ENTIKONG – Pasar modern di Entikong, Kabupaten Sanggau perbatasan antara Kalimantan Barat dengan Sarawak selesai dibangun. Kendati demikian, Ketua Asosiasi Pengusaha dan Pedagang Perbatasan Indonesia Raden Thalib mengatakan, keberadaan pasar megah ini harus didukung oleh regulasi. Pasalnya, apabila pasar hanya mengharapkan konsumen masyarakat lokal, maka tidak akan ramai. Pasar modern ini haruslah turut meraup konsumen dari masyarakat Malaysia.
“Kami harus ancungi jempol untuk Pemerintah Joko Widodo yang begitu perhatian terhadap masyrakat perbatasan. Semua yang kami impikan selama ini sudah dibangun, seperti PLBN, Dry Port, jalan paralel, jalan negara sampai pasar modern ini. Tetapi semua infrastruktur megah dan mewah ini harus juga disokong oleh peraturan pendukung, agar tidak sia-sia,” ujarnya.
Menurutnya, agar para pengunjung dari Malaysia bisa ramai berbelanja di sini, maka harus ada kebijakan di sektor imigrasi. Misalnya pembebasan masuk ke kawasan PLBN Entikong dan pasar modernnya tanpa paspor bagi para pelancong luar negeri. “Kalau orang harus diperiksa berjam-jam tentu malas untuk datang. Berikanlah spare area bebas paspor untuk kawasan pasar ini. Ini bisa menjadi objek wisata belanja yang menarik untuk orang Sarawak,” jelas dia.
Sebagai destinasi wisata belanja, dia mengusulkan agar Pasar Modern Entikong mencerminkan kenusantaraan. “Semua produk-produk dari provinsi di Indonesia harus dipajang di sini. Jadi orang Malaysia yang mau cari barang buatan Indonesia, misalnya Bandung atau Jogja bisa ke Entikong. Tidak hanya produk barang saja, bisa juga digelar acara budaya atau pertunjukan rutin di sini, yang memancing turis datang,” sebut dia.
Tidak hanya Pasar Modern Entikong yang terkendala regulasi. Thalib menyebut, Dry Port atau pelabuhan darat Entikong juga masih terbengkalai. Selesai dibangun sejak awal tahun ini, fasilitas ekspor-impor itu belum beroperasi. Lantarannya, Dry Port Entikong belum memiliki kode pelabuhan dari Kementerian Perhubungan.
Sebagai informasi, pasar yang tidak jauh dari Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong ini berasitektur campuran budaya lokal dan kontemporer. Pasar ini terdiri dari pasar tradisional seluas 2.729 m2 dan toserba seluas 3.786 meter persegi. Kawasan perbelanjaan ini sangat luas dengan memiliki kios sebanyak 52 unit, lapak 48 unit dan pusat makanan. Toserba akan diisi 30 unit kios, 5 unit toko, lengkap dengan fasilitas ATM dan pusat makanan. (ars) Editor : Aristono Edi Kiswantoro