Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Festival Turun Sungai Sambut Muharram di Desa Tengguli Sambas, Dimeriahkan 30 Perahu Hias

Fahrozi PP • Jumat, 19 Juni 2026 | 17:37 WIB
Sebanyak 30 perahu hias meriahkan Festival Turun Sungai di Desa Tengguli untuk menyambut Muharram.
Sebanyak 30 perahu hias meriahkan Festival Turun Sungai di Desa Tengguli untuk menyambut Muharram.

PONTIANAK POST - Sebanyak 30 perahu hias berkeliling di Sungai Tengguli Desa Tengguli Kecamatan Sajad, Jumat (19/6) siang, Kegiatan ini menjadi rangkaian Festival Turun Sungai yang rutin tahunan digelar setiap Jumat pertama memasuki Bulan Muharram.

Kegiatan yang merupakan program desa tersebut, dimulai ketika masyarakat berdatangan baik melewati sungai dengan sampan maupun kendaraan bermotor lewat jalan ke Dermaga Kapal Desa Tengguli. Mereka datang tanpa tangan kosong, dibawanya ketupat serta minuman yang akan disantap bersama usai kegiatan.  

30 perahu hias itu merupakan penampilan dari 30 RT yang ada di Desa Tengguli, sehingga satu RT berpartisipasi dengan perahu yang dihias sedemikian rupa. Ada yang berupa miniatur masjid, miniatur Gua Hira, atau hiasan bernuansa islami lainnya.

Perahu-perahu tersebut sudah siap di sungai, diawali dengan doa yang dipimpin kepala kampung (tokoh adat desa), yakni Pak Uteh yang didampingi Bulyan Munzir, kemudian membaca kalimat Tauhid di sepanjang rute sungai yang dilalui. Dibelakangnya menyusul barisan perahu hias dari 30 peserta. Arak-arakan perahu hias inipun disaksikan masyarakat yang menonton ditepian sungai atau di rumah warga yang berdekatan dengan sungai.

Baca Juga: Festival Muharram 1448 Semarak di Masjid Iltizam, Jadi Ajang Membentuk Generasi Qurani

Kepala Desa Tengguli, M Daud menyampaikan tradisi Turun Sungai Berobat Kampung adalah turun temurun dari nenek moyang dalam rangka menyambut tahun baru Islam atau Muharram. Masyarakat dari seluruh wilayah Desa Tengguli, biasanya akan berkumpul, bersilaturahmi. 

“Seluruh masyarakat Desa Tengguli, datang beramai-ramai, turun ke sungai dengan sampan, perahu, berkumpul di sungai, bersyukur kepada Allah SWT, berdoa bersama agar Desa Tengguli mendapatkan Rahmat, berkah dari Allah SWT. Kemudian makan ketupat bersama-sama sebagai bentuk rasa syukur masyarakat kepada Allah SWT atas limpahan karunianya sehingga dapat menjalani tahun demi tahun,” katanya.

Tradisi inipun, sudah ada bahkan ratusan tahun lalu yang dilakukan nenek moyang. Sekarang ini, bagaimana sebagai generasi penerus, melakukan inovasi yakni dengan menggelar festival, diantaranya dengan perahu hias. 

“Kalau yang perahu hias seperti sekarang ini, sudah dilaksanakan kurang lebih enam tahunan. ini bagian masyarakat Desa Tengguli mengembangkan budaya yang sudah ada,” kata Daud.

Beberapa rangkaian pun dilaksanakan, sehingga dinamakan Festival Turun Sungai Desa Tengguli. Dimulai dengan lomba sampan untuk anak-anak, perahu hias, lomba sampan putri pada Sabtu dan Minggu lomba sampan putra.

Baca Juga: Ribuan Warga Padati Ketapang Ikuti Pawai Obor 1 Muharram, Wabup Ajak Teladani Semangat Hijrah

“Ada rangkaian kegiatan sehingga kami sebut Festival turun sungai, karena acara dimulai sejak Kamis (18/6) hingga Minggu (21/6),” katanya.
Sebagai bagian dari masyarakat Desa Tengguli, Daud menyebutkan, kegiatan ini juga bagian mengangkat potensi, sehingga kedepannya akan terus dilaksanakan dan dikembangkan agar lebih baik dan meriah.

“Potensi ini akan terus kami kembangkan terlebih ini kaitannya dengan budaya, ini agenda tahunan yang meski tidak tercatat namun seluruh masyarakat berpartisipasi, artinya masyarakat Desa Tengguli sangat mendukung, sehingga bagaimana kedepannya kegiatan bisa berkembang lagi, terlebih ini salah satu bentuk budaya agar Tengguli bisa dikenal masyarakat luas, inilah Tengguli yang kaya budaya dan adat,” jelas Daud.

Sebagai pemerintah desa, dengan pemerintah kecamatan dan kabupaten, akan bersama-sama mendukung baik secara langsung maupun moril. Agar bagaimana agenda tahunan ini bisa menjadi destinasi wisata.

Ahmadi Syamsudi, Panitia Kegiatan menyebutkan Festival Turun Sungai menjadi wadah untuk menjaga dan merawat adat budaya yang bernuansa Islam di Desa Tengguli. “Masyarakat Tengguli merasa bersyukur diberi nikmat dari Allah SWT sehingga sampai saat ini masyarakat bisa bersilaturahmi untuk sambut Bulan Muharram, rasa syukur ini dimeriahkan dengan kegiatan perahu yang dihias dengan nuansa islami,” katanya.

Setelah selesai beriringan di sungai, diakhiri dengan adzan dan doa, yang selanjutnya menikmati makan ketupat bersama-sama. “Adzan dikumandangkan sebagai pertanda, jika sebagai seorang muslim, adalah melaksanakan sholat lima waktu,” katanya.(fah)

Editor : Hanif
#perahu hias #ketupat #Festival Turun Sungai #sambas #muharram