Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Masa Depan Trenggiling Butuh Sentuhan Magis Para Jurnalis

Sugeng Rohadi • Jumat, 2 Mei 2025 | 16:54 WIB
Suasana pelatihan investigasi tematik trenggiling yang berlangsung di Hotel Harris Pontianak belum lama ini.
Suasana pelatihan investigasi tematik trenggiling yang berlangsung di Hotel Harris Pontianak belum lama ini.

PONTIANAK POST - Masih minimnya isu-isu Trenggiling yang diangkat media membuat eksistensi hewan dilindungi tersebut terus terancam. Apalagi, tren perdagangan ilegal satwa liar dilindungi seperti trenggiling di Kalimantan Barat terus mengalami peningkatan.

Berdasarkan hasil penelusuran data yang dihimpun tim kerja Yayasan Kolase, jumlah kasus trenggiling yang bergulir dari hutan hingga ke pengadilan di sepanjang 2024 mencapai tujuh kasus. Pengadilan negeri juga menyita barang bukti sisik trenggiling sekira 624,68 kilogram.

Dengan tren jumlah kasus yang terbilang tinggi, hanya tersentuh 52 kali pemberitaan media di Kalbar. Jumlah tersebut baru sebatas kuantitas. Belum masuk pada aspek kualitas. Atas dasar itu, Yayasan Kolase menghadirkan 30 jurnalis se-Kalbar dalam sebuah forum pelatihan investigasi jurnalistik tematik trenggiling pada 29-30 April 2024.

"Kami mengundang kawan-kawan jurnalis dari berbagai platform media, baik cetak maupun digital, termasuk radio dan televisi untuk mengikuti pelatihan itu," ujar Andi Fachrizal, Co-Founder Yayasan Kolase.

Menurutnya, pelatihan dilakukan untuk meningkatkan kemampuan jurnalis dalam melakukan investigasi dan pelaporan tentang kasus trenggiling. Selain itu, membangun jaringan kerja antara jurnalis, aktivis lingkungan, dan pihak berwenang dalam mengatasi kasus trenggiling.

"Bagian penting dari pelatihan ini adalah konsolidasi pikiran, agar kerja-kerja jurnalistik dapat menciptakan perubahan ke arah yang lebih baik, termasuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya perlindungan trenggiling," jelasnya.

Pelatihan investigasi ini, lanjut dia, menghadirkan sejumlah narasumber dan pelatih sesuai kompetensinya seperti Joni Aswira Putra, Ketua Umum The Society of Indonesian Environmetal Journalists (SIEJ) dan jurnalis senior Pontianak Post Arief Nugroho.

Materi yang disuguhkan diantaranya meliputi Pengenalan Satwa Liar Trenggiling; Gambaran Umum Perdagangan Satwa Liar di Indonesia; Jurnalisme Investigasi; Perencanaan dan Teknik Membuat ToR Investigasi Kasus Trenggiling; Teknik Peliputan, Penyamaran, dan Observasi Kasus Trenggiling; Teknik Mengemas Laporan Investigasi Kasus Trenggiling; dan Kode Etik Liputan Investigasi.

"Semua materi itu tertuang dalam silabus agar kami dapat mengukur indikator keberhasilan sebuah pelatihan. Semoga ke depan para jurnalis dapat mengalihkan perhatiannya pada isu trenggiling. Satwa lindung yang sepi sentuhan, kendati kasusnya terus menanjak," terangnya.

Yayasan Kolase berharap para jurnalis yang mengikuti pelatihan ini dapat memahami kasus trenggiling secara tajam dan dalam, dan tahu peran mereka sebagai aktor yang bertugas menjaga akurasi informasi hingga ke ruang baca dan ruang dengar publik

Maria, salah satu jurnalis yang hadir sebagai peserta menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada tim kerja Yayasan Kolase karena agenda pelatihan ini telah mendongkrak pengetahuannya tentang satwa dengan nama latin Manis Javanica ini.

"Selama ini saya hanya mengenal nama trenggiling. Belum paham betul manfaatnya di alam, perilakunya, termasuk ancamannya. Sekarang saya paham. Semoga ke depan berkesempatan meliput," ujarnya.

Jurnalis lainnya, Doris Pardede mengemukakan pelatihan investigasi tersebut sangat bermanfaat bagi jurnalis yang selama ini hanya terbiasa dengan liputan reguler. Pelatihan ini mengajarkan tidak sekadar meliput peristiwa, tetapi bagaimana mendalami kasusnya, teknik, etika, dan perencanaannya. (sgg)

Editor : Miftahul Khair
#sisik #Yayasan Kolase Kalbar #pelatihan #berita #Trenggiling #jurnalis