Sambas Dilanda Cuaca Panas dan Kabut Asap, Petani Jeruk hingga Padi Mulai Terdampak

Fahrozi PP • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 11:16 WIB
Kapolres Sambas AKBP Sanny Handityo turun langsung dalam kegiatan pemadaman karhutla pada Rabu (26/8).
Kapolres Sambas AKBP Sanny Handityo turun langsung dalam kegiatan pemadaman karhutla pada Rabu (26/8).

PONTIANAK POST - Cuaca panas dan hujan yang belum turun mulai berdampak terhadap aktivitas pertanian di Kabupaten Sambas. Sejumlah petani terpaksa menunda pemupukan karena kondisi tanah yang kering.

Abdul, pemilik kebun jeruk di Kecamatan Sejangkung, mengatakan saat ini dirinya belum dapat melakukan pemupukan pada tanaman jeruknya. Pemupukan saat cuaca panas dikhawatirkan justru merusak tanaman.

“Kalau memberi pupuk saat musim panas, dikhawatirkan dampaknya tidak baik bagi jeruk,” kata Abdul, Rabu (26/8). Menurutnya, pemupukan jeruk sebaiknya dilakukan ketika masih turun hujan sehingga pupuk dapat meresap ke tanah dan diserap akar tanaman.

Baca Juga: Bawa Suara Petani Sawit ke Forum Internasional IKN, Wabup Susana Lepas Apkasindo Sanggau

“Kalau sekarang, air di sekitar kebun saja sudah kering, tanah mulai merekah, jadi tidak baik memberi pupuk. Padahal sekarang ini sudah musimnya pemupukan,” katanya.

Kondisi serupa dirasakan Hendri. Dia mengaku belum berani memupuk tanaman di kebunnya karena cuaca panas dan hujan belum turun dalam waktu cukup lama.

“Mana tanah kering, tidak bagus kalau memberi pupuk,” katanya.

Kondisi serupa juga dirasakan petani padi di Desa Semparuk, Kecamatan Semparuk. Sukiman, salah satu petani mengatakan sebagian besar lahan mulai kering akibat hujan yang lama tidak turun sehingga petani kesulitan melakukan berbagai kegiatan pertanian.

Baca Juga: 6 Tanda Ada Tikus di Kebun, Kenali Sebelum Tanaman dan Hasil Panen Rusak

Kurangnya air juga mengganggu tanaman padi yang mulai memasuki fase pengisian bulir. “Kalau kekurangan air membuat proses pengisian bulir tidak berlangsung optimal,” katanya. Dia khawatir kondisi tersebut berlanjut dan berdampak pada penurunan hasil panen petani.

Di sisi lain, cuaca panas juga memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di beberapa lokasi yang kemudian memunculkan kabut asap. Sejumlah warga Sambas mengaku masih merasakan kabut asap hingga Rabu (26/8). Kondisi tersebut membuat sebagian warga membatasi aktivitas di luar rumah karena khawatir terkena infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

“Kalau memang tak penting benar, kami upayakan tidak keluar rumah. Kalaupun harus keluar, tetap kenakan masker yang sudah disiapkan dari hasil membeli sendiri,” kata Isar, seorang warga. Dia juga membatasi aktivitas anak-anak di luar rumah.

Sementara itu, pemadaman karhutla terus dilakukan jajaran Polres Sambas. Kapolres Sambas AKBP Sanny Handityo turun langsung ke lapangan untuk memastikan pelaksanaan pemadaman berjalan lancar. Kapolres Sambas juga menekankan kepada seluruh Bhabinkamtibmas polsek jajaran Polres Sambas agar terus memberikan edukasi kepada warga

. Langkah preventif tersebut antara lain dilakukan Polsek Pemangkat, Sambas, dan Jawai di desa binaan. Selain memberikan edukasi mengenai bahaya asap dan larangan membuka lahan dengan cara dibakar, petugas membagikan Maklumat Kapolda Kalbar terkait sanksi pidana, memasang banner imbauan, serta mengecek kesiapan sarana mitigasi fisik seperti sumur bor dan embung air bersama pemerintah desa dan Masyarakat Peduli Api. (fah)

 

Editor : Miftakhair
petani cuaca panas hasil panen khawatir