Sumber Air Mengering, 263 KK di Sambas Kini Harus Beli Air Bersih untuk Kebutuhan Harian

Fahrozi PP • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 09:30 WIB
Ilustrasi.
Ilustrasi.

PONTIANAK POST - Cuaca panas dan belum turunnya hujan tidak hanya memperparah kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), tetapi juga membuat sejumlah warga di Kabupaten Sambas kesulitan mendapatkan sumber air untuk kebutuhan sehari-hari.

Pantauan di Kota Sambas, Selasa (25/8), kabut asap terlihat mengurangi jarak pandang. Warga yang tidak mengenakan masker merasakan asap bercampur debu bekas kebakaran. Aroma asap bahkan tercium hingga ke dalam rumah.

“Kuat sekali asap kabut karhutlanya, pedih mata, jarak pandang terganggu, hingga bernafas pun terasa sesak,” kata Ina, warga Sambas, Selasa (25/8).

Baca Juga: Tiga Hari Diselimuti Kabut Asap Karhutla, Warga Sambas Keluhkan Mata Pedih dan Jarak Pandang

Hal serupa disampaikan Ama. Dia merasakan kabut asap karhutla cukup kuat pada Selasa (25/8). Aroma asap bahkan tercium saat berada di dalam rumah.

“Sampai kedalam rumah bau asap bisa tercium,” katanya.

Cuaca panas yang terjadi juga berdampak pada mengeringnya sejumlah sumber air di telaga air tanah milik warga.

“Bukan saja banyak munculnya asap karhutla, tapi cuaca panas, hujan tidak turun menyebabkan sumber air untuk keperluan sehari hari sudah mengering,” kata Saputra, warga Dungun Perapakan, Kecamatan Tebas.

Baca Juga: BRI Singkawang Serahkan Bantuan Ambulans untuk Yayasan di Sambas

Dia menyebut kondisi panas telah berlangsung sekitar dua bulan. Saputra dan sejumlah warga Dungun Perapakan mulai merasakan kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari.

“Panas selama dua bulan, tak dapat air, sumber air kering, jadi air bersih sudah beli,” katanya.

Sabri, Kepala Dusun Asam Kanis, Desa Dungun Perapakan, menyebutkan warga kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Sebagian warga bahkan sudah membeli air sehingga menambah pengeluaran rumah tangga.

“Kami mohon kepada pemerintah untuk membantu masyarakat atas kesulitan yang ada, terutama air bersih dan untuk keperluan sehari hari,” katanya.

Menurut Sabri, banyak warga sudah berupaya mengebor untuk membuat sumur. Namun, karena dilakukan secara manual, banyak upaya tersebut masih gagal.

Kesulitan air terutama dirasakan warga di RT 6, 7, dan 8. Saluran air belum menjangkau wilayah tersebut sehingga dampak kekeringan semakin dirasakan masyarakat.

Baca Juga: Kabut Asap Menebal di Kalbar, DPRD Imbau Warga Gunakan Masker Saat Beraktivitas

“Kurang lebih 263 KK yang sudah terdampak kekeringan air karena cuaca panas dan belum ada turunnya hujan,” katanya. (fah)

Editor : Miftakhair
air bersih Sambas karhutla Sambas kekeringan Kabupaten Sambas kabut asap