
Kondisi tersebut mewajibkan adanya penanganan serius dilakukan. Sehingga abrasi yang terjadi tak sampai memutus jalan yang ada di wilayahnya. “Kondisi yang ada, harus disikapi dengan cepat, karena kalau tidak, bisa memutus jalan antar desa,” katanya.
Pihaknya mengapresiasi pemerintah kabupaten, DPRD kabupaten, pemerintah provinsi, DPRD Provinsi Kalbar hingga pusat yang sudah mengalokasikan proyek untuk pembangunan penahan abrasi di wilayahnya.
Diharapkan apa yang sedang dilaksanakan bisa lancar. Dimana untuk penahanan abrasi pantai di Matang Danau, pembangunan ditargetkan rampung pada Mei 2026, dengan masa pemeliharaan selama delapan bulan.
Meski demikian, masyarakat berharap program pembangunan penahan abrasi ini. Terus berlanjut di tahun-tahun berikutnya. Pasalnya, masih ada beberapa titik rawan abrasi yang perlu segera ditangani.
“Kalau masyarakat berharap pemerintah terus melaksanakan program pembangunan penahan abrasi. Sehingga daerah yang terancam abrasi bisa dicegah sehingga tak mengancam aktivitas masyarakat,” katanya.
Baca Juga: Pengamat Apresiasi Sidak Kementan, Stok Beras Nasional Dinilai Melimpah dan Transparan
Terlebih, sebagian wilayah yang belum tertangani masih berpotensi terdampak abrasi dan mengancam akses antar desa. Lantaran, proyek tersebut merupakan jawaban atas keluhan panjang masyarakat yang selama ini khawatir akan dampak abrasi yang kian mengkhawatirkan.
“Mengingat masih ada titik-titik rawan yang berpotensi terputus. Seperti sekitar 270 meter jalan penghubung antar Desa Matang Danau dengan Desa Kalimantan yang harus mendapatkan perhatian, lantaran jika dihitung ada pengikisan daratan sekitar delapan meter setiap tahun akibat gelombang air laut,” katanya. (fah)
Editor : Hanif