Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Dinamai Sang Istri, Sempat Hebohkan Jagat Maya

Administrator • Rabu, 14 April 2021 | 09:40 WIB
SAJIKAN : Mas HAriyanto saat menyiapkan  bakso pongat miliknya
SAJIKAN : Mas HAriyanto saat menyiapkan bakso pongat miliknya
“Saja pongat kau (memang betul–betul nyaman/enak).” Itulah ungkapan dari sejumlah penikmat kuliner Bakso “Pongat” yang hanya dapat dijumpai di Sanggau. Penamaan Bakso “Pongat” sempat viral di jagat maya. Pemberian nama “Pongat” berhasil menyita perhatian banyak orang. Baik dari dalam maupun luar Kota Sanggau. Omset perharinya juga tidak main–main. Bakso hasil racikan tangan Solo–Sanggau ini bahkan semakin diminati. Pontianak Post menyajikan liputannya.

SUGENG ROHADI, KABUPATEN SANGGAU

BEGITU wartawan datang, Mas Hariyanto (29), si empunya Bakso Pongat langsung menyapa dan menawarkan, “Bakso bang.” Menawarkan dagangannya. Penjualnya tergolong ramah. Diusianya yang masih tergolong muda, pria beranak dua itu mempersilahkan untuk menunggu sejenak di pondok beratap daun miliknya, tepat di depan rumahnya. Tempat dimana pelanggan dapat menikmati bakso racikannya.

Pria asli Solo, Jawa Tengah itu mulai menetap di Sanggau sejak tahun 2014 silam. Sebelum akhirnya menemukan pasangan hidupnya di Sanggau. Maharani, adalah dara asal Sanggau yang dipilih untuk menjalani kehidupan berumahtangganya. Dan, istri tercintanya itulah yang menamai usaha kuliner baksonya dengan nama Bakso “Pongat.”

Di masa awal keberadaannya di Sanggau, dia bekerja menjadi karyawan dengan salah seorang penjual bakso. Saat itu, dia memperoleh bayaran Rp750 ribu. Pekerjaan itu dilakukannya hingga beberapa waktu, sebelum akhirnya mempersunting wanita pujaan hatinya yang telah mengaruniainya dua orang anak.

“Awal ke sini (Sanggau,red) ya itu ikut bantu–bantu jualan bakso juga. Saya selalu ingat dengan bos saya waktu itu, dia bilang hanya bisa memberinya ucapan terimakasih segitu (Rp750 ribu), tapi nanti kedepannya, pengalaman itu akan berguna di kemudian hari. Dan hari ini, saya menjalani usaha ini dari pengalaman sebelumnya ketika ikut bantu–bantu itu. Sebelum betul–betul mantap menekuni usaha Bakso Pongat itu, saya dan istri juga pernah jualan Pentol Kuah,” kenangnya.

Berkenaan dengan Bakso Pongat, Kata “Pongat” sendiri merupakan bahasa keseharian warga Sanggau yang berarti enak atau nyaman. Kata pongat bukan sesuatu yang asing. Namun, bagi masyarakat di luar daerah ini, yang tidak tahu persis artinya akan penasaran dengan maknanya.

Kata “Pongat” inilah yang akhirnya membuat kuliner bakso milik Mas Hariyanto menjadi terkenal luas. Diawali dengan promosi melalui media sosial (Medsos), hingga kini, omsetnya (kotor) sudah mencapai dua juta rupiah per hari.

Dalam kondisi wabah Covid–19, di masa–masa awal saja, dagangan sedikit sepi pembeli. Namun, kondisi itu tidak berlangsung lama. Hingga kini kondisi usahanya sudah kembali normal. Meskipun tetap fluktuatif dari sisi income per harinya. Dirinya juga berusaha untuk tetap menjaga kebersihan dan kehigienisan dagangannya. Apalagi saat ini masih dalam kondisi Pandemi Covid–19.

“Awalnya heboh itu awal tahun 2020. Waktu masih belum Covid–19. Nah, setelah Covid–19 justru ramai. Cuma ya itu, saya tetap usahakan anjuran pemerintah ketika itu. Terutama protokol kesehatan,” ungkapnya.

“Kalau pengunjung dari luar daerah juga banyak. Biasa mereka memang sengaja datang ke sini untuk mencicipi baksonya. Ya itu juga karena saya promosi lewat medsos itu tadi,” ujar pria dengan perawakan sedikit gempal itu.

“Alhamdulillah sih bang. Kalau kotornya ya dikisaran dua juta (rupiah) per hari. Ada kalanya juga tidak sampai segitu. Tapi rata–ratanya ya segitu,” sambung pria yang baru memulai usahanya itu pada pertengahan tahun 2019 lalu.

Untuk saat ini, Bakso Pongat hanya dapat dijumpai di Lingkungan Setompak, Kelurahan Sungai Sengkuang, Kota Sanggau. Ditanya mengenai rencana pengembangan usahanya itu, dia mengaku pernah memikirkannya, namun karena belum mempunyai tenaga tambahan (Karyawan,red), akhirnya niat tersebut diurungkan untuk sementara waktu.

Mengenai bahan utama pembuatan bakso, dia menyebut sama dengan kebanyakan produksi bakso lainnya. Baik di Sanggau maupun di tempat lain. Namun, untuk daging sapi, sebagai bahan baku bakso, dia memilih daging paha sapi. Utamanya yang berada di bagian paha belakang sapi.

“Kalau saya daging sapinya yang daging paha, tapi yang bagian belakangnya. Bagi saya, itu yang bagus. Itu juga untuk menjaga kualitas baksonya. Kalau untuk bahan lainnya sama saja seperti kebanyakan cara pembuatan bakso. Membuatnya (bakso,red) ya dibantu sama istri,” ujarnya.

Dikatakannya, sedikitnya enam kilogram bakso dalam sekali produksi untuk usahanya tersebut. Sedangkan dalam sehari, rata–rata disiapkan sekira 200 porsi yang dihargai dikisaran Rp15 ribu per mangkok. Harga yang masih dalam kategori standar untuk ukuran kuliner bakso di Bumi Daranante–sebutan Kabupaten Sanggau.

Sejumlah penikmat Bakso Pongat yang ditemui harian ini, juga mengatakan bakso milik Mas Haryanto enak dan nyaman. Sehingga wajar bila banyak sekali yang meminatinya dan mau jauh–jauh datang ke tempatnya untuk menikmati kuliner tersebut. Walaupun kondisi Pandemi Covid–19 belakangan ini memang banyak mempengaruhi usaha kecil masyarakat. Termasuk dagangan Mas Haryanto, si empunya Bakso Pongat. (*) Editor : Administrator
#bakso