PONTIANAK POST – Ketua Tim Sosialisasi Satgas Karhutla Brigjen TNI Budi Santoso menginstruksikan seluruh personel kewilayahan, khususnya Babinsa, memperketat patroli di kawasan rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Personel juga diminta aktif mengedukasi masyarakat sebagai bagian dari upaya mencegah karhutla meluas di Kabupaten Sambas.
Instruksi tersebut disampaikan di tengah kondisi karhutla Sambas yang masih memprihatinkan. Berdasarkan data yang dipaparkan dalam rapat koordinasi penanganan karhutla Kabupaten Sambas, hingga 23 Agustus 2026 luas lahan yang terbakar mencapai 2.318,48 hektare dengan 1.303 titik panas. Hotspot terbanyak berada di Kecamatan Paloh sebanyak 317 titik, Selakau 212 titik, dan Sajingan Besar 129 titik.
Kondisi asap juga berdampak terhadap kualitas udara. Berdasarkan grafik Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) pada 26 Agustus 2026, kualitas udara di Kabupaten Sambas berada dalam kategori tidak sehat. Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Kabupaten Sambas menyesuaikan kegiatan pembelajaran di sekolah terdampak dengan menerapkan belajar dari rumah pada 27–28 Agustus 2026.
Baca Juga: ISPU Pontianak Capai 193, Wali Kota Minta Warga Kurangi Aktivitas di Luar Rumah
“Diharapkan tidak ada lagi pembersihan lahan dengan cara dibakar disaat cuaca panas seperti sekarang. Peran semua pihak menjadi kunci utama dalam memutus potensi timbulnya titik api, dan langkah pencegahan harus menjadi prioritas utama ketimbang penanganan pasca kerusakan,” kata Ketua Tim Sosialisasi Satgas Karhutla, Brigjen TNI Budi Santoso saat penyuluhan pencegahan dan penanganan Karhutla di Aula Kantor Kecamatan Teluk Keramat, Sambas, Rabu (26/8).
Kegiatan tersebut berfokus pada penguatan deteksi dini dan tindakan cepat secara terpadu guna menekan munculnya titik api sejak awal.
Dalam penanganan dan pencegahan karhutla, kata Budi, seluruh pihak perlu bersinergi. TNI, Polri, pemerintah daerah, dan masyarakat diharapkan mampu memberikan respons cepat di lapangan.
“Diharapkan sinergi dapat berjalan optimal sehingga potensi karhutla di Kabupaten Sambas dapat ditekan secara maksimal demi menjaga kesehatan serta lingkungan,” katanya.
Sinergi juga diperlukan karena dampak karhutla bersifat multidimensional, mulai dari ancaman kesehatan, kerusakan lingkungan, hingga kelumpuhan ekonomi warga.
Kondisi atmosfer di sejumlah wilayah Sambas juga masih menunjukkan jarak pandang terbatas. Data prakiraan BMKG pada 28 Agustus mencatat jarak pandang di Dalam Kaum, Sekura, Pemangkat, dan sejumlah wilayah lain berada di bawah 5 kilometer.
Karena itu, pencegahan harus menjadi prioritas. Setiap potensi titik api wajib segera dideteksi dan ditangani agar tidak meluas menjadi kebakaran besar. (fah)
Editor : Hanif