Panen Hampir 10 Ton per Hektare, Petani Milenial Sambas Berbagi Tips Soal Benih hingga Membaca Daun

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Kamis, 8 Oktober 2026 | 02:11 WIB
Petani milenial Sambas, Heri, berbagi tips mengelola sawah setelah melaporkan panen 9,6 ton gabah per hektare. Ketekunan menjadi kunci. (ISTIMEWA)
Petani milenial Sambas, Heri, berbagi tips mengelola sawah setelah melaporkan panen 9,6 ton gabah per hektare. Ketekunan menjadi kunci. (ISTIMEWA)

 

PONTIANAK POST — Heri, petani milenial Sambas asal Desa Serunai, Kecamatan Salatiga, membagikan pengalaman mengelola sawah setelah melaporkan panen hampir 10 ton atau 9,6 ton gabah dari satu hektare lahan. Ia menyebut hasil berdasarkan penimbangan riil itu diperoleh melalui ketekunan, pemilihan benih, serta pemanfaatan teknologi pertanian.

Bagi pria kelahiran 1989 tersebut, keberhasilan bertani membutuhkan proses panjang. Peralatan dan sarana produksi perlu dibarengi konsistensi merawat tanaman serta kemauan belajar dari keadaan di lapangan.

“Kalau hasil itu bisa diperoleh, tentunya ada proses panjang, ketekunan, serta penerapan teknologi pertanian yang lebih modern di lahan sawah,” kata Heri.

Pengalamannya dapat menjadi pintu masuk mengenal sejumlah cara pengelolaan padi. Panduan dari Kementerian Pertanian dan International Rice Research Institute (IRRI) berikut merupakan informasi pelengkap, bukan seluruhnya metode yang telah dikonfirmasi digunakan Heri.

1. Mulai dari Benih Bermutu

Heri menempatkan benih unggul sebagai salah satu faktor pendukung hasil panennya. Namun, varietas yang digunakan belum dirinci dalam keterangannya.

IRRI menjelaskan bahwa benih bermutu membantu menghasilkan pertumbuhan lebih seragam, daya tumbuh yang baik, serta mengurangi kebutuhan penyulaman. Sejumlah penelitian yang dirangkum lembaga tersebut menunjukkan penggunaan benih berkualitas dapat berkontribusi pada peningkatan hasil sekitar 5–20 persen, bergantung pada kondisi penerapannya.

Angka tersebut bukan jaminan kenaikan hasil di setiap sawah. Pemilihan varietas dan mutu benih tetap perlu disesuaikan dengan lingkungan tumbuh serta pendampingan penyuluh.

2. Teknologi Bisa Sesederhana Bagan Warna

Teknologi pertanian tidak selalu berupa mesin besar. Untuk membantu menentukan kebutuhan nitrogen, tersedia alat sederhana bernama bagan warna daun atau leaf color chart.

IRRI menjelaskan bahwa alat tersebut membantu petani menilai kebutuhan nitrogen tanaman melalui warna daun. Petani membandingkan kehijauan daun dengan panel warna sebagai salah satu dasar pengelolaan pupuk.

Daun padi pun dapat memberikan petunjuk tentang kebutuhan tanaman. Pembacaannya perlu mengikuti panduan agar keputusan pemupukan tidak hanya berdasarkan perkiraan.

IRRI juga mencatat bahwa pemberian nitrogen dapat berlebihan pada awal pertumbuhan, ketika kebutuhan tanaman masih kecil, tetapi justru kurang pada tahap berikutnya. Karena itu, waktu pemberian sama pentingnya dengan jumlah pupuk.

3. Lorong Kosong Bisa Punya Manfaat

Di sebagian sawah, barisan padi sengaja diselingi lorong kosong. Pola ini dikenal sebagai jajar legowo.

Menurut Kementerian Pertanian, sistem tersebut mengatur jarak tanam dan populasi dengan memanfaatkan efek tanaman pinggir. Tanaman pada bagian tepi memperoleh akses cahaya yang lebih baik dibandingkan tanaman yang berhimpitan di bagian tengah.

