Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Untan Temukan Potensi Energi Terbarukan 466 MW di Sambas, Bisa Hidupkan 4,6 juta Lampu Jalan Raya

Aristono Edi Kiswantoro • Senin, 25 Mei 2026 | 22:37 WIB
SAWIT: Hamparan kebun sawit di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Pemerintah bakal membatasi ekspor sawit tahun depan, demi memenuhi bahan baku untuk biosolar.
SAWIT: Hamparan kebun sawit di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Pemerintah bakal membatasi ekspor sawit tahun depan, demi memenuhi bahan baku untuk biosolar. (FOTO MEIDY KHADAFI/PONTIANAK POST)

 

PONTIANAK POST — Universitas Tanjungpura melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) menemukan potensi pengembangan tiga jenis energi terbarukan unggulan di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, dengan total kapasitas mencapai 466 megawatt (MW).

Kapasitas 466 MW yang ditemukan dalam penelitian tersebut diperkirakan juga mampu menghidupkan sekitar 4,6 juta lampu jalan raya tipe LED 100 watt secara bersamaan. Atau mencukupi kebutuhan listrik sekitar 517.000 rumah, yang masing-masing 900 VA.

Potensi ini dinilai dapat memperkuat pasokan listrik kawasan perbatasan sekaligus mendukung efisiensi energi dan pengurangan emisi karbon di Kalimantan Barat.

Ketua Tim Peneliti LPPM Untan, Erdi, mengatakan penelitian tersebut dilakukan untuk mendorong pengurangan emisi karbon sekaligus memperkuat ketahanan listrik di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia.

“Kami sudah menemukan tiga jenis energi terbarukan unggulan Kabupaten Sambas yang dapat dikembangkan potensinya untuk mendukung kebutuhan listrik sekaligus menekan emisi karbon di Kalbar,” kata Erdi di Pontianak, Senin (25/5/2026).

Tiga Energi Unggulan: Surya, Air, dan Biomassa

Dalam pemaparan hasil penelitian berjudul “Analisis Potensi Energi Terbarukan sebagai Alternatif Pengurangan Emisi Karbon di Kalbar”, Erdi menjelaskan tiga sumber energi unggulan yang dinilai paling potensial dikembangkan di Sambas adalah tenaga surya, tenaga air, dan biomassa.

Dari total potensi 466 MW tersebut, energi surya mendominasi sebesar 45 persen. Sementara biomassa menyumbang 35 persen dan tenaga air sekitar 20 persen.

Penelitian kolaborasi bersama Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah Provinsi Kalimantan Barat itu juga memetakan wilayah prioritas pengembangan energi bersih di Kabupaten Sambas.

“Kami juga telah memetakan wilayah atau basis potensial tiga jenis energi terbarukan ini,” ujar Erdi.

Wilayah Potensial Energi Surya di Sambas

Energi surya dinilai sangat potensial dikembangkan di sejumlah kecamatan yang memiliki intensitas cahaya matahari tinggi, seperti:

Sementara potensi tenaga air dapat dikembangkan di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Sambas, DAS Sebangkau, dan DAS Paloh.

Untuk biomassa, pengembangan diarahkan pada 11 perkebunan kelapa sawit swasta skala besar di Sambas dengan estimasi potensi realistis mencapai 93,8 MW.

Warga Kecamatan Sajingan Besar, Dedi, mengatakan kebutuhan listrik yang stabil masih menjadi harapan masyarakat di kawasan perbatasan. Menurut dia, pasokan listrik yang andal sangat penting untuk menunjang aktivitas rumah tangga, pendidikan anak, hingga usaha kecil warga.

“Kalau listrik stabil, aktivitas masyarakat jauh lebih terbantu. Anak-anak bisa belajar malam hari, usaha kecil juga bisa berjalan lebih baik,” kata Dedi.

Ia berharap potensi energi terbarukan yang sedang diteliti dapat benar-benar direalisasikan sehingga masyarakat perbatasan tidak lagi khawatir terhadap gangguan pasokan listrik.

Tekan Emisi Karbon Hingga 97 Ribu Ton CO2

Tim peneliti memperkirakan pengembangan energi terbarukan tersebut mampu menekan emisi gas rumah kaca di Kabupaten Sambas sebesar 32 ribu hingga 97 ribu ton CO2 per tahun.

Angka itu dinilai signifikan dibanding baseline emisi daerah yang berada pada kisaran 108 ribu hingga 162 ribu ton CO2 per tahun.

Menurut Erdi, hasil penelitian ini juga sejalan dengan target pemerintah Indonesia dalam menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 31,89 persen secara mandiri dan hingga 43,20 persen dengan dukungan internasional pada 2030.

“Pengembangan pembangkit energi terbarukan ini juga akan menambah bauran energi bersih,” katanya.

Kalbar Dinilai Masih Bergantung pada Listrik Malaysia

Selain menekan emisi, pengembangan energi bersih di Sambas dinilai penting untuk memperkuat kemandirian energi Kalimantan Barat.

Hingga kini, sebagian pasokan listrik Kalbar masih bergantung pada impor listrik dari Malaysia, terutama untuk menjaga stabilitas pasokan di wilayah tertentu.

“Selain itu menambah kehandalan daya listrik karena sampai saat ini PLN masih mengimpor listrik dari Malaysia untuk menerangi Kalbar,” ujar Erdi.

PT PLN sebelumnya juga menyatakan Kalimantan Barat masih membutuhkan pasokan listrik dari Malaysia karena keterbatasan interkoneksi transmisi antarsistem di Pulau Kalimantan. Pada 2019, kebutuhan listrik Kalbar tercatat sekitar 450 MW dengan sebagian pasokan berasal dari Sarawak Energy Malaysia.

Biomassa Sawit Dinilai Paling Cepat Direalisasikan

Ketua Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia Kalimantan Barat, Haryanto, menilai pengembangan biomassa dari limbah cair kelapa sawit menjadi salah satu peluang paling realistis di Kalbar.

Menurut dia, Kalbar memiliki lebih dari 100 perkebunan kelapa sawit skala besar yang dapat menjadi sumber energi alternatif berbasis limbah industri.

“Apalagi sudah ada program Palm Oil Mill Effluent atau POME atau limbah cair kelapa sawit yang mampu menghasilkan gas metan yang berguna untuk energi listrik alternatif,” katanya.

Ia menambahkan kolaborasi pengembangan energi biomassa bersama PLN sebenarnya sudah mulai dibangun. Namun, realisasi proyek dinilai masih membutuhkan percepatan investasi dan dukungan kebijakan.

Dampak Langsung bagi Masyarakat Perbatasan

Pengembangan energi terbarukan di Sambas dinilai bukan hanya soal transisi energi, tetapi juga menyangkut pemerataan akses listrik dan kualitas hidup masyarakat perbatasan.

Ketersediaan listrik yang stabil dapat mendukung aktivitas pendidikan, layanan kesehatan, usaha kecil, hingga penguatan ekonomi desa di kawasan yang berbatasan langsung dengan Malaysia. (ars/ant)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#energi terbarukan Sambas #listrik Kalimantan Barat #energi surya Kalbar #biomassa sawit #impor listrik Malaysia.