PONTIANAK POST - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berdampak terhadap kesehatan masyarakat. Puskesmas Sambas mencatat peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan diare selama kabut asap terjadi.
Kepala Puskesmas Sambas dr Ratih Juwita mengatakan, ISPA menjadi kasus yang paling banyak ditemukan. Hingga minggu ke-35, pihaknya menangani sekitar 48 kasus ISPA dan seluruh pasien mendapat perawatan di puskesmas tanpa perlu dirujuk ke rumah sakit. Pasien umumnya mengalami batuk dan sesak napas.
“Di Puskesmas Sambas, memang kasus ISPA yang tinggi semenjak adanya kabut asap sebagai dampak karhutla. Di minggu ke-35 ada 48 kasus. Alhamdulillah karena adanya hujan turun, membuat kasus itu juga turun, dan sekarang tinggal empat kasus,” katanya.
Baca Juga: Kasus ISPA Landak Melonjak Akibat Kabut Asap, Bupati: Puskesmas Siaga 24 Jam
Selain ISPA, Puskesmas Sambas juga menangani empat kasus diare saat musim karhutla. Ratih mengatakan, kasus diare diduga berkaitan dengan konsumsi makanan yang tercemar debu kabut asap atau air yang terpapar kabut asap.
Masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Sambas diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan. Jika harus keluar, warga diminta menggunakan masker serta mencukupi kebutuhan air minum.
“Jadi kepada masyarakat, bisa menghindari kegiatan luar ruangan. Jika terpaksa keluar, pastikan kenakan masker. Kemudian konsumsi air minum cukup dan secara teratur,” ujarnya.
Sebagai langkah pencegahan penyakit akibat kabut asap karhutla, pihaknya juga memberikan edukasi kepada masyarakat, khususnya di wilayah kerja Puskesmas Sambas Anggota DPRD Kabupaten Sambas Yakob Pujana turut mengimbau masyarakat menggunakan masker selama kabut asap masih terjadi. Menurutnya, langkah tersebut menjadi salah satu upaya pencegahan gangguan kesehatan akibat menghirup udara yang tercemar asap karhutla. (fah)
Editor : Miftahul Khair