PONTIANAK POST - Cuaca panas dan kabut asap dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menyelimuti Kota Sambas, Minggu (6/9). Kondisi tersebut mulai dirasakan warga yang mengaku lebih mudah lelah saat beraktivitas. Masyarakat berharap hujan segera turun untuk membasahi lahan yang terbakar sehingga kebakaran dapat padam dan kabut asap berkurang.
“Mudah-mudahan segera turun hujan, agar kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan masih saja terus kuat,” kata Ina, Minggu (6/9).
Ina mengaku tubuhnya lebih cepat lelah ketika beraktivitas di rumah. Kondisi tidak nyaman juga dirasakan saat beraktivitas di luar ruangan meski telah menggunakan masker.
Baca Juga: Kabut Asap Sintang Makin Pekat, Pemkab Bagikan 3.000 Masker di Tiga Lokasi
“Badan terasa capek, tidak nyaman, kalau beraktivitas di luar ruangan meski sudah pakai masker,” katanya.
Dampak asap karhutla juga dijelaskan Ns. Haryanto, S.Kep., MSN., Ph.D., Dosen Keperawatan Institut Teknologi dan Kesehatan Muhammadiyah Kalimantan Barat, dalam artikelnya di Harian Pontianak Post.
Dia menyebut asap karhutla mengandung campuran partikel dan gas berbahaya, seperti karbon monoksida, nitrogen dioksida, sulfur dioksida, senyawa organik volatil, serta partikel halus PM₂.₅. Partikel PM₂.₅ berukuran sangat kecil, yakni kurang dari 2,5 mikrometer, sehingga tidak mudah terlihat oleh mata.
Karena ukurannya sangat kecil, PM₂.₅ dapat melewati mekanisme penyaringan alami pada hidung dan masuk jauh ke dalam saluran pernapasan hingga mencapai bagian terdalam paru-paru. Sebagian partikel bahkan dapat masuk ke dalam aliran darah.
Baca Juga: Pameran Pembangunan Sintang Kembali Ditunda, Kabut Asap Pekat Jadi Pertimbangan Utama
Oleh karena itu, dampak asap karhutla bukan hanya berupa batuk atau tenggorokan gatal, tetapi juga dapat memengaruhi fungsi paru-paru, jantung, dan organ tubuh lainnya.
Paparan asap dalam waktu singkat dapat menyebabkan mata perih dan berair, hidung tersumbat, tenggorokan kering, batuk, sakit kepala, suara serak, sesak napas, dan tubuh mudah lelah. Sementara itu, paparan dalam konsentrasi tinggi atau secara berulang dapat menimbulkan peradangan saluran napas, menurunkan fungsi paru-paru, dan memperburuk penyakit yang sebelumnya telah diderita. (fah)
Editor : Miftakhair