Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Dinkes Sambas Imbau Warga Terapkan PHBS Cegah Penyebaran Hantavirus di Kalbar

Fahrozi PP • Selasa, 12 Mei 2026 | 10:42 WIB
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sambas, dr Ganjar
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sambas, dr Ganjar

PONTIANAK POST - Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sambas, dr Ganjar Eko Prabowo mengharapkan masyarakat untuk tetap menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) guna menghindari terjangkitnya virus berbahaya, termasuk Hantavirus yang sudah ditemukan kasusnya di Kalimantan Barat.

dr Ganjar menyebutkan penerapan PHBS menjadi upaya penting dalam rangka mencegah penyebaran virus. Masyarakat juga diminta tidak panik, namun bagaimana menjaga kebersihan, dimulai dari lingkungan rumah dan tempat tinggal.

“Jangan panik, namun masyarakat harus meningkatkan penerapan perilaku hidup bersih dan sehat dalam kehidupan sehari-hari,” kata Ganjar, Senin (11/5).

Menurutnya, hantavirus yang penyebarannya bisa melalui hewan pengerat, seperti tikus. Bagaimana masyarakat bisa lebih untuk menjaga agar hewan-hewan tersebut tidak sampai masuk ke rumah, diantaranya dengan membersihkan rumah karena kalau kotor akan menjadi tempat yang disenangi hewan pengerat.

Baca Juga: Satu Kontak Erat Hantavirus Dikarantina di Jakarta, Pernah Satu Pesawat dengan Pasien Kapal Pesiar yang Meninggal

“Kalau membersihkan rumah yang kemungkinan ada tempat sarang hewan pengerat, gunakan masker. Kemudian cuci tangan sampai bersih ketika sudah melakukan bersih -bersih,” katanya.

Langkah sederhana seperti menjaga kebersihan rumah, menutup akses tikus, membersihkan kotoran tikus dengan desinfektan, hingga menggunakan masker saat membersihkan ruangan berdebu dinilai sangat penting untuk menekan risiko penularan.

Hindari kontak langsung dengan air banjir atau area lembab yang berpotensi tercemar urin tikus karena dapat meningkatkan risiko penyakit zoonosis lain seperti leptospirosis.

Dirinya juga mengharapkan kepada masyarakat mengenali gejala-gejala jika terjangkit virus tersebut. Kemudian segeralah membawa ke tempat fasilitas pelayanan kesehatan jika ada anggota keluarga dicurigai bergejala.

“Periksa ke fasilitas kesehatan terdekat, jika menemukan gejala. Jangan ditunda–tunda lagi, jangan remehkan jika anggota keluarga terkena flu dan demam,” katanya.

Baca Juga: Waspadai Ancaman Virus Hanta dari Kapal Pesiar, DPR Desak Penguatan Skrining Kesehatan di Pelabuhan

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes Aji Muhawarman mengatakan Kalimantan Barat masuk dalam daftar provinsi yang menemukan kasus positif hantavirus di Indonesia. Di tengah meningkatnya kewaspadaan global akibat wabah di kapal pesiar MV Hondius, kemunculan satu kasus di Kalbar menjadi alarm baru terhadap ancaman penyakit yang ditularkan tikus tersebut.

 

Hingga kini terdapat 251 kasus suspek virus Hanta di Indonesia. Dari jumlah tersebut, 23 kasus dinyatakan positif, 221 negatif, empat masih dalam pemeriksaan, dan tiga kasus tidak dapat diambil spesimen.
Data Kementerian Kesehatan mencatat, sepanjang 2024 hingga pekan ke-16 tahun 2026 terdapat 23 kasus positif hantavirus di Indonesia. Kasus terbanyak ditemukan di DKI Jakarta dan DI Yogyakarta masing-masing enam kasus, disusul Jawa Barat lima kasus.

Sementara Kalbar, Sumatera Barat, Banten, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, dan Jawa Timur masing-masing satu kasus. Meski jumlah kasus di Kalbar masih minim, para ahli mengingatkan masyarakat tidak menganggap remeh ancaman hantavirus.

Penyakit zoonosis ini ditularkan melalui hewan pengerat seperti tikus dan curut, terutama dari urin, feses, air liur, maupun debu yang terkontaminasi virus.

Kondisi lingkungan padat penduduk, sanitasi buruk, genangan air, hingga tingginya populasi tikus dinilai menjadi faktor yang meningkatkan risiko penularan. Situasi itu masih ditemukan di sejumlah kawasan perkotaan maupun permukiman di Kalbar.

Aji Muhawarman juga menyampaikan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melakukan pemantauan di pintu masuk negara seperti bandara dan pelabuhan. Hal ini dilakukan menyusul munculnya kasus hantavirus strain Andes yang bisa menyebar antarmanusia di Kapal MV Hondius. Namun, pemerintah belum memberlakukan pembatasan maupun pelarangan perjalanan internasional terkait penyakit tersebut. Langkah pengawasan dilakukan oleh petugas kesehatan di berbagai pintu masuk negara sesuai rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Epidemiolog Griffith University Australia Dicky Budiman menyebut hantavirus sebenarnya bukan ancaman baru di Indonesia. Namun banyak kasus diduga tidak terdeteksi karena gejalanya mirip penyakit lain seperti demam berdarah, tifus, atau leptospirosis. “Fenomena yang terjadi seperti gunung es. Yang terlihat hanya sedikit, sementara kemungkinan kasus sebenarnya lebih besar,” katanya.

Menurut Dicky, seseorang tidak harus digigit tikus untuk tertular hantavirus. Virus bisa masuk melalui udara yang tercemar partikel urin atau kotoran tikus yang mengering. “Ketika menyapu gudang kotor atau ruangan lembab penuh debu tanpa masker, itu juga bisa menjadi risiko,” ujarnya.

Hantavirus dapat memicu dua penyakit serius, yakni Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal dan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru hingga menyebabkan gagal napas akut.(fah)

Editor : Hanif
#hantavirus #kalimantan barat #virus #Dinkes Sambas #PHBS