Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Harga Pertamax Naik, Warga Sambas Mulai Beralih Menggunakan Pertalite Subsidi

Fahrozi PP • Jumat, 12 Juni 2026 | 11:05 WIB
Kenaikan harga Pertamax memicu keluhan pengguna kendaraan. (ANTARA FOTO/APRILLIO AKBAR)
Kenaikan harga Pertamax memicu keluhan pengguna kendaraan. (ANTARA FOTO/APRILLIO AKBAR)

PONTIANAK POST - Kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax memicu keluhan warga di Kabupaten Sambas karena dinilai menambah beban pengeluaran di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil, bahkan sebagian pengguna mulai mempertimbangkan beralih ke Pertalite yang lebih murah.

Salah seorang warga Kota Sambas, Isar, mengaku sebelumnya menggunakan Pertalite untuk kendaraan bermotornya, namun kemudian beralih ke Pertamax karena lebih mudah diperoleh tanpa harus mengantre panjang di SPBU.

“Karena selama ini lebih mudah mendapatkan BBM Pertamax dibanding Pertalite, meski ada selisih harga saat itu,” kata Isar, Kamis (11/6).

Namun, setelah pemerintah menetapkan penyesuaian harga Pertamax, Isar menilai biaya operasional kendaraannya menjadi lebih berat.

“Kalau harga sekarang akan memberatkan bagi saya karena ada sekitar Rp3 ribu per liter kenaikannya. Kalau uang saya Rp50 ribu, sekarang hanya dapat sekitar tiga liter Pertamax,” ujarnya.

Mulai Melirik BBM Subsidi

Perbedaan harga yang cukup lebar antara Pertamax dan Pertalite membuat sebagian masyarakat mulai mempertimbangkan perubahan pola konsumsi bahan bakar.

“Kalau kondisi seperti ini bisa saja nanti kami pengguna Pertamax beralih ke Pertalite,” kata Isar.

Kondisi tersebut menunjukkan sensitivitas masyarakat terhadap perubahan harga energi, terutama bagi kelompok yang menggunakan kendaraan setiap hari untuk bekerja dan beraktivitas.

Berdampak pada Biaya Transportasi

Keluhan serupa disampaikan Apri, warga yang menggunakan kendaraan roda empat sebagai sumber mata pencaharian.

Menurutnya, kenaikan harga Pertamax berpotensi meningkatkan biaya operasional sehingga berdampak pada tarif jasa transportasi yang diberikan kepada pelanggan.

“Kalau harga yang sekarang ini, terpaksa nanti kami menyampaikan kepada penumpang atau penyewa mobil bahwa ada penyesuaian tarif karena harga Pertamax naik,” katanya.

Apri menilai penyesuaian tarif menjadi langkah yang sulit dihindari agar usaha yang dijalankannya tetap dapat menutupi biaya operasional kendaraan.

Pertalite dan Biosolar Tetap Tidak Berubah

Berdasarkan penyesuaian terbaru, harga Pertamax naik dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter, sedangkan di wilayah Kalimantan mencapai Rp16.650 per liter.

Kenaikan juga terjadi pada Pertamax Green 95 yang sebelumnya dijual Rp12.900 per liter dan kini menjadi Rp17.000 per liter.

Di tengah kenaikan BBM nonsubsidi tersebut, pemerintah melalui Pertamina memastikan harga BBM subsidi tetap dipertahankan untuk menjaga daya beli masyarakat.

Saat ini Pertalite masih dijual Rp10.000 per liter, sementara Biosolar tetap Rp6.800 per liter.

Kebijakan mempertahankan harga BBM subsidi diharapkan dapat membantu masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah yang sangat bergantung pada kendaraan untuk kebutuhan sehari-hari maupun mencari nafkah. (fah)

Editor : Hanif
#Pertalite subsidi #pertamax #bbm #sambas #harga naik