PONTIANAK POST - Petani kelapa di Desa Arung Parak, Kecamatan Tangaran, Kabupaten Sambas, mengeluhkan rendahnya harga jual kelapa yang kini hanya berkisar Rp2.200 per kilogram dan meminta pemerintah segera mengambil langkah untuk membantu memperbaiki kondisi tersebut.
Ema, petani kelapa asal Desa Arung Parak, mengatakan harga kelapa saat ini jauh lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya yang sempat mencapai Rp6.000 per kilogram.
"Harga kelapa di desa kami sekarang Rp2.200 per kilogram, padahal sebelumnya pernah menyentuh Rp6.000 per kilogram," ujar Ema, belum lama ini.
Menurut Ema, meski harga sempat naik dari Rp1.800 menjadi Rp2.200 per kilogram sejak awal tahun 2026, kenaikan tersebut masih belum mampu menutupi biaya perawatan dan pemanenan kebun kelapa.
Baca Juga: Kejagung Ungkap Peran Andri di Korupsi MBG, Mark Up Harga Motor dan Manipulasi Dokumen Pengadaan
Penghasilan Petani Tertekan
Ema menuturkan anjloknya harga kelapa berdampak langsung terhadap pendapatan petani karena hasil penjualan tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan selama proses produksi.
"Kalau harga sekarang memang tidak sebanding dengan pengeluaran untuk perawatan dan pemanenan, tetapi kelapa tetap harus dipanen agar pohonnya terus berbuah," katanya.
Ia berharap pemerintah melalui instansi terkait dapat membantu mencari solusi agar harga kelapa kembali membaik sehingga perekonomian masyarakat yang bergantung pada komoditas tersebut dapat pulih.
Keluhan Serupa dari Petani Jawai
Keluhan serupa juga disampaikan Nasrullah, pemilik kebun kelapa di Kecamatan Jawai, Kabupaten Sambas, yang merasakan penurunan harga sejak Desember 2025 hingga pertengahan 2026.
Menurut Nasrullah, harga kelapa yang sebelumnya berada di kisaran Rp6.000 per kilogram kini turun drastis dan membuat petani kesulitan memperoleh keuntungan dari hasil panen.
Baca Juga: Pertamax Naik, Mengapa Mobil Hybrid Dinilai Jadi Pilihan Paling Rasional? Ini Alasannya
"Penurunan harga jual buah kelapa ini cukup signifikan. Dulu harganya sekitar Rp6.000 per kilogram, kemudian terus turun hingga sekarang," ujarnya.
Nasrullah menjelaskan sebagian besar petani masih memanen kelapa secara mandiri dengan menggunakan galah panjang dan melibatkan anggota keluarga untuk menekan biaya tenaga kerja.
"Kami biasanya memanen sendiri bersama keluarga menggunakan galah panjang untuk menurunkan buah kelapa," katanya.
Harga Terus Menurun Sejak Akhir 2025
Nasrullah mengungkapkan harga kelapa tertinggi terjadi pada November hingga Desember 2025 dengan rata-rata mencapai Rp6.000 per kilogram.
Memasuki Februari 2026, harga turun menjadi sekitar Rp4.000 per kilogram sebelum kembali merosot ke kisaran Rp2.800 per kilogram dan kini berada pada level yang lebih rendah di sejumlah wilayah.
Ia mengaku tidak mengetahui secara pasti penyebab turunnya harga kelapa, namun dampaknya sangat dirasakan petani karena proses panen, pengupasan, hingga penjualan membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit.
Kondisi tersebut membuat petani berharap adanya perhatian pemerintah untuk menjaga stabilitas harga dan melindungi pendapatan masyarakat yang menggantungkan hidup dari sektor perkebunan kelapa di Kabupaten Sambas. (fah)
Editor : Hanif