PONTIANAK POST – Pembukaan Pos Lintas Batas (PLB) Temajuk di Desa Temajuk, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, semakin mendekati kenyataan. Pemerintah Indonesia menyatakan seluruh persiapan telah dilakukan dan kini tinggal menunggu kesepakatan bersama Pemerintah Malaysia untuk peresmian yang direncanakan berlangsung pada Agustus 2026.
Saat Pontianak Post berkeliling ke sana, emajuk memperlihatkan dua wajah perbatasan Indonesia. Di satu sisi, kawasan ini menawarkan panorama pantai yang masih alami dan menjadi daya tarik wisata unggulan Kabupaten Sambas. Di sisi lain, keterbatasan jaringan telekomunikasi masih menjadi persoalan sehari-hari yang dirasakan warga maupun pelancong.
Saat menyusuri kawasan Pos Lintas Batas (PLB) Temajuk di Dusun Sempadan, Kamis (25/6), optimisme masyarakat tampak semakin besar. Setelah puluhan tahun menunggu, pembukaan jalur resmi penghubung Temajuk-Telok Melano, Sarawak, Malaysia, kini hanya tinggal menanti kesepakatan kedua negara.
Kepala Biro Perencanaan dan Kerja Sama Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) RI, Budi Setyono, menegaskan kesiapan Indonesia setelah melakukan peninjauan langsung ke kawasan PLB Temajuk bersama sejumlah pejabat pusat dan daerah, Kamis (25/6).
Pembukaan PLB Temajuk menjadi kabar yang telah lama dinantikan masyarakat perbatasan yang selama puluhan tahun berharap akses resmi menuju Telok Melano, Sarawak, Malaysia, dapat kembali dibuka.
Pembukaan PLB Temajuk diperkirakan akan berdampak langsung terhadap ribuan warga perbatasan. Berdasarkan data kependudukan Kecamatan Paloh, jumlah penduduk Desa Temajuk mencapai sekitar 2.953 jiwa pada 2023. Mereka menjadi kelompok masyarakat yang paling merasakan manfaat kemudahan mobilitas, perdagangan, pariwisata, hingga akses layanan lintas batas setelah perlintasan resmi Temajuk–Telok Melano dibuka.
Selain warga Temajuk, manfaat ekonomi juga berpotensi menjangkau masyarakat di desa-desa sekitar Kecamatan Paloh yang memiliki total penduduk lebih dari 31 ribu jiwa, terutama pelaku usaha kecil, nelayan, penyedia jasa transportasi, serta sektor pariwisata yang selama ini bergantung pada aktivitas perbatasan.
Tinggal Menunggu Kesepakatan Malaysia
Menurut Budi, pemerintah Indonesia dan Malaysia tengah menyusun momentum bersama untuk meresmikan operasional perlintasan tersebut.
Rencana pembukaan akan dibahas dalam pertemuan Forum Sosial Ekonomi Daerah (Sosekda) Kalimantan Barat dan Pemerintah Negeri Sarawak pada 27 Juli 2026.
"Kami menginginkan adanya kebersamaan antara Indonesia dan Malaysia dalam satu momentum yang dapat dibicarakan bersama," ujar Budi.
Ia menyebut seluruh unsur pelayanan lintas batas seperti imigrasi, kepabeanan, karantina, dan keamanan telah menyatakan kesiapan penuh untuk melayani arus orang maupun barang.
Target Dorong Ekonomi Perbatasan
Pemerintah menilai pembukaan PLB Temajuk dapat menjadi penggerak baru ekonomi kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia.
Selain mempermudah mobilitas masyarakat, keberadaan PLB juga diharapkan mempercepat aktivitas perdagangan, pariwisata, dan investasi di wilayah utara Kalimantan Barat.
Dalam jangka menengah, PLB Temajuk bahkan diproyeksikan berkembang menjadi Pos Lintas Batas Negara (PLBN) yang memiliki layanan lebih lengkap.
Pembukaan PLB Temajuk dinilai memiliki potensi ekonomi yang besar karena berada di jalur interaksi masyarakat Kalimantan Barat dan Sarawak yang telah berlangsung puluhan tahun. BNPP mencatat perdagangan di kawasan perbatasan Indonesia–Malaysia terus berkembang, dari aktivitas barter tradisional menjadi perdagangan resmi bernilai jutaan dolar. Bahkan, aktivitas perdagangan di sejumlah kawasan PLBN Kalimantan Barat telah menghasilkan transaksi bernilai belasan miliar rupiah setiap bulan, didominasi komoditas pertanian, hasil perikanan, dan kebutuhan pokok masyarakat perbatasan.
Dari sisi regional, peluang pasar yang dapat diakses juga sangat besar. Statistik perdagangan Sarawak menunjukkan total nilai perdagangan negara bagian tersebut mencapai RM198,7 miliar sepanjang 2024, dengan nilai ekspor mencapai RM134,9 miliar. Kondisi ini menunjukkan kawasan perbatasan Kalimantan Barat–Sarawak memiliki ruang yang luas untuk pengembangan perdagangan, pariwisata, dan investasi lintas negara apabila konektivitas perbatasan semakin terbuka.
Bappenas dan BNPP selama ini juga menempatkan kawasan perbatasan sebagai simpul pertumbuhan ekonomi baru. Kehadiran PLB Temajuk diharapkan tidak hanya memperlancar mobilitas warga, tetapi juga membuka akses pasar yang lebih luas bagi pelaku UMKM, nelayan, petani, dan sektor pariwisata di wilayah utara Kalimantan Barat.
