PONTIANAK POST - Kualitas udara di Kabupaten Sambas dinyatakan tidak sehat, Senin (21/9). Berdasarkan laporan indeks kualitas udara (AQI+) dan polusi udara PM2,5, indeks berada di angka 151 dengan konsentrasi PM2,5 sebesar 55,8 µg/m³.
Kondisi tersebut terjadi meski berdasarkan rilis BMKG pada Senin (21/9) tercatat nol titik api atau hotspot di Sambas. Kabut asap masih menyelimuti sejumlah wilayah dan disebut didominasi asap kiriman dari daerah lain di Kalimantan Barat yang masih mengalami kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sambas Alwindo mengatakan pihaknya terus memantau sejumlah wilayah. Tim gabungan juga melakukan pendinginan di lokasi yang belum diguyur hujan dengan intensitas tinggi.
Baca Juga: Duka Karhutla Kalbar, Dinkes Telusuri Kabar Tiga Pasien Meninggal Diduga Akibat Terpapar Kabut Asap
“Per hari ini kami masih tetap pantau dan melakukan pendinginan, terutama daerah lahan yang terbakar dan belum ada hujan turun, seperti di Desa Lela, karena hujan belum lebat di sana,” kata Alwindo, Senin (21/9).
Menurut Alwindo, asap yang menyelimuti Sambas didominasi kiriman dari kabupaten lain di Kalbar. Kondisi tersebut dipengaruhi arah angin dari tenggara ke barat daya.
“Karena angin bertiupnya dari arah tenggara ke barat daya, sehingga asap karhutla dari kabupaten lain di Kalbar mengarah ke Kabupaten Sambas. Karena hingga hari ini, sejumlah kabupaten yang ada karhutla dan belum ada hujan. Itu sebabnya asapnya masih tebal dan mengarah ke Sambas,” katanya.
Alwindo menyebutkan sejumlah wilayah di Sambas sudah diguyur hujan sehingga karhutla dapat dipadamkan, termasuk melalui upaya bersama dalam pemadaman.
Baca Juga: PT MTI Salurkan Bantuan Alat Pemadam, Dukung Penanggulangan Karhutla di Kendawangan
“Alhamdulillah Sambas hujan terus, terakhir tanggal 19 September,” katanya.
Sambas juga mendapat bantuan pesawat modifikasi cuaca untuk menyemai NaCl ke langit Sambas. Menurut Alwindo, bantuan modifikasi cuaca tersebut telah dilakukan 25 kali terhitung sejak 18 April 2026 hingga 19 September 2026.
“Sambas dikirim pesawat modifikasi cuaca untuk menyemai NaCl ke langit Sambas. Sambas mendapatkan bantuan modifikasi cuaca sudah 25 kali terhitung dari 18 April 2026 sampai dengan 19 September 2026,” katanya.
Alwindo mengatakan saat ini status Kabupaten Sambas masih tanggap bencana kabut asap akibat karhutla.
Sementara itu, sejumlah warga juga mengaku masih merasakan kabut asap di sejumlah wilayah Sambas meski hujan telah turun. Eri, warga yang beraktivitas menggunakan kendaraan bermotor, mengatakan kabut asap masih cukup terasa sehingga ia selalu mengenakan masker.
“Bisa jadi ini adalah kabut asap kiriman, tapi lumayan kuat kabut asapnya,” kata Eri, Senin (21/9).
Baca Juga: Harga Kelapa di Sambas Naik Jadi Rp3.250 per Kilogram, Petani Bersyukur dan Kembali Semangat Merawat
Hal serupa disampaikan Iin. Ia mengatakan kabut asap dalam beberapa hari terakhir cukup kuat hingga mengganggu jarak pandang.
Anggota DPRD Kabupaten Sambas Yakob Pujana berharap kabut asap segera berakhir dan hujan turun di sejumlah wilayah Sambas serta kabupaten dan kota di Kalbar.
“Mari bersama-sama terus berdoa, semoga hujan membasahi Kalbar, agar karhutla benar-benar selesai. Karena banyak sekali dampak tidak baik akibat bencana ini,” katanya. (fah)
Editor : Miftahul Khair