PONTIANAK POST – Reaktivasi Pos Lintas Batas (PLB) Temajuk–Telok Melano diarahkan tidak hanya mempermudah perlintasan Indonesia–Malaysia, tetapi juga membuka peluang usaha dan meningkatkan pendapatan masyarakat perbatasan Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat.
Kepala Badan Pengelola Perbatasan Daerah (BPPD) Kabupaten Sambas Septiza mengatakan, manfaat ekonomi dari pembukaan perbatasan perlu ditopang rantai usaha yang melibatkan masyarakat lokal.
"Kalau ingin Temajuk benar-benar menjadi pintu ekonomi, pemerintah tidak cukup hanya membuka PLB. Yang harus dibangun adalah rantai nilai ekonomi di belakang pintu tersebut," kata Septiza kepada Antara, Minggu (20/9).
Pariwisata dan UMKM Jadi Penggerak Ekonomi Temajuk
Septiza mengatakan, PLB Temajuk harus menjadi pintu gerbang yang menghubungkan mobilitas masyarakat, perdagangan, pariwisata, dan kerja sama Indonesia–Malaysia.
Menurut dia, aktivitas pelintas perlu memberi dampak langsung bagi warga, mulai dari belanja produk lokal, berwisata, menginap, hingga menggunakan jasa usaha masyarakat.
Baca Juga: Pelopor Wisata Temajuk Dorong PLB Jadi PLBN dan Jembatan Sungai Cermai Segera Dibangun
Karena itu, pengembangan kawasan diarahkan untuk memperkuat peran masyarakat lokal melalui usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), produk wisata, serta berbagai jasa pendukung.
Septiza menyebut pariwisata menjadi penggerak awal yang realistis karena Temajuk memiliki potensi kawasan pesisir, alam, karakter perbatasan, serta kedekatan dengan Sarawak, Malaysia.
"Targetnya bukan sekadar wisatawan datang, tetapi datang, tinggal, makan, menginap, membeli produk lokal dan menggunakan jasa masyarakat," katanya.
Dalam skema pengembangan tersebut, pariwisata ditempatkan sebagai lokomotif ekonomi, UMKM sebagai penerima manfaat utama, perikanan sebagai basis produksi lokal, dan perdagangan lintas batas sebagai pengungkit pertumbuhan kawasan.
Infrastruktur Dasar masih Perlu Diperkuat
Meski reaktivasi PLB sudah berjalan, Septiza mengatakan pengembangan kawasan Temajuk masih membutuhkan penguatan sarana dan prasarana, pelayanan Customs, Immigration, Quarantine and Security (CIQS), konektivitas, serta fasilitas pendukung lainnya.
Kebutuhan mendesak meliputi jalan, internet dan telekomunikasi, air bersih, listrik, transportasi, perbankan, serta infrastruktur ekonomi.
Pemerintah daerah memperkirakan kebutuhan pembenahan infrastruktur dasar kawasan mencapai sekitar Rp350 miliar hingga Rp400 miliar.
Menurut Septiza, penguatan infrastruktur menjadi bagian penting agar aktivitas lintas batas dapat berkembang dan memberi manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat setempat.
Baca Juga: Ubur-Ubur, Ikan, hingga Lobster, Potensi Perikanan Temajuk Sambas Didorong Tembus Pasar Malaysia
Temajuk Disiapkan Menuju PLBN dan KEK Pariwisata
Selain memperkuat infrastruktur, pengembangan Temajuk diarahkan menuju peningkatan status PLB menjadi Pos Lintas Batas Negara (PLBN).
Pemerintah Kabupaten Sambas juga tengah mempersiapkan pengusulan Temajuk sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata. Konsep yang disiapkan mencakup pariwisata lintas negara, ekowisata, UMKM, ekonomi kreatif, serta jasa pendukung kawasan perbatasan.
"Dengan demikian, reaktivasi PLB Temajuk–Telok Melano diharapkan tidak hanya membuat pergerakan orang menjadi lebih mudah, tetapi juga membuka ruang bagi tumbuhnya usaha, lapangan kerja, dan pendapatan masyarakat di kawasan perbatasan," kata Septiza.*
Editor : Uray RonaldSumber : Antara