PONTIANAK POST - Pemilihan Ketua OSIS SMP Negeri 1 Tebas digelar dengan asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil, menghadirkan simulasi demokrasi bagi para pelajar di Kabupaten Sambas.
Pembina OSIS Selvi Lestari mengatakan kegiatan itu menjadi bagian pendidikan karakter agar siswa memahami praktik demokrasi sejak dini melalui penggunaan hak suara secara bertanggung jawab.
Menurut Selvi, konsep pemilihan dirancang menyerupai pemilihan umum agar siswa tidak hanya mengenal teori demokrasi, tetapi mengalami langsung proses pemilihan yang terbuka, tertib, dan adil.
Ia menegaskan sekolah berharap ketua OSIS terpilih mampu membawa perubahan positif sekaligus mendorong kegiatan pelajar yang lebih aktif dan produktif.
Baca Juga: Konflik Aset Vihara di Jelutung Sambas Berlarut, Umat Buddha Akan Sampaikan Aspirasi ke DPR RI
“Terlaksananya pemilihan OSIS di SMP Negeri 1 Tebas, menjadi komitmen dalam menumbuhkan nilai-nilai demokrasi sejak dini di kalangan pelajar,” kata Selvi.
Pemilihan Ketua OSIS tahun ajaran 2026/2027 itu digelar bertepatan dengan peringatan Hari Kartini sehingga seluruh siswa mengenakan pakaian adat daerah sebagai simbol semangat kepemimpinan dan emansipasi.
Nuansa itu memberi warna dalam kegiatan, karena demokrasi pelajar dipadukan dengan pendidikan budaya dan nilai perjuangan yang dekat dengan kehidupan siswa.
Sebanyak enam kandidat ikut bersaing, yakni Reva Almahyra, Caroline Listen We, Eka Widiastuti, Merri Latifa, Larssen Hazuky, dan Delvin Azury, setelah sebelumnya menyampaikan visi dan misi dalam kampanye terbuka di sekolah.
Pemungutan suara berlangsung tertib dengan partisipasi aktif siswa, guru, dan panitia, lalu dilanjutkan penghitungan suara secara terbuka.
Baca Juga: Pemkab Kayong Utara Mulai Persiapan Pilkades 2027, Targetkan Pemimpin Desa Berkualitas
Larssen Hazuky, calon nomor urut lima, meraih suara terbanyak dan terpilih sebagai Ketua OSIS baru, yang disambut antusias para siswa, terutama rekan sekelasnya.
Dalam pidato pertamanya, Larssen menyampaikan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan dan berkomitmen menjalankan amanah untuk membangun lingkungan sekolah yang bersih, aktif, kreatif, dan inspiratif.
Kegiatan itu menjadi gambaran bagaimana pendidikan demokrasi tidak hanya diajarkan di ruang kelas, tetapi dipraktikkan langsung melalui pengalaman yang melibatkan siswa sebagai pelaku utama. (fah)
Editor : Hanif