SUGENG ROHADI, Sanggau WISATA berkuda memang tengah populer bagi warga Kabupaten Sanggau baru-baru ini. Kuda Sumba jenis Sundel Wood itu adalah satu-satunya yang dapat dilihat dan ditunggangi langsung oleh para pengunjung baik anak-anak maupun dewasa saat berekreasi di water front city.
Pemilik kuda, Muhammad Aulia, pria kelahiran Yogyakarta, 23 Februari 1983 itu sengaja mendatangkan "Boy" dengan ide awal membentuk dan mengembangkan olahraga panahan berkuda. Olahraga yang belum sama sekali ada di Bumi Daranante. Banyaknya prestasi dari para pemanah (atlet panahan) dari Sanggau menginspirasinya mencoba mengembangkan olahraga tersebut.
“Ide awal atau muaranya dari klub panahan. Utamanya panahan berkuda. Nah, sempat punya cita-cita membentuk panahan berkuda. Karena potensi untuk panahan berkuda sangat besar untuk menyumbang prestasi. Apalagi, di Kalimantan Barat, termasuk Sanggau, masih jarang,” ungkapnya.
“Waktu itu, saya mau coba kerjasama dengan sekolah-sekolah untuk mengenalkan ke anak-anak sekaligus melihat langsung hewan bertenaga itu,” sambung pria yang juga sebagai anggota Polri tersebut.
Setelah "Boy" didatangkan ke Sanggau dengan mahar Rp15 juta, diawal masa kepemilikannya itu, Aulia sempat khawatir karena belum memiliki pengalaman memelihara kuda. Sambil belajar melalui youtube dan sumber-sumber lain, akhirnya "Boy" mampu ditaklukkannya.
Ide awal panahan berkuda masih dalam batas keinginan semata. Belum sepenuhnya dapat diwujudkan karena masih minimnya pengalaman. Meskipun dirinya berpengalaman di dunia panahan. Perlahan, mewujudkan cita-citanya itu butuh perjuangan yang berat. Selain itu, "Boy" terkesan hanya hidup dan beraktivitas di kandang dan padang rumput sebagai tempatnya bermain.
“Bahasanya, dari pada kuda itu nganggur, kita lihat ada potensi wisata di kantuk. Jadi kita upayakan membantu mengembangkan wisata berkuda. Apalagi, masyarakat kita di sini (Sanggau,red) jarang melihat (secara langsung) kuda. Ya, supaya kampung kita bisa ada alternatif wisata juga. Supaya orang juga tertarik dengan wisata berkuda,” terangnya.
Dikatakannya, Kuda itu awalnya dioperasikan di Komplek Taman Wisata Sentana. Namun, sejak water front di Komplek Keraton Surya Negara Sanggau dibuka dan difungsikan, "Boy" diajak beralih ke sana.
“Jadi, kuda ini disewakan kepada para pengunjung yang mau merasakan sensasi menaiki kuda. Selama ini kan kita hanya bisa menikmati lewat tontonan di televisi. Nah, di sini, kita bisa lihat kudanya secara langsung. Begitu juga menungganginya,” kata dia.
"Boy" yang merupakan peranakan kuda delman di Pontianak itu, beroperasi setiap hari sekira pukul 16.00 hingga 18.00 WIB. Anak-anak dan remaja yang paling banyak mengantri menunggangi kuda. Bagi mereka yang ingin menungganginya, cukup mengeluarkan Rp25 ribu untuk berkuda sejauh 200 meter pulang dan pergi.
“Iya, si Boy stay di situ setiap hari. Sekira jam empat sampai jam enam sore. Biasanya, saya berdua dengan rekan yang memandu kudanya,” ujar dia.
Ditanya kesulitan memelihara kuda ini, Aulia mengatakan bahwa pemeliharaan kuda tidak terlalu sulit. Kuda ini, intinya, pemilik harus memiliki waktu untuk mengurusnya atau bersama dengan si kuda.
“Kuda ini tipenya 'bertuan' ya. Kalau sudah takluk, dia akan tunduk hanya pada tuannya. Yang paling utama ya kandangnya. Karena kalau kandang kotor bisa membuat kuda sakit, lalu bisa mati. Nah, untuk pemeliharaan ini, saya belajar otodidak dan medsos,” jelasnya.
“Kita harus fight menaklukkan kuda. Bukan fight secara fisik tapi secara mental. Saya belajar terus. Apalagi, kan dari awal memang belum pernah memelihara kuda. Sempat dua Minggu ndak berani ngeluarkan si boy dari kandangnya,” katanya menyambung cerita.
Sebagai satu-satunya (saat ini) yang mengembangkan wisata berkuda di Sanggau, Aulia yang juga atlet panahan Sanggau ini berharap akan banyak alternatif-alternatif wisata di Sanggau. Tidak hanya kuda.
“Mudah-mudahan semakin banyak pengembangan-pengembangan wisata di Sanggau sebagai sarana berekreasi masyarakat. Sehingga orang dari luar daerah juga mau datang ke sini (Sanggau, red),” harapnya. (*) Editor : Administrator