PONTIANAK POST - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) semakin pekat dan mulai mengganggu aktivitas warga di sejumlah desa di beberapa kecamatan di Kabupaten Sambas. Di Kecamatan Tangaran, kabut asap bahkan dilaporkan telah terjadi selama tiga hari dan sempat menurunkan jarak pandang.
Isha, warga Kota Sambas, mengaku merasakan mata pedih saat berkendara menggunakan sepeda motor akibat kabut asap yang cukup tebal pada Minggu (23/8) siang.
“Pedih mata kalau bermotor di jalan, terkena asap kemudian adanya debu sisa kebakaran berterbangan dibawa angin,” kata Isha.
Baca Juga: BRI Singkawang Serahkan Bantuan Ambulans untuk Yayasan di Sambas
Dia berharap hujan segera turun sehingga kondisi kembali normal. Menurutnya, hujan dapat membantu memadamkan karhutla yang terjadi di sejumlah wilayah.
“Kami berharap hujan bisa segera turun, karena karhutla yang terjadi bisa padam secara maksimal jika air hujan membasahi,” katanya.
Kondisi serupa dirasakan warga Kecamatan Tangaran. Anto, warga Desa Simpang Empat, mengatakan kabut asap cukup tebal telah menyelimuti wilayah tersebut selama sekitar tiga hari.
“Sudah kurang lebih tiga hari ini, kabut asap lumayan pekat. Hal ini karena adanya kebakaran hutan dan lahan terjadi di beberapa wilayah, termasuk di desa-desa kecamatan terdekat,” kata Anto, Minggu (23/8).
Baca Juga: Desa Sebubus Sambas Didorong Jadi Sentra Garam Rakyat Unggulan Kalbar
Menurut dia, kondisi tersebut mengganggu aktivitas masyarakat karena sempat mengurangi jarak pandang.
“Sempat kuat, bahkan mengurangi jarak pandang,” katanya.
Anto berharap ada tindakan nyata dari pemerintah melalui jajaran terkait untuk menyikapi kondisi kabut asap yang terjadi.
Sekretaris Camat Tangaran Endi Kurniawan membenarkan kabut asap akibat karhutla cukup kuat dirasakan masyarakat. Bahkan, hampir seluruh desa di wilayah Kecamatan Tangaran terdampak akibat asap yang terbawa angin.
“Hampir menyeluruh di desa-desa yang ada di Kecamatan Tangaran, karena dibawa angin,” katanya. Dia menyebut kabut asap tersebut berasal dari kebakaran yang terjadi di wilayah perbatasan Kecamatan Tangaran dan Kecamatan Jawai.
“Kalau data kami, karhutla belum terjadi di Kecamatan Tangaran, namun saat ini kondisi tersebut terjadi di beberapa wilayah di Kecamatan Jawai menuju perbatasan Desa Semata, Kecamatan Tangaran,” katanya.
Baca Juga: Kasus ISPA Kalbar Tembus 151 Ribu akibat Karhutla, Kemenkes Kirim Bantuan Nakes dan Logistik
Menurut Endi, kabut asap telah terjadi selama tiga hari dan semakin kuat pada pagi hari. Kondisi tersebut bahkan menyebabkan jarak pandang hanya sekitar 20 meter.
“Kabut asap karhutla kuat apalagi kalau pagi hari, jarak pandang hanya berkisar 20-an meter, kondisi tersebut (kabut tebal) sudah tiga hari terjadi,” katanya.
Erwan, warga setempat, juga mengakui kabut asap mengganggu aktivitas masyarakat. Selain menyebabkan mata pedih saat berkendara, kondisi tersebut dinilai mengancam kesehatan, terutama bagi masyarakat yang rentan.
“Kondisi tersebut sangat mengganggu masyarakat, diharapkan kebakaran hutan dan lahan yang terjadi bisa segera padam,” katanya.(fah)
Editor : Miftakhair