Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Desa Temiang Mali Sanggau Hasilkan Gula Aren 300 Kilogram Perhari

A'an • Jumat, 27 Oktober 2023 | 13:29 WIB

 

ILUSTRASI:Bahan baku pembuatan gula aren berasal dari pohon enau atau pohon aping dalam bahasa daerah di tempat tersebut.
ILUSTRASI:Bahan baku pembuatan gula aren berasal dari pohon enau atau pohon aping dalam bahasa daerah di tempat tersebut.

 

SANGGAU - Produksi gula aren di Desa Temiang Mali, Kecamatan Balai cukup menjanjikan. Per hari, petani di desa tersebut dapat memproduksi 300 kilogram gula aren untuk kebutuhan pasar lokal maupun luar daerah. Namun, masih terbatasnya peralatan dan sumber daya manusia mengakibatkan proses produksi belum sepenuhnya maksimal.

Kepala Desa Temiang Mali, Arpin kepada Pontianak Post menceritakan, gula aren memang menjadi salah satu produksi yang cukup menjanjikan di daerahnya. Sejauh ini, produksi yang dihasilkan dijual oleh petani ke pasar lokal maupun luar daerah dengan harga Rp40 ribu per kilogram. Setelah berada di pasaran, harganya akan bervariasi dan lebih tinggi.

Khusus di Desa Temiang Mali, bahan baku pembuatan gula aren berasal dari pohon enau atau pohon aping dalam bahasa daerah di tempat tersebut. Sejauh ini, petani masih memanfaatkan pohon enau atau aping yang tumbuh liar di hutan. Arpin mengaku, belum ada yang menanamnya di areal pertanian atau perkebunan secara khusus.

"Jadi memang pohon-pohon ini sudah tumbuh sejak lama. Kalau di areal perkebunan atau ditanam secara khusus memang belum ada. Pohon-pohon ini kan sudah tumbuh sejak lama dan itulah yang kemudian dimanfaatkan oleh para petani lokal," ungkapnya, Kamis (26/10).

Arpin juga mengatakan produksi gula aren tersebut masih dilakukan oleh perorangan atau belum ada kelompok tani tertentu yang fokus dalam mengelola potensi tersebut. Memang cukup disayangkan bila potensi tersebut belum dapat dimaksimalkan untuk kepentingan ekonomi rakyat secara besar-besaran seperti di Sumatera maupun lainnya.

"Petani kita di sini masih bersifat perorangan. Untuk Desa Temiang Mali saja baru ada belasan petani yang mengelola gula aren ini. Padahal potensi produksi dalam sehari bisa untuk di desa ini saja bisa 300 kilogram per hari," katanya.

Untuk ukuran cetakan gula aren mulai dari ukuran setengah hingga satu kilogram. Pencetakan gula aren tersebut juga masih dilakukan secara manual. Begitu halnya dengan proses pembuatan yang masih menggunakan wajan dan kayu bakar serta sejumlah peralatan tradisional lainnya.

"Produksi kita saat ini baru untuk memenuhi pasar di Temiang Mali dan beberapa daerah lain. Tetapi, itupun belum mampu memenuhi pasar dengan volume besar karena sejumlah faktor, baik karena belum ada kelompok tani maupun peralatan modern untuk pengolahan. Memang beberapa waktu lalu, kita sudah coba arahkan ke Bumdes dengan penyertaan modal, tetapi karena Kendala SDM akhirnya belum bisa maksimal dilakukan," terangnya. (sgg)

Editor : A'an
#Desa Temiang Mali #gula aren