Harapan Warga yang Menunggu Puluhan Tahun
Bagi masyarakat Temajuk, kabar pembukaan perlintasan bukan sekadar pembangunan infrastruktur, melainkan jawaban atas harapan yang telah lama mereka perjuangkan.
Kepala Dusun Sempadan, Sahroni, mengaku bangga karena impian warga akhirnya mulai terwujud.
"Pembukaan PLB menjadi momen yang telah kami nantikan selama puluhan tahun," katanya.
Menurutnya, akses resmi lintas negara akan membuka lebih banyak peluang usaha dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang selama ini hidup di kawasan paling ujung Indonesia.
Senada dengan itu, Kepala Desa Temajuk Agil Firmansyah berharap pembukaan PLB dapat menjadi pintu masuk pertumbuhan ekonomi baru melalui sektor wisata dan perdagangan.
Blank Spot Masih Jadi Keluhan Utama Wisatawan
Di tengah optimisme pembukaan PLB Temajuk, masyarakat masih menghadapi persoalan mendasar berupa keterbatasan sinyal telekomunikasi.
Sebagian besar kawasan wisata di Temajuk masih mengalami blank spot sehingga wisatawan kesulitan melakukan panggilan telepon, mengirim pesan, maupun mengakses internet.
Nia, wisatawan yang berkunjung ke Temajuk, mengaku harus membeli voucher WiFi agar tetap bisa berkomunikasi dengan keluarga.
"Tak ada sinyal HP. Mau telepon keluarga atau mengunggah foto ke media sosial juga sulit," ujarnya.
Harga voucher WiFi yang dijual di sejumlah warung dan kafe berkisar antara Rp5 ribu hingga Rp25 ribu tergantung durasi penggunaan.
Kendala Komunikasi Ganggu Mobilitas
Keluhan serupa disampaikan Oni yang membutuhkan internet untuk mengirim laporan pekerjaan.
Menurutnya, akses komunikasi yang memadai menjadi kebutuhan penting, terutama saat terjadi kondisi darurat di perjalanan.
"Kalau terjadi apa-apa di jalan, orang harus bisa menghubungi teman atau kerabat," katanya.
Potensi Wisata Besar, Infrastruktur Digital Masih Tertinggal
Temajuk dikenal sebagai salah satu destinasi wisata pantai unggulan di kawasan perbatasan Kalimantan Barat.
Namun potensi tersebut dinilai belum berkembang optimal karena keterbatasan jaringan telekomunikasi yang masih menjadi hambatan utama.
Kepala Desa Temajuk, Agil Firmansyah, berharap pemerintah dapat segera menghadirkan solusi agar wisatawan dan investor semakin tertarik datang ke kawasan tersebut.
"Sinyal menjadi kebutuhan dasar saat ini. Kami berharap kendala ini bisa segera diselesaikan," ujarnya.
Persoalan jaringan telekomunikasi sebenarnya telah menjadi perhatian pemerintah dalam beberapa tahun terakhir. Data Buku Data Sektoral Kabupaten Sambas menunjukkan terdapat sedikitnya 13 menara BTS bantuan BAKTI Kominfo yang dibangun di wilayah Sambas untuk melayani kawasan blank spot, termasuk dua BTS yang berada di Desa Temajuk, yakni di Dusun Camar Bulan dan Dusun Sempadan. Meski demikian, luasnya wilayah pesisir dan kondisi geografis perbatasan menyebabkan sejumlah titik wisata dan permukiman masih mengalami keterbatasan sinyal seluler.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri di tengah upaya pemerintah mendorong Temajuk sebagai gerbang wisata dan ekonomi perbatasan Indonesia–Malaysia. Ketersediaan jaringan telekomunikasi yang stabil dinilai sama pentingnya dengan pembangunan infrastruktur fisik karena berpengaruh terhadap keamanan perjalanan wisatawan, aktivitas pelaku usaha, hingga minat investasi di kawasan perbatasan.
Gubernur Optimis
Optimisme serupa juga disampaikan Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, yang sebelumnya meninjau kawasan Temajuk. Menurutnya, posisi strategis Temajuk sebagai wilayah perbatasan sekaligus destinasi wisata unggulan harus didukung infrastruktur yang memadai agar mampu menggerakkan ekonomi masyarakat.
“Kita harus siap menyambut wisatawan dari negara tetangga. Ketika mereka memasuki wilayah Indonesia melalui Temajuk, yang mereka lihat harus mencerminkan wajah terbaik bangsa ini, mulai dari infrastruktur yang baik, lingkungan yang bersih, hingga keramahan masyarakatnya,” pungkas Norsan saat berkunjung ke Temajuk pekan lalu.
Dengan pembukaan PLB yang semakin dekat, harapan masyarakat kini tak hanya tertuju pada terbukanya akses lintas negara, tetapi juga hadirnya layanan telekomunikasi, listrik, dan fasilitas pendukung yang mampu menjadikan Temajuk sebagai beranda terdepan Indonesia yang maju dan berdaya saing. **
FAQ PLB Temajuk
Kapan PLB Temajuk akan dibuka?
Pemerintah mengusulkan peresmian dilakukan pada minggu keempat Agustus 2026 setelah ada kesepakatan bersama Malaysia.
Apa manfaat pembukaan PLB Temajuk?
Mempermudah mobilitas masyarakat, meningkatkan perdagangan lintas batas, mendorong pariwisata, dan membuka peluang investasi.
Apa kendala utama yang masih dihadapi Temajuk?
Keterbatasan sinyal telekomunikasi dan masih banyaknya kawasan blank spot yang menghambat aktivitas masyarakat maupun wisatawan.
Editor : Aristono Edi Kiswantoro