PONTIANAK POST – Pemerintah Kabupaten Sambas memperkuat koordinasi untuk mengantisipasi dampak fenomena El Nino yang diprediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dapat terjadi hingga awal 2027.
Bupati Sambas H. Satono telah meminta seluruh jajarannya memperkuat koordinasi dengan instansi terkait sebagai langkah antisipasi terhadap dampak fenomena tersebut.
“Fenomena El Nino yang diperkirakan terjadi tahun ini oleh BMKG, memiliki intensitas yang cukup ekstrem, bahkan disebut sebagai El Nino Godzilla,” katanya, kemarin.
Baca Juga: El Nino Diperkirakan Tekan Produksi Sawit Maksimal 3 Juta Ton, Gapki Optimistis B50 Tetap Jalan
Kondisi tersebut dinilai dapat berdampak terhadap sejumlah sektor kehidupan masyarakat sehingga perlu ada upaya mitigasi sejak dini.
“Langkah-langkah antisipasi sejak dini perlu dipersiapkan, karena berpotensi menyebabkan kekeringan yang cukup ekstrem. Kita mengumpulkan seluruh pihak terkait untuk membahas langkah-langkah strategis yang perlu diambil bersama agar dampaknya terhadap produksi dan komoditas pertanian dapat diminimalisir,” katanya.
Anggota DPRD Kabupaten Sambas Yakob Pujana mengapresiasi komitmen Pemkab Sambas yang telah melaksanakan sejumlah langkah dalam rangka pencegahan bencana.
“Kolaborasi semua pihak, termasuk masyarakat menjadi kunci utama dalam rangka melakukan kesiapsiagaan dalam rangka menghadapi bencana,” katanya.
Baca Juga: Polres Kubu Raya Salurkan 8.000 Liter Air Bersih Setiap Hari untuk Warga Terdampak Kekeringan
Sementara itu, BMKG memprediksi fenomena El Nino kategori kuat masih akan bertahan hingga awal kuartal pertama 2027. Kondisi ini diperkirakan kian mengkhawatirkan karena potensi aktifnya fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) Positif pada September hingga Desember 2026. Fenomena ini dapat memperparah dampak kekeringan dan karhutla.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyebutkan BMKG mengambil langkah proaktif dengan mengintensifkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di berbagai wilayah prioritas. Langkah ini bertujuan menekan lonjakan karhutla dan dampak kekeringan yang meluas.
Puncak musim kemarau diproyeksikan terjadi pada Agustus yang mencakup 48,84 persen wilayah, disusul September sebesar 25,41 persen wilayah daratan. Sebagian besar daerah diperkirakan menghadapi kemarau lebih kering dari kondisi normal. Curah hujan kategori tinggi diprediksi mulai muncul secara bertahap pada Oktober hingga November 2026. (fah)
Editor : Miftahul Khair