1.192 Hektare Gambut Sambas Terbakar, Pemulihan Didorong untuk Cegah Karhutla Berulang

Fahrozi PP • Dipublikasikan Jumat, 2 Oktober 2026 | 10:38 WIB
Penampakan lahan gambut yang hangus terbakar beberapa waktu lalu. (ISTIMEWA)
Penampakan lahan gambut yang hangus terbakar beberapa waktu lalu. (ISTIMEWA)

PONTIANAK POST - Lahan gambut yang terbakar dalam karhutla di Kabupaten Sambas perlu segera dipulihkan untuk mengembalikan fungsi ekosistem sekaligus mengurangi risiko kebakaran berulang.

Staff Pemulihan Balai Pengelolaan Ekosistem Gambut dan Mangrove (BPEGM) Kota Pontianak, Safari, mengatakan berdasarkan data BPBD Kalimantan Barat, luas lahan yang terbakar di Kabupaten Sambas mencapai 2.318,48 hektare.

Dari luasan tersebut, sekitar 1.192,84 hektare merupakan lahan gambut dan 1.125,64 hektare lainnya lahan mineral.

Baca Juga: BMKG Ungkap Tantangan OMC Karhutla, Awan Hujan di Selatan Ekuator Minim

“Langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk pemulihan gambut, salah satunya dengan pembasahan melalui sekat kanal, terutama di lahan gambut yang kering dan rawan terbakar (pascaterbakar),” kata Safari, Kamis (1/10).

Menurut dia, sebagian besar kawasan gambut di Sambas yang tersebar di sejumlah kecamatan pernah mengalami kebakaran. Bahkan, terdapat lokasi yang terbakar lebih dari satu kali.

Safari menyebut luas lahan gambut di Kabupaten Sambas mencapai sekitar 194.987 hektare. Kondisi tersebut membuat pemulihan dan upaya menjaga kelembapan gambut menjadi penting, terutama saat cuaca panas dan kering.

“Gambut kalau rusak tidak punya kemampuan lagi untuk menyimpan air. Airnya terkuras, jadi kering, mudah terbakar. Terus kalau ada hujan, mereka tak mampu menyerap air, sehingga air langsung lewat yang bisa sebabkan banjir,” jelasnya.

Baca Juga: Yonif TP Akan Dibangun di Mempawah, Lahan 50 Hektare di Desa Bumbun Masih Berstatus Hutan Negara

Ia mengatakan gambut merupakan lahan basah yang memiliki kemampuan menyimpan air dalam jumlah besar. Karena itu, ketika gambut mengering, fungsi ekologisnya ikut terganggu dan risiko kebakaran meningkat.

Selain mengurangi risiko kebakaran, pemulihan gambut juga penting karena ekosistem tersebut menyimpan karbon dalam jumlah besar. Kerusakan dan kebakaran gambut dapat menyebabkan pelepasan gas rumah kaca.

Karena itu, pihaknya mendorong pembuatan sekat kanal untuk menjaga ketinggian muka air gambut sehingga lahan tetap lembap dan tidak mudah terbakar.

“Untuk pemulihan ekosistem gambut, pihaknya terus mendorong elemen terkait untuk membuat sekat kanal atau bahasa mudahnya bendungan agar lahan gambut airnya tidak kering,” katanya.

Safari menyebut ketinggian muka air yang dijaga melalui sekat kanal ditargetkan sekitar 40 sentimeter dari permukaan tanah sebagai batas untuk mempertahankan kelembapan gambut.
(fah)

Editor : Miftahul Khair
karhutla Sambas pemulihan gambut sekat kanal kalimantan barat lahan gambut