PONTIANAK POST - Kabupaten Sambas menjadi salah satu daerah dalam peningkatan produktivitas di lahan eksisting melalui PM-AAS (Pertanian Modern Advanced Agriculture System), sebuah metode intensifikasi yang dikembangkan untuk meningkatkan hasil panen sekaligus menekan biaya produksi yang dicanangkan Kementerian Pertanian (Kementan).
Meski menjadi sistem baru dalam pertanian, Kelompok Tani Dare Nandung Desa Semparuk Kecamatan Semparuk yang diketuai Sukiman, berhasil menerapkan metode tersebut. Setelah masa tanam pada 18 Mei 2026, pada Selasa (18/8) dilaksanakan panen perdana.
Alhasil, dalam panen pertama yang dihadiri Bupati Sambas, H Satono, Wakil Bupati Sambas, H Heroaldi, Ketua Komisi II DPRD Kalbar H Subhan Nur, Ketua DPRD Kabupaten Sambas H Abu Bakar, Ketua TP PKK Kabupaten Sambas Hj Yunisa, Forkompimcam Semparuk, Poktan, kemudian hadir pejabat dari Kementan RI, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Barat, Anjar Suprapto Kepala Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kalimantan Barat serta anggota Poktan dan Poktan se Kecamatan Semparuk tersebut menghasilkan padi ubinan sekitar 8,15 Ton per Ha.
Baca Juga: BMKG Wanti-wanti Risiko Gagal Panen Akibat El Nino
Ketua Poktan Dare Nandung Desa Semparuk, Sukiman mengatakan penerapan budidaya padi model PM-AAS atau Pertanian Modern Advanced Agriculture System, yang dicanangkan Kementan RI, menjadi metode intensifikasi yang dikembangkan untuk meningkatkan hasil panen sekaligus menekan biaya produksi. Hal ini telah dibuktikan, dimana yang dulunya berkisar 3 Ton per Hektar, sekarang bisa menghasilkan antara delapan hingga 10 Ton. Kemudian dari keuntungan,petani dalam setiap satu Ha saat memulai masa tanam bisa menghemat sekitar Rp3 juta, lantaran benih langsung ditanam langsung tanpa penyemaian.
“Selama kurang lebih 30 tahun bertani padi, model PM-AAS inilah yang saya dan anggota Poktan Dare Nandung rasakan lebih mudah dan efisien,” kata Sukiman.
Dirinya sebagai petani, menyampaikan jika lahan miliknya dan Poktan Dare Nandung, menjadi lahan penerapan model budidaya padi PM-AAS di Kalimantan Barat. Awalnya dirinya mengakui tidak mudah, ketika mendapatkan kabar dari provinsi mengenai penerapan PM-AAS, kemudian menghubungi anggota Poktan, dan belum mendapatkan respon baik mengenai penerapan model tersebut.
Namun sebagai Ketua Poktan, dirinya melihat bagaimana sistem itu sudah diterapkan di beberapa negara penghasil padi. Sehingga pihaknya berupaya menerapkan sistem tersebut meski belum sepenuhnya diterima petani.
Baca Juga: Teknologi Pengairan dan Penggilingan Padi Dorong Kemandirian Petani Kubu Raya
“Awalnya pada 18 Mei, kami coba Tanam Benih Langsung atau Tabela, semua anggota Poktan khawatir, apakah benihnya nanti mengapung, dimakan burung atau lainnya,” katanya. Namun sedikit demi sedikit, anggota poktan mulai menaruh kepercayaan dengan PM-AAS, dimana setelah 15 hari usia tanaman padi tumbuh dengan baik. “Alhamdulillah, sampai saat ini bisa di panen perdana, sejak di tabur pada 18 Mei 2026, tanaman padi baik dan sesuai prediksi, bisa menghasilkan antara 8 hingga 10 Ton per Ha per 18 Agustus 2026,” katanya.
Pihaknya pun berharap, dalam pemaksimalan hasil pertanian. Dirinya dan petani sangat mengharapkan adanya bantuan dari pemerintah berkaitan dengan irigasi terintegrasi. “Kami untuk pengairan, membuat inovasi dengan pemanfaatan air sungai saat pasang. Dan Alhamdulillah hal itu bisa untuk membantu pengairan di sawah yang tadah hujan air pasang surut,” katanya. Selain itu, pihaknya juga mengharapkan adanya bantuan mesin penggiling padi premium atau color sorter agar beras produksi petani Kabupaten Sambas layak untuk dijual ke negara tetangga Malaysia.
“Kami juga berharap adanya bantuan mesin color sorter atau pemisah padi yang tidak patah sehingga nanti menjadi beras premium yang itu bisa diekspor ke Malaysia,” katanya.
Anjar Suprapto Kepala Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kalimantan Barat menyebutkan jika metode PM-AAS Provinsi Kalbar mendapatkan 15 ribu Ha. Salah satunya berada di Kabupaten Sambas dengan jatah enam ribu Hektar dengan rincian tanam 30 Ha di Semparuk, kemudian di Serindang 20 ha, Gersik 20 Ha, Surabaya 30 Ha dan di Tebas Sungai Kelambu.
Dimana dalam metode ini, diharapkan setiap satu Ha bisa menghasilkan padi sepuluh Ton. Namun yang pasti, target itu secara perlahan, terlebih di Kalbar produktivitas rata rata 2- 3 ton per Ha atau untuk di Sambas 3 sampai 4 ton, dan ini yang akan ditingkatkan menjadi 10 ton.
“Alhamdulillah hasil ubinan ini kami mencatat menghasilkan 8,15 ton per ha, dan saat ini dilahan Semparuk kondisinya masih ada yang hijau atau belum siap panen,” katanya.
Bupati Sambas, H Satono mengapresiasi apa yang sudah dilakukan Sukiman, Ketua Poktan Dare Nandung. bahkan orang nomor satu di Pemkab Sambas ini mengusulkan agar yang bersangkutan mendapatkan award sebagai tokoh pertanian Kabupaten Sambas. “Saya mengapresiasi Pak Sukiman, patut mendapatkan award, yang melakukan inovasi di bidang pertanian, termasuk penerapan sistem irigasi,” katanya.
Satono mengharapkan metode PM-AAS mendukung penerapan teknologi dalam pertanian di Kabupaten Sambas. Dengan harapan meningkatkan hasil pertanian.(fah)