PONTIANAK POST – Wakil Bupati Sambas, H Heroaldi Djuhardi Alwi, mengingatkan seluruh petani di Kabupaten Sambas untuk mewaspadai potensi dampak fenomena El Nino yang diperkirakan memengaruhi musim kemarau pada Juli hingga September 2026.
“Kami mengingatkan kepada seluruh petani, adanya prediksi BMKG terkait potensi musim kemarau yang dipengaruhi fenomena El Nino pada Juli-September 2026,” kata Wakil Bupati.
Ia berharap fenomena El Nino tidak memberikan dampak signifikan terhadap sektor pertanian di Kabupaten Sambas. Meski demikian, berbagai langkah antisipasi tetap perlu dilakukan agar produktivitas pertanian tetap terjaga.
“Semua tentunya berharap kondisi tersebut tidak berdampak signifikan terhadap pertanian sehingga hasil panen tetap optimal,” katanya.
Wakil Bupati juga mengajak masyarakat, khususnya para petani dan pihak terkait, untuk terus menjaga semangat gotong royong dalam mendukung pembangunan daerah, terutama di sektor pertanian.
Menurutnya, kebersamaan menjadi langkah penting dalam memperkuat ketahanan pangan daerah. Terlebih, Kabupaten Sambas merupakan salah satu lumbung pangan di Kalimantan Barat.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan Indonesia mulai memasuki fase El Nino berdasarkan indikator iklim global. Meski menghadapi ancaman musim kering, hujan lebat dan cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi di berbagai daerah.
Baca Juga: Pemkot Pontianak Perkuat Mitigasi El Nino untuk Cegah Karhutla dan Gagal Panen
Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdani, mengatakan suhu panas ekstrem dalam beberapa hari terakhir justru menjadi pemicu terbentuknya awan hujan. Menurut BMKG, minimnya tutupan awan pada pagi hingga siang hari menyebabkan pemanasan permukaan bumi berlangsung lebih intensif sehingga mempercepat penguapan air dalam jumlah besar.
Kondisi tersebut memicu pembentukan awan konvektif pada sore hingga malam hari, sehingga hujan dengan intensitas lebat hingga ekstrem masih berpotensi terjadi secara sporadis di sejumlah wilayah Indonesia.
Secara global, indikator El Nino mulai terlihat dari Southern Oscillation Index (SOI) yang turun ke angka -7,4 serta indeks NINO 3.4 yang naik ke level +0,52. Namun, BMKG menilai masih terdapat dinamika atmosfer lain yang turut memicu pembentukan awan hujan di Indonesia.
Di Kalimantan Barat, hujan masih diperkirakan berlangsung hingga beberapa pekan ke depan. BMKG Supadio memastikan wilayah Kalbar belum memasuki musim kemarau meskipun Indonesia mulai terdampak El Nino. Puncak musim kemarau di Kalbar diperkirakan terjadi pada Juli hingga Agustus 2026. Meski demikian, hujan masih berpotensi turun dalam sepekan ke depan, meski distribusinya belum merata di seluruh wilayah.
Sementara itu, peneliti atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, memperkirakan dampak El Nino mulai terasa lebih kuat pada Juni hingga Agustus 2026. Menurutnya, puncak kondisi kering diprediksi terjadi pada September hingga November 2026.
“Bagaimana setelah November, masih terlalu jauh. BMKG pasti akan melaporkan prakiraan cuaca, termasuk kondisi curah hujan, untuk periode 19 harian.” (fah)
Editor : Hanif