Ironis, 15 Hektare Gambut yang Direvegetasi di Sambas pada 2023 Ludes Terbakar Karhutla 2026

Fahrozi PP • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 10:45 WIB
Kondisi lahan gambut Intuyut yang ditanami kembali (revegetasi) tahun 2023 lalu kini hangus terbakar. (ISTIMEWA)
Kondisi lahan gambut Intuyut yang ditanami kembali (revegetasi) tahun 2023 lalu kini hangus terbakar. (ISTIMEWA)

PONTIANAK POST - Lahan gambut seluas kurang lebih 15 hektare yang direvegetasi pada 2023 di Hutan Intuyut, Desa Tri Mandayan, Kecamatan Teluk Keramat, Kabupaten Sambas, ludes terbakar dalam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) 2026.

Ketua Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Intuyut Jaya Lestari Tri Mandayan, Teo Iswandi, mengatakan pada 2023 KUPS Intuyut Jaya Lestari, didukung Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM), melakukan penanaman kembali atau revegetasi di kawasan Taman Ekowisata Gambut Intuyut dengan luas sekitar 15 hektare.

Revegetasi dilakukan dengan metode penanaman jenis lokal atau endemik, penanaman pengayaan (enrichment planting), dan paludikultur. “Namun upaya itu sia-sia, karena di 2026. Tanaman yang ditanam, habis. Ludes. Hangus menjadi abu arang tak tersisa. Karena terkena kebakaran hutan dan lahan,” kata Teo.

Baca Juga: Sambas Dapat Alokasi Rp15 Miliar untuk Bencana, DPRD Soroti Karhutla hingga Krisis Air Bersih

Atas kejadian tersebut, Teo mengaku bersedih dan kecewa karena kebakaran turut mengenai hutan mangrove yang ada di kawasan tersebut.

“Kami sangat merasa berduka cita, kecewa dan merasa gagal dalam menjaga hutan kami,” katanya.

Meski demikian, pihaknya tidak putus asa. Bersama KUPS dan masyarakat, mereka akan kembali melakukan penanaman untuk menjaga kelestarian mangrove dan ekosistem gambut.

”Kami bersama rekan-rekan masih punya semangat. Kami tak akan berhenti dan akan tetap bertumbuh berproses untuk membangun kembali tutupan lahan hutan gambut di Desa Tri Mandayan,” katanya.

Baca Juga: Polres Kubu Raya Uji X-Fire untuk Karhutla, 1.000 Liter Campuran Disemprot ke Lahan Gambut

Atas kejadian tersebut, pihaknya berharap pemerintah lebih serius menangani karhutla di kawasan gambut. Dia juga berharap ada lembaga atau badan khusus yang menangani kerusakan ekosistem gambut agar penanganannya lebih fokus.

“Gambut sangat penting untuk kehidupan, kami mengajak semua pihak dan masyarakat agar bersama-sama menjaga gambut, pulihkan ekosistem gambut, gambut untuk dijaga bukan untuk dirusak, gambut tidak jahat hanya tangan manusia serakah yang jahat untuk merusak gambut dengan cara dibakar,” katanya.

Teo mengatakan Hutan Intuyut merupakan kawasan yang tersisa setelah kebakaran hebat pada 2015 hingga 2019 di Kecamatan Teluk Keramat. Sejumlah pemuda bersama warga, didukung pihak terkait termasuk NGO, kemudian berinisiatif menjaga kawasan hutan yang tersisa di wilayah KHG.

“Berbagai usaha dari KUPS bersama stakeholder terkait menjaga kawasan tersebut adalah agar tetap lestari dan gambut tetap berfungsi sesuai karakteristik tanah gambut. Mulai dari penanaman kembali atau revegetasi sampai pembasahan gambut yaitu membangun kanal bloking semi permanen, dengan tujuan untuk mengembalikan tutupan vegetasi dan fungsi ekologis hutan gambut,” katanya. (fah)

Editor : Miftahul Khair
karhutla Sambas Hutan Intuyut Gambut Sambas revegetasi kebakaran hutan dan lahan