PONTIANAK POST– Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Kalimantan melalui Daops Manggala Agni Kalimantan IX/Singkawang memperkuat upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berbasis masyarakat di Kabupaten Sambas. Langkah tersebut dilakukan dengan membentuk sekaligus meningkatkan kapasitas Masyarakat Peduli Api (MPA) di Desa Tempapan Hulu, Kecamatan Galing.
Kepala Daops Manggala Agni Kalimantan IX/Singkawang, Yuyu Wahyudin, di Sambas, Sabtu (25/7), mengatakan pelibatan masyarakat menjadi strategi utama dalam pengendalian karhutla karena ancaman kebakaran hutan tidak lagi berdampak secara lokal, tetapi juga nasional hingga global.
Baca Juga: Wali Kota Pontianak Tegaskan Pembakar Lahan Akan Diproses Hukum, Patroli Karhutla Kini Diperketat
Masyarakat Jadi Garda Terdepan Pencegahan
Yuyu menjelaskan kegiatan tersebut menitikberatkan pada pendekatan masyarakat yang memiliki kesadaran hukum dan didukung peningkatan kapasitas teknis operasional. Dengan bekal tersebut, MPA diharapkan menjadi ujung tombak pencegahan sekaligus penanganan awal ketika kebakaran terjadi di tingkat desa.
"Kegiatan ini menitikberatkan pada pendekatan masyarakat berkesadaran hukum yang didukung dengan peningkatan kapasitas teknis operasional. MPA diharapkan menjadi ujung tombak pencegahan sekaligus penanganan awal kebakaran di tingkat desa," katanya.
Menurut dia, desa-desa yang berada di sekitar kawasan hutan memiliki peran penting dalam mencegah munculnya titik api. Oleh karena itu, penguatan kapasitas masyarakat menjadi langkah strategis agar pencegahan dilakukan sejak dini sebelum kebakaran meluas.
Pelatihan Teori hingga Praktik Lapangan
Dalam kegiatan tersebut, anggota MPA memperoleh pembekalan mengenai kebijakan dan regulasi karhutla, kesadaran hukum, karakteristik kebakaran hutan dan perilaku api, penyusunan peta partisipatif desa, mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, serta penguatan kelembagaan MPA.
Selain materi teori, peserta juga mengikuti praktik lapangan yang meliputi pengoperasian dan perawatan peralatan pemadaman, penerapan standar keselamatan personel, pembuatan sekat bakar (firebreak), hingga penggunaan aplikasi Avenza Maps untuk mendeteksi titik panas (hotspot), merekam lokasi, dan mengukur luas area terdampak kebakaran secara akurat.
Baca Juga: 23 Titik Api Muncul di Kalbar, Karhutla Langsung Jadi Tantangan Perdana Kapolda Alberd Teddy
Respons Cepat Saat Karhutla Terjadi
Yuyu mengatakan kemampuan tersebut diharapkan dapat mempercepat respons masyarakat apabila terjadi kebakaran sehingga api bisa dikendalikan sebelum meluas ke kawasan hutan produksi maupun hutan konservasi.
"MPA yang telah dibentuk diharapkan mampu mencegah terjadinya kebakaran di wilayah desa sekaligus menjadi first responder saat terjadi karhutla sehingga dampaknya dapat diminimalkan," ujarnya.
Ia menambahkan, pengendalian karhutla berbasis masyarakat akan terus diperkuat karena masyarakat merupakan pihak yang paling memahami kondisi wilayahnya sekaligus memiliki akses tercepat menuju lokasi kejadian.
Yuyu berharap pembentukan dan peningkatan kapasitas MPA di Desa Tempapan Hulu semakin memperkuat kolaborasi antara Manggala Agni dan masyarakat dalam menjaga kawasan hutan dari ancaman kebakaran.
Langkah tersebut juga diharapkan mewujudkan pengendalian karhutla yang lebih efektif dan berkelanjutan di Kabupaten Sambas.
Berdasarkan pemantauan BMKG Stasiun Meteorologi Supadio pada 24 Juli 2026, terdapat 649 titik panas (hotspot) di Kalimantan Barat, dengan sebaran terbanyak di Kabupaten Ketapang (162 titik), Kayong Utara (160 titik), Kubu Raya (146 titik), Sanggau (41 titik), dan Kapuas Hulu (41 titik. BMKG mengklasifikasikan 27 titik berkategori kepercayaan tinggi, 601 menengah, dan 21 rendah.
Sebelumnya, Daops Manggala Agni Kalimantan IX/Singkawang juga mengintensifkan patroli terpadu pencegahan karhutla di Kabupaten Sambas selama 20 Juli hingga 6 Agustus 2026. Patroli difokuskan di Desa Sungai Baru, Kecamatan Teluk Keramat, dan Desa Sungai Nilam, Kecamatan Jawai, yang dipetakan sebagai wilayah rawan kebakaran.*
Editor : Uray RonaldSumber : Antara