Jadi, lorong kosong bukan berarti lahan terlupakan. Dalam rancangan jajar legowo yang tepat, ruang tersebut juga memudahkan pemeliharaan, pemupukan, dan pengendalian organisme pengganggu tanaman.

Pilihan pola dan jarak tanam perlu mengikuti rekomendasi untuk kondisi setempat. Belum ada keterangan bahwa Heri menggunakan sistem ini.

4. Sawah Tidak Harus Selalu Tergenang

Fakta menarik lainnya, sawah beririgasi dapat dikelola dengan pengairan berselang. IRRI mengenalkan alternate wetting and drying (AWD), yakni pengaturan periode basah dan kering secara terukur untuk menghemat air.

IRRI menyebut teknologi tersebut dapat mengurangi penggunaan air tanpa menurunkan hasil apabila diterapkan dengan benar. Pengairan dilakukan berdasarkan pemantauan kondisi air, bukan membiarkan tanaman kekeringan tanpa kendali.

Metode ini memerlukan kemampuan mengendalikan pemasukan dan pengeluaran air. Penerapannya perlu dibahas dengan penyuluh, terutama apabila karakter tanah dan tata air berbeda dari sawah irigasi yang menjadi sasaran panduan.

5. Kenali Serangga yang Membantu

Tidak semua hewan kecil di sawah merupakan musuh tanaman. Laba-laba dan sejumlah serangga parasitoid menjadi musuh alami hama padi.

IRRI menjelaskan bahwa penyemprotan insektisida pada awal pertumbuhan dapat ikut membunuh organisme bermanfaat tersebut. Gangguan terhadap musuh alami dapat merusak keseimbangan ekosistem sawah.

Karena itu, menemukan serangga tidak otomatis berarti harus menyemprot. Identifikasi jenis hama, tingkat serangan, dan kebutuhan pengendalian bersama penyuluh menjadi langkah penting sebelum menentukan tindakan.

6. Catat Biaya, Jangan Hanya Timbang Panen

Heri ingin terus memperbaiki pengelolaan lahan agar pekerjaannya lebih terukur.

“Tapi apa yang diraih saat ini, menjadi titik awal untuk terus maksimal dalam sektor pertanian, kemudian menggarap lahan dengan terukur,” katanya.

Sebagai langkah praktis, petani dapat membuat catatan sederhana di buku atau telepon genggam. Isinya meliputi tanggal tanam, varietas, pembelian pupuk, biaya tenaga kerja, sewa alat, hasil panen, dan harga jual.

Catatan tersebut membantu membandingkan hasil antarmusim. Panen yang lebih berat belum tentu menghasilkan keuntungan lebih besar apabila biaya produksinya juga meningkat tajam.

Gabah Berbeda dengan Beras

Angka panen Heri perlu dibaca sebagai gabah, bukan beras siap konsumsi. Selain itu, status gabah kering panen atau gabah kering giling perlu diperjelas sebelum hasilnya dibandingkan dengan produktivitas lahan lain.

7. Konsisten dan Mau Bertukar Pengalaman

Di luar urusan teknis, Heri menekankan pentingnya ketahanan mental. Kondisi yang dihadapi ketika turun ke sawah tidak selalu sama dengan teori.

“Kalau ditanya tantangan, tentunya banyak sekali, apalagi di zaman sekarang di tengah tantangan sektor pertanian yang terus berubah,” ujarnya.

Ia membuka diri bagi petani lain yang ingin berdiskusi mengenai pengalaman mengelola tanaman. Harapannya, pengetahuan yang diperoleh dapat ikut membantu perkembangan pertanian di Sambas.

“Kalau ada kawan petani ingin berbagi pengalaman, saya terbuka,” kata Heri. (fah)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
petani milenial Sambas tips bertani padi produktivitas sawah Benih Unggul teknologi pertanian