Musim Kemarau 2026, Dinkes Sambas Ingatkan Ancaman Dehidrasi hingga Heat Stroke bagi Warga

Fahrozi PP • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 10:56 WIB
Kabut asap tipis akibat karhutla terlihat menyelimuti langit Sambas. Warga diminta waspada munculnya gangguan kesehatan sehubungan dengan kabut asap dan cuaca panas.
Kabut asap tipis akibat karhutla terlihat menyelimuti langit Sambas. Warga diminta waspada munculnya gangguan kesehatan sehubungan dengan kabut asap dan cuaca panas.

PONTIANAK POST - Dinas Kesehatan Kabupaten Sambas meningkatkan kesiapsiagaan tenaga kesehatan (nakes) di seluruh tingkatan untuk menghadapi musim kemarau dan potensi gangguan kesehatan akibat cuaca panas.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sambas dr Ganjar Eko Prabowo mengatakan, pihaknya telah melakukan sejumlah langkah kesiapsiagaan untuk menyikapi kondisi cuaca saat ini. Upaya tersebut dilakukan melalui peningkatan koordinasi lintas sektor.

“Kami di Dinas Kesehatan, telah melakukan upaya peningkatan kesiapsiagaan dan koordinasi, dalam mengoptimalkan peran klaster kesehatan hingga di tingkat kecamatan dan desa. kemudian melakukan koordinasi dengan kolaborasi bersama instansi terkait termasuk dengan BPBD, Dinas Sosial, PMI, TNI/Polri, serta lembaga lainnya dalam upaya pencegahan dan penanganan dampak kesehatan akibat musim kemarau atau cuaca panas,” kata Ganjar, Rabu (12/8).

Baca Juga: Kasus Pneumonia di Kalimantan Barat Meningkat, ISPA Masih Fluktuatif di Tengah Kabut Asap Karhutla

Selain koordinasi lintas sektor, Dinkes Sambas juga melakukan pemantauan dan surveilans kesehatan dengan memperkuat deteksi dini serta pelaporan secara cepat terhadap penyakit yang berpotensi meningkat selama cuaca panas atau musim kemarau.

Penyakit yang dipantau antara lain infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), diare, tuberkulosis, asma, heat exhaustion, dehidrasi, heat stroke, penyakit kulit, serta penyakit lain yang berpotensi meningkat sesuai dengan kondisi epidemiologi di masing-masing wilayah.

Pemantauan juga dilakukan terhadap ketersediaan dan kualitas air bersih, kondisi sanitasi lingkungan, higiene dan keamanan pangan. Edukasi kepada masyarakat mengenai perilaku hidup bersih dan sehat juga ditingkatkan guna mencegah peningkatan penyakit berbasis lingkungan selama musim kemarau.

“Selain rawan terjadinya kebakaran hutan dan lahan, cuaca panas yang terjadi juga mengancam kesehatan manusia, di antaranya memicu penyakit dehidrasi, iritasi kulit, sakit kepala (migrain) serta panas dalam,” katanya.

Baca Juga: Jelang HUT ke-81 RI, Brimob Rawat Jembatan Warga di Perbatasan Sambas

Menurut Ganjar, sakit kepala sebelah atau migrain dapat terjadi akibat paparan panas matahari ataupun polusi yang berlebihan. Sementara itu, panas dalam dapat dipengaruhi kondisi cuaca yang panas dan diperparah dengan asupan makanan yang kurang tepat, seperti makanan yang terlalu banyak mengandung minyak maupun pedas.

“Selain itu, demam tinggi juga bisa mengancam, ini akibat paparan sinar matahari, sehingga menyebabkan suhu tubuh meningkat,” kata dr Ganjar.

Dirinya mengimbau masyarakat tetap tenang dan memperbanyak konsumsi air putih. Masyarakat juga diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan serta segera melakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami gejala penyakit akibat cuaca panas.

Kalimantan Barat diperkirakan menghadapi puncak musim kemarau pada Agustus hingga September 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan musim kemarau tahun ini berpotensi lebih kering dan lebih panjang dibandingkan kondisi normal. Kondisi tersebut membuat risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta krisis air bersih perlu diwaspadai sejak dini. (fah)

Editor : Miftakhair
Mengancam Kesehatan kemarau 2026 dinkes sambas