Oleh: Holpu Ronal Ambarita
Desa Temajuk di Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, dikenal sebagai salah satu wilayah perbatasan Indonesia yang memiliki kekayaan alam melimpah. Selain pesona pantainya yang menjadi daya tarik wisata, Temajuk juga berkembang sebagai sentra pertanian hortikultura yang produktif.
Didukung iklim tropis dan kondisi tanah yang subur, masyarakat Temajuk membudidayakan berbagai komoditas unggulan seperti cabai rawit merah, semangka, ketimun, dan kacang panjang. Posisi geografisnya yang strategis juga menjadi keunggulan tersendiri. Jarak Temajuk ke Kota Kuching, Malaysia, sekitar 151 kilometer, jauh lebih dekat dibandingkan ke Kota Pontianak yang mencapai 362 kilometer. Kondisi ini membuka peluang besar bagi pemasaran hasil pertanian hingga ke pasar lintas negara.
Data Badan Pusat Statistik Kabupaten Sambas Tahun 2025 menunjukkan produksi pertanian Kecamatan Paloh mencapai 42 ton cabai rawit merah, 9 ton semangka, 2,8 ton ketimun, dan 2,7 ton kacang panjang. Angka tersebut menggambarkan besarnya potensi sektor pertanian sebagai penggerak ekonomi masyarakat perbatasan.
Namun, peningkatan produksi belum sepenuhnya diikuti dengan kemampuan pengelolaan keuangan yang memadai. Sebagian besar petani masih menghadapi keterbatasan dalam pencatatan usaha, perencanaan modal, maupun penghitungan keuntungan. Di sisi lain, tantangan berupa keterbatasan infrastruktur, akses pasar, teknologi, dan modal masih menjadi hambatan dalam pengembangan sektor pertanian di wilayah perbatasan.
Padahal, pembukuan sederhana merupakan fondasi penting bagi usaha tani yang berkelanjutan. Melalui pencatatan yang baik, petani dapat mengetahui besarnya biaya produksi, menghitung keuntungan secara akurat, serta merencanakan kebutuhan modal untuk musim tanam berikutnya. Keputusan usaha pun tidak lagi berdasarkan perkiraan, melainkan didukung oleh data yang jelas dan terukur.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, Program Studi Manajemen Perkebunan Politeknik Negeri Pontianak bekerja sama dengan Kelompok Tani dan Pemerintah Desa Temajuk melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat pada 9–10 Juni 2026. Kegiatan ini memberikan pelatihan mengenai analisis finansial pertanian, pembukuan sederhana, perhitungan harga pokok produksi (HPP), serta harga pokok penjualan hasil pertanian dan produk olahan.
Pelatihan ini bertujuan meningkatkan kapasitas petani dalam mengelola keuangan usahanya secara lebih profesional. Dengan kemampuan menyusun pembukuan yang sederhana namun sistematis, petani dapat memisahkan keuangan usaha dan kebutuhan rumah tangga, mengendalikan arus kas, serta menyusun perencanaan usaha yang lebih baik.
Manajemen keuangan menjadi aspek yang sangat penting karena berkaitan langsung dengan keberlanjutan produksi. Tidak sedikit petani yang mengalami kesulitan modal pada musim tanam berikutnya karena hasil panen sebelumnya telah habis digunakan untuk kebutuhan konsumtif. Melalui disiplin pencatatan dan pengelolaan keuangan, kelompok tani dapat membangun dana cadangan usaha sehingga aktivitas produksi tetap berjalan secara berkesinambungan.
Selain itu, transparansi keuangan juga menjadi faktor penting dalam menjaga kekompakan kelompok tani. Pencatatan yang jelas dan terbuka dapat meminimalkan potensi konflik terkait penggunaan dana atau pembagian hasil usaha. Kepercayaan antaranggota akan semakin kuat sehingga kelompok mampu mengelola aset bersama, seperti alat dan mesin pertanian (alsintan), secara lebih efektif dan profesional.
Lebih jauh lagi, kemampuan administrasi keuangan merupakan syarat penting bagi kelompok tani untuk naik kelas. Lembaga perbankan maupun pemerintah umumnya mensyaratkan laporan usaha yang tertata sebagai dasar pemberian bantuan, pembiayaan, maupun akses Kredit Usaha Rakyat (KUR). Tanpa pencatatan yang baik, berbagai bantuan yang diberikan berisiko hanya menjadi solusi sesaat dan tidak berdampak signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan petani.
Karena itu, literasi finansial harus dipandang sebagai investasi jangka panjang bagi masyarakat perbatasan. Penguatan kapasitas petani dalam mengelola keuangan bukan sekadar soal administrasi, melainkan langkah strategis untuk menciptakan usaha tani yang produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan. Dari Temajuk, kita belajar bahwa kemajuan sektor pertanian tidak hanya ditentukan oleh kesuburan tanah dan melimpahnya hasil panen, tetapi juga oleh kemampuan petani mengelola setiap rupiah yang dihasilkan dari kerja keras mereka.**
Editor : Salman Busrah