PONTIANAK POST – Ribuan petani kelapa sawit swadaya di Kabupaten Sambas menghadapi tekanan berat setelah harga tandan buah segar (TBS) sawit anjlok ke level terendah dalam tiga tahun terakhir. Di saat biaya pupuk, pestisida, dan perawatan kebun tetap tinggi, pendapatan petani justru menyusut drastis akibat merosotnya harga jual hasil panen.
Kondisi ini mendorong petani meminta Presiden Prabowo Subianto segera turun tangan mengambil langkah konkret untuk menstabilkan harga sawit sekaligus menekan biaya produksi yang semakin membebani masyarakat perkebunan.
Anton, seorang petani sawit di Kabupaten Sambas, mengaku penurunan harga TBS langsung memukul ekonomi keluarganya. Sebagian besar kebutuhan rumah tangga selama ini bergantung pada hasil panen sawit.
"Jauh berkurang pendapatan keluarga saat panen sawit karena harga jual TBS turun," ujarnya, Senin (1/6).
Menurut Anton, beban petani semakin berat karena biaya produksi tidak ikut turun. Harga pupuk, pestisida, ongkos panen, hingga biaya angkut masih berada pada level tinggi.
"Harga pupuk tinggi, sedangkan harga jual kelapa sawit turun," katanya.
Ketua DPD Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Kabupaten Sambas, Abelnus, mengatakan keluhan petani terus berdatangan dalam beberapa pekan terakhir.
Menurutnya, harga TBS di tingkat pabrik masih berada pada kisaran Rp2.300 hingga Rp2.500 per kilogram. Namun kondisi berbeda dialami petani swadaya yang menjual hasil panennya melalui RAM atau pengepul.
Harga yang sebelumnya berada di kisaran Rp2.700 per kilogram kini merosot tajam menjadi hanya Rp1.300 hingga Rp1.800 per kilogram sejak 19 Mei 2026.
"Kalau sebelumnya harga TBS di tingkat pengepul berada di kisaran Rp2.700 per kilogram," kata Abelnus.
Penurunan tersebut menjadi yang terendah dalam tiga tahun terakhir dan berdampak langsung terhadap pendapatan ribuan keluarga petani sawit di Kabupaten Sambas.
Abelnus menilai dampak anjloknya harga sawit tidak berhenti pada petani. Jika berlangsung dalam waktu lama, kondisi tersebut berpotensi mengganggu perekonomian daerah secara lebih luas.
Kabupaten Sambas merupakan salah satu sentra perkebunan sawit di Kalimantan Barat. Banyak warga, termasuk masyarakat di kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia, menggantungkan sumber penghasilan utama dari komoditas tersebut.
Ketika harga sawit jatuh, daya beli masyarakat ikut melemah. Dampaknya merembet ke sektor perdagangan, jasa, hingga perputaran ekonomi di tingkat desa.
Apkasindo Sambas berharap pemerintah pusat segera mengambil langkah yang berpihak kepada petani sawit swadaya yang paling rentan terhadap fluktuasi harga.
"Kami berharap Presiden RI Prabowo Subianto segera mengambil langkah konkret yang berpihak kepada petani sawit swadaya. Selain melakukan penyesuaian harga TBS, juga diharapkan bisa menekan harga pupuk dan pestisida agar beban petani tidak semakin berat," ujar Abelnus.
Menurutnya, stabilitas harga sawit bukan hanya menyangkut komoditas perkebunan. Bagi masyarakat pedesaan, sawit menjadi sumber biaya pendidikan anak, kebutuhan rumah tangga, hingga penggerak utama ekonomi desa.
"Harga sawit yang sehat berarti menjaga dapur keluarga petani tetap menyala dan roda ekonomi desa terus berputar," tegasnya.
Di tengah ketidakpastian harga, petani berharap pemerintah segera menghadirkan solusi yang mampu menjaga keseimbangan antara harga jual hasil panen dan biaya produksi.
Bagi ribuan keluarga petani di Sambas, persoalan ini bukan sekadar angka di pasar komoditas. Ini menyangkut keberlangsungan hidup, pendidikan anak-anak, dan masa depan masyarakat yang selama ini menggantungkan harapan pada kebun sawit yang mereka rawat setiap hari. (fah)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro