PONTIANAK POST – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) belum memengaruhi jumlah penumpang transportasi laut. Namun, KSOP Kelas IV Sintete mengimbau nakhoda memperkuat navigasi dan penumpang menggunakan masker.
Faisal, Staf Keselamatan Pelayaran KSOP Kelas IV Sintete, mengatakan pihaknya melakukan sejumlah langkah di tengah kondisi kabut asap yang terus berlanjut, terutama memperkuat navigasi untuk keselamatan pelayaran.
“Kalau jumlah penumpang, tidak ada penurunan yang signifikan. Sesuai data, kisaran normal 30 hingga 100 orang per hari, termasuk jadwal keberangkatan dan kepulangan kapal tak ada perubahan,” katanya.
Baca Juga: Titik Api Karhutla Kalbar Menurun, Pemadaman di Ketapang dan Kayong Utara Terus Berlanjut
Menurut Faisal, dampak kabut asap yang dirasakan di dunia pelayaran terutama dalam hal penurunan jarak pandang atau restricted visibility. Kondisi tersebut dinilai rawan menyebabkan tubrukan.
“Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan, berdampak jarak pandang terbatas sudah dirasakan di dunia pelayaran. Akibat kabut asap yang lumayan kuat, jarak pandang saat ini antara 1 sampai 2 mil laut,” kata Faisal.
Atas kondisi tersebut, pelayaran sejumlah kapal yang keluar masuk Sintete terganggu. Pihaknya telah menyampaikan imbauan kepada seluruh nakhoda untuk memaksimalkan peralatan navigasi guna mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.
“Kami sudah mengimbau kepada seluruh nakhoda kapal agar memaksimalkan alat-alat navigasi saat berlayar,” katanya.
Baca Juga: Gubernur Kalbar Ria Norsan Respons Gugatan Karhutla, Sebut Status Bencana Nasional Kewenangan Pusat
Pengamatan maksimal di anjungan kapal juga dilakukan dengan memadukan penglihatan visual menggunakan binokular serta pemantauan data dari radar dan AIS secara terus-menerus.
“Kami sudah sampaikan imbauan, untuk melaksanakan lookout atau pengamatan secara maksimal untuk menjamin keselamatan pelayaran, sesuai dengan peraturan Internasional pencegahan Tubrukan di Laut,” katanya.
Pihaknya juga mengharapkan seluruh nakhoda berlayar sesuai track yang sudah digunakan sebelumnya.
“Kami juga menyarankan kepada nakhoda kapal untuk menggunakan track yang sudah digunakan di GPS. Kemudian ketika memasuki alur agar tetap menjaga jarak aman dan kecepatan aman dan ketika melintasi alur tetap menyalakan lampu navigasi pada siang hari dan juga tetap membunyikan isyarat suling ataupun isyarat guna memberitahu kepada kapal-kapal kecil seperti nelayan ataupun perahu bahwa kapal yang lebih besar akan melintas,” katanya. (fah)
Editor : Hanif