PONTIANAK POST - Pemerintah Kabupaten Sambas menyebut penurunan harga kelapa yang sempat terjadi di daerah tersebut dipengaruhi melemahnya permintaan ekspor. Kondisi itu juga dikaitkan dengan perubahan pasar ekspor dan dampak krisis global.
“Menurunnya harga kelapa ataupun kopra diantaranya dikarenakan permintaan ekspor menurun,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Sambas, Apriadi.
Menurutnya, penurunan permintaan tersebut dipengaruhi perubahan ekspor serta kondisi krisis global. Untuk mengatasi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Sambas berupaya mencari investor yang dapat menampung hasil perkebunan masyarakat, termasuk komoditas kelapa.
Baca Juga: Harga Kelapa di Sambas Mulai Naik, Petani Kembali Bersemangat
“Kami dari Pemkab Sambas sudah mencoba mencari investor terhadap hasil perkebunan, termasuk kelapa,” ujarnya.
Sementara itu, Nasrullah, petani di Kecamatan Jawai mengatakan harga kelapa mulai menurun sejak Desember 2025 hingga pertengahan 2026. Penurunan tajam terjadi hingga harga kelapa hanya Rp2.200-Rp2.300 per kilogram dari yang semula Rp6000.
Namun, dalam sepekan terakhir, harga kelapa kembali merangkak naik. Kini, harga telah naik menjadi Rp2.500 per kilogram. Kondisi tersebut dinilai memberi harapan bagi petani. Ia berharap tren kenaikan harga terus berlanjut.
“Sekarang sudah Rp2.500 per kilogramnya, jadi mulai ada kenaikan,” katanya.
Nasrullah mengatakan sebagian besar petani masih memanen kelapa secara mandiri menggunakan galah panjang dengan melibatkan anggota keluarga untuk menekan biaya tenaga kerja.(fah)
Editor : Miftakhair