Kabut Asap Karhutla Sambas Makin Pekat, Kualitas Udara Masuk Kategori Tidak Sehat

Fahrozi PP • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 11:27 WIB
Ilustrasi kabut asap.
Ilustrasi kabut asap.

PONTIANAK POST - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Sambas semakin pekat, Kamis (20/8). Sejumlah warga mengeluhkan kondisi tersebut, antara lain mata perih saat berkendara di jalan raya.

Risma, salah seorang warga, mengatakan kabut asap semakin terasa saat dirinya mengantar dan menjemput anaknya ke sekolah. Bahkan, mata terasa perih meski dirinya telah menggunakan helm dengan kaca penutup.

“Perih mata, asap karhutla semakin kuat,” katanya, Kamis (20/8).

Baca Juga: Kabut Asap Selimuti Mempawah Hulu, Puskesmas Karangan Temukan Keluhan yang Mengarah ke ISPA

Dia berharap hujan segera turun di Kabupaten Sambas, terutama di daerah yang masih terjadi karhutla. Dengan demikian, kebakaran dapat dipadamkan dan kabut asap tidak lagi mengganggu aktivitas masyarakat. Kondisi serupa juga dirasakan sejumlah warga di Kecamatan Jawai. Mereka menyebut kabut asap semakin kuat karena belum turun hujan lebat.

“Belum ada hujan yang lebat di Jawai, jadi asap memang kuat di sana,” kata Rudi.

Sementara itu, berdasarkan rilis resmi Dinas Perkim LH Kabupaten Sambas, hasil pemantauan Stasiun Pemantauan Kualitas Udara Ambien (SPKUA) Kabupaten Sambas yang berada di belakang Kantor Bupati Sambas menunjukkan kualitas udara telah berada pada kategori tidak sehat dengan nilai 105 pada Selasa (18/8) pukul 23.00 WIB.

Kondisi tersebut berlanjut pada Rabu (19/8). Parameter PM2,5 masih mengalami peningkatan, yakni mencapai 107 pada pukul 00.00 WIB, 113 pada pukul 04.00 WIB, dan 114 pada pukul 05.00 WIB. Kualitas udara tersebut sudah dapat menimbulkan efek kesehatan, terutama bagi kelompok sensitif.

Baca Juga: Kabut Asap Mulai Selimuti Sambas, Dinkes Catat 1.098 Kasus ISPA hingga 12 Agustus 2026

Dinas Perkim LH Kabupaten Sambas menyarankan masyarakat mengurangi aktivitas fisik yang lama atau berat di luar ruangan, terutama olahraga. Kelompok sensitif, seperti anak-anak, lansia, serta orang dengan gangguan pernapasan atau penyakit jantung, disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan dan mempertimbangkan aktivitas di dalam ruangan.

Jika harus berada di luar ruangan, masyarakat disarankan mengurangi durasi paparan dan mempertimbangkan penggunaan masker yang mampu menyaring partikulat dengan baik, terutama jika polutan utamanya PM2,5.

Masyarakat juga disarankan menutup pintu dan jendela ketika kondisi udara luar buruk serta menghindari aktivitas yang dapat menambah polusi di dalam rumah, seperti merokok atau melakukan pembakaran. Selain itu, masyarakat diminta memantau Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) secara berkala karena kondisi kualitas udara dapat berubah sepanjang hari.

Masyarakat juga perlu memperhatikan gejala seperti batuk, iritasi tenggorokan, sesak napas, atau rasa tidak nyaman di dada. Jika gejala berat atau menetap, masyarakat disarankan segera mencari pertolongan medis.(fah)

Editor : Hanif
karhutla Sambas kebakaran hutan dan lahan kabut asap kualitas